Koordinator PKRS Riena Dhewi Lestari SGz menyampaikan, tema yang diangkat kali ini adalah penurunan angka stunting dan wasting. Angka prevalensi stunting dan wasting masih cukup tinggi di Indonesia, yaitu dari empat balita, ada satu balita mengalami stunting, yakni kondisi gagal tumbuh.
Penurunan angka stunting dan wasting (kekurangan gizi) merupakan salah satu program nasional yang menjadi concern pemerintah pusat, juga pemerintah daerah. Mengingat jumlahnya yang masih tinggi, maka peran aktif rumah sakit sangat diperlukan dalam menyukseskan program nasional ini.
Kali ini, tim PKRS RSAH memberikan penyuluhan kesehatan akan pentingnya makanan sehat dan bergizi seimbang bagi ibu hamil dan balita. Hal itu agar tumbuh kembang janin dan balita baik serta terhindar dari stunting dan wasting.
Setelah melahirkan, ibu langsung dapat memberikan ASI sejak dini kepada bayinya. Kontak kulit antara ibu dan bayi dapat membantu penyesuaian suhu tubuh bayi baru lahir. Hal ini juga memungkinkan bayi terpapar bakteri baik dari kulit ibu. Sehingga, akan dapat memberikan perlindungan dari penyakit menular, serta membantu membangun sistem imunitas (kekebalan) tubuh bayi
ASI mengandung kolostrum yang kaya akan sel darah putih dan antibodi, terutama imunoglobulin A. Persentase kandungan protein yang lebih besar, mineral, dan vitamin larut lemak (A, E, dan K). Kolostrum dapat bertindak sebagai ”vaksin” pertama anak dan dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit. ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir sampai dengan usia enam bulan. Selanjutnya, bayi dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Tim PKRS juga mendemonstrasikan cara membuat MPASI yang baik dengan memperhatikan nilai gizi di setiap komponennya. Makanan sehat dan bergizi seimbang mengandung cukup kalori, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Dengan asupan makanan sehat dan bergizi seimbang, maka pertumbuhan anak menjadi baik dan sehat. (*/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono