Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

ASN Borong Pangan Bergizi untuk Anak Stunting

Syaifuddin Mahmud • Rabu, 3 Agustus 2022 | 20:32 WIB
BERLANJUT: Bupati Ipuk membeli produk pangan di toko yang berlokasi di sekitar kediamannya di Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, dalam gerakan Belanja ke Pasar Tradisional dan UMKM periode Juli lalu. (Dini for Radar Banyuwangi)
BERLANJUT: Bupati Ipuk membeli produk pangan di toko yang berlokasi di sekitar kediamannya di Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, dalam gerakan Belanja ke Pasar Tradisional dan UMKM periode Juli lalu. (Dini for Radar Banyuwangi)
BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gerakan ”Belanja ke Pasar Tradisional-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)” yang digelar rutin sejak tahun lalu bakal berlanjut pada bulan ini. Setelah pada Juli lalu (7/7) kalangan aparatur sipil negara (ASN) dan berbagai komunitas memborong beragam produk pangan untuk membantu meningkatkan gizi anak penderita stunting, aksi serupa bakal digeber Senin pekan depan (8/8).

Sejumlah kebutuhan gizi anak, seperti susu, telur, kacang hijau, biskuit bayi, protein hewani, sayur, dan lainnya menjadi prioritas belanja ASN untuk disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan. Selain untuk membantu anak penderita stunting, program ini juga ditujukan untuk mendorong geliat ekonomi masyarakat kabupaten the Sunrise of Java. Untuk itu, pihak pemkab bakal mengutamakan produk pangan lokal.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pihaknya ingin menjadikan gerakan Belanja ke Pasar Tradisional dan UMUM sebagai upaya gotong royong penanganan stunting. ”Termasuk kita bantu ibu hamil berisiko tinggi. Nanti hasilnya didonasikan untuk penanganan stunting. Hasilnya akan disalurkan kepada yang membutuhkan. Kita sudah punya data detail, by name by address di setiap wilayah garapan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas),” ujarnya, Selasa (2/8).

Ipuk menambahkan, hasil dari gerakan belanja pada Agustus ini akan langsung didistribusikan ke ribuan anak yang telah terdata. ”Termasuk kita tujukan ke anak-anak yatim piatu yang berpotensi mengalami stunting,” kata mantan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Banyuwangi tersebut.

Ipuk menuturkan, penanganan stunting di Banyuwangi dilakukan keroyokan alias secara bergotong royong. Tidak hanya menjadi tugas puskesmas dan Dinas Kesehatan (Dinkes), tetapi juga melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). ”Penyebab stunting bukan hanya masalah kesehatan, bisa juga karena faktor lingkungan dan banyak lainnya. Maka, penanganannya pun tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua OPD harus bergerak bersama,” tuturnya.

Dalam penanganan stunting, Banyuwangi telah mengidentifikasi data by name by address berikut faktor risikonya. Setelah dilakukan identifikasi, penanganan dilakukan secara gotong royong lintas sektoral. Misalnya karena faktor ekonomi, anak nelayan miskin mengalami malnutrisi sehingga terindikasi stunting. ”Selain anak akan rutin diberikan makanan dan vitamin tambahan, orang tuanya juga diintervensi untuk peningkatan ekonominya,” tegas Ipuk.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, untuk percepatan penurunan dan penanganan stunting, Pemkab Banyuwangi telah meluncurkan program ”Banyuwangi Tanggap Stunting” (BTS). Dalam program BTS, terdapat 5 langkah. ”Di antaranya adalah identifikasi balita stunting (by name, by address/coordinate, by problem); lalu perbaiki problem faktor penyebab stunting, misalnya masalah ekonomi, kondisi kesehatan, gizi, dan lainnya,” pungkasnya. (sgt/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Pemenuhan Gizi #cegah stunting #Gizi Anak #Bayi Kerdil