Kepala Instalasi Laboratorium RSAH dr Herbanu Haryo Pramono SpPK menjelaskan, pemeriksaan CA 125 dilakukan untuk mendeteksi keberadaan protein terkait tumor dalam darah. CA 125 mengalir lewat aliran darah dan kadarnya yang tinggi dalam darah mengindikasikan keberadaan kanker ovarium.
Perlu diketahui bahwa tes ini belum bisa dijadikan sebagai sumber tunggal dan kurang spesifik. Perlu adanya pemeriksaaan lanjutan seperti USG, CT scan, atau histopatologi. Pemeriksaan CA 125 lebih berfungsi untuk deteksi dini dan monitoring. Sehingga, jika memang ditemukan tumor, masih dalam stadium awal dan lebih mudah diatasi.
Sementara itu, dr M. Novan Afandy SpOG menjelaskan, kanker ovarium pada stadium awal sulit terdeteksi. Sebab, gejalanya hampir sama seperti gangguan atau infeksi pada saluran pencernaan. Gejala awal yang patut diwaspadai yaitu sakit perut, mual dan muntah, serta perubahan pada kebiasaan buang air besar (konstipasi/ sulit buang air besar). Selain itu, gejala lainnya yakni perut selalu terasa kembung.
Novan menambahkan, gejala lainnya perut dapat membengkak, berat badan pasien pun bisa menurun, kemudian sakit saat berhubungan intim. Serta adanya frekuensi buang air kecil yang meningkat.
Menurut Novan, kanker ovarium sering dialami oleh wanita usia 55 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinanan, wanita di bawah usia tersebut dapat terjangkit.
Selain pemeriksaan darah CA 125 sebagai upaya deteksi dini kanker ovarium, diperlukan juga pemeriksaan penunjang lain. Di antaranya pemeriksaan USG transvaginal, CT scan, serta MRI. Semua itu dilakukan demi menegakkan diagnosis.
Semakin dini terdeteksi, kata Novan, maka risiko berat dapat dihindari dan pengobatan akan lebih efektif. Harapan hidup seorang pengidap kanker ovarium juga akan semakin tinggi.
Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi terkait tumor ovarium bisa konsultasi ke klinik Spesialis Obgyn RSAH. ”Bila membutuhkan pemeriksaan darah CA 125, bisa datang ke Instalasi Laboratorium RSAH di Jalan Raya Gambiran 225 Gambiran, Banyuwangi,” ujarnya. (*/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono