Kedok Urus Bansos, Pria Misterius Kuras ATM Nenek 78 Tahun di Banyuwangi

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Kasun Bayatrejo Widyantoro menemani lansia yang menjadi korban ATM Bansos dikuras OTK untuk membuat kartu baru di BNI Kecamatan Muncar, Rabu (30/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Kasun Bayatrejo Widyantoro menemani lansia yang menjadi korban ATM Bansos dikuras OTK untuk membuat kartu baru di BNI Kecamatan Muncar, Rabu (30/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Modus penipuan dengan menyamar sebagai petugas pemerintah kembali menyasar warga lanjut usia (lansia). Kali ini, Katinah, 78, warga Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, diduga menjadi korban penipuan oleh orang tidak dikenal (OTK) yang mengaku sebagai pegawai kecamatan pengurus bantuan sosial (bansos). Kartu ATM BNI Merah Putih miliknya diduga ditukar, sementara saldo bantuan yang selama ini diterima justru dikuras pelaku.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penipuan berkedok pelayanan sosial masih mengintai masyarakat, terutama lansia yang rentan menjadi sasaran pelaku kejahatan. Bermodal penampilan rapi, tas, dan pengakuan sebagai petugas pemerintah, pelaku diduga berhasil mengelabui korban hingga menyerahkan kartu ATM beserta nomor identifikasi pribadi (PIN).

Katinah merupakan warga Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo. Selama ini, ia menerima bansos lansia sebesar Rp 200 ribu setiap bulan melalui kartu ATM BNI Merah Putih. Namun, bantuan yang seharusnya menjadi penopang kebutuhan sehari-hari itu diduga raib setelah kedatangan tamu tak dikenal di rumahnya.

Menyamar sebagai Pegawai Kecamatan, Pelaku Datang Saat Korban Sendirian

Katinah menuturkan, kejadian tersebut berlangsung sekitar awal September lalu. Ia mengaku lupa tanggal pasti kedatangan pelaku. Namun, saat itu diperkirakan sekitar waktu salat Duhur dan dirinya sedang berada seorang diri di depan rumah.

Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi dengan membawa tas datang dan menyapanya. Pelaku bahkan menyebut nama Katinah seolah telah mengenal korban dan memahami lingkungan tempat tinggalnya.

"Waktu tepatnya lupa, kira-kira awal September sekitar waktu salat Duhur. Saat itu saya di depan rumah seorang diri," ujar Katinah.

Sapaan tersebut membuat Katinah tidak menaruh curiga. Terlebih, pria itu kemudian memperkenalkan diri sebagai pegawai kecamatan yang bertugas mengurusi bansos.

"Saat datang ia langsung menyapa, 'Bu Katinah nggih'. Kemudian orang itu memperkenalkan diri dan mengaku bahwa ia dari kecamatan yang bertugas mengurusi bansos," bebernya.

Karena percaya dengan pengakuan tersebut, Katinah mempersilakan pelaku masuk ke rumah. Tanpa menyadari adanya potensi kejahatan, ia kemudian mengikuti permintaan tamunya, termasuk menyerahkan data diri, kartu ATM BNI Merah Putih, hingga PIN kartu tersebut.

ATM Dikembalikan, Korban Tak Sadar Kartunya Telah Ditukar

Katinah mengaku sempat menyerahkan kartu ATM kepada pelaku untuk diperiksa. Setelah proses pengecekan, kartu tersebut dikembalikan sehingga ia merasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Namun, pelaku diduga telah menukar kartu ATM asli milik korban dengan kartu lain. Katinah baru menyadari kejanggalan setelah pelaku menyampaikan bahwa bantuan lansia bisa diambil setiap tiga bulan sekali.

Padahal, sebelumnya Katinah terbiasa mencairkan bantuan setiap bulan, sekitar tanggal 25, dengan nominal Rp 200 ribu.

"ATM saya berikan, namun usai dilakukan pengecekan ATM itu dikembalikan. Ia juga menyuruh untuk mengambil bantuan setiap tiga bulan sekali, padahal sebelumnya setiap satu bulan sekali atau sekitar tanggal 25 saya ambil dengan nominal Rp 200 ribu," terangnya.

Instruksi tersebut membuat Katinah tidak langsung menyadari bahwa kartu ATM yang dipegangnya diduga telah diganti. Ia baru mengetahui masalah sebenarnya ketika hendak mengecek saldo bantuan pada Jumat (25/9).

Saat mencoba mengakses ATM melalui sebuah toko di dekat rumahnya, kartu tersebut ternyata tidak dapat digunakan. Pemilik toko yang membantu pengecekan juga menemukan kejanggalan pada fisik kartu.

Jika sebelumnya kartu ATM milik Katinah mencantumkan namanya, kartu yang kini dipegangnya justru tidak lagi memuat identitas tersebut.

"Awalnya tidak tahu kalau diganti kartunya. Saat cek di toko dekat rumah, katanya tidak bisa diakses. Pemilik toko itu juga mengatakan bahwa ATM-nya berbeda dengan milik saya sebelumnya. Kalau dulu itu ada nama saya, namun usai didatangi orang yang mengaku pegawai kecamatan, di ATM yang saya pegang sudah tidak tertera nama saya," jelasnya.

Uang Bansos Telanjur Diambil, ATM Langsung Diblokir

Kepala Dusun (Kasun) Bayatrejo, Widyantoro, membenarkan adanya laporan dugaan penipuan yang dialami Katinah. Setelah menerima informasi tersebut, ia langsung mendampingi korban untuk mendatangi kantor BNI terdekat guna memeriksa kondisi rekening dan kartu ATM.

Hasil pemeriksaan pihak bank menunjukkan bahwa saldo bantuan milik Katinah telah diambil. Untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut, kartu ATM tersebut kemudian langsung diblokir.

Pihak bank juga membantu Katinah mengurus kartu ATM BNI Merah Putih yang baru agar penyaluran bantuan sosial dapat kembali diakses.

"Saat dicek, memang uangnya sudah diambil. ATM itu kemudian langsung diblokir oleh pihak bank. Sedangkan Mbah Katinah dibuatkan kembali kartu ATM Merah Putih baru," kata Widyantoro.

Warga Diminta Waspada Modus Penipuan Berkedok Pengurusan Bansos

Widyantoro mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima kedatangan orang yang tidak dikenal, terlebih jika mengaku sebagai petugas pemerintah atau pihak yang mengurusi bantuan sosial.

Menurut dia, kasus serupa berpotensi menimpa siapa saja. Bahkan, saat mendampingi Katinah mengurus kartu ATM baru, petugas bank menyampaikan bahwa beberapa orang lain juga pernah mengalami kejadian serupa.

"Saat saya membantu membuat ulang ATM Merah Putih, petugas bank mengatakan beberapa orang juga mengalami kejadian serupa," pungkasnya.

Kasus yang dialami Katinah menjadi peringatan penting bagi penerima bansos agar tidak mudah menyerahkan kartu ATM, PIN, maupun data pribadi kepada orang yang belum terverifikasi identitas dan kewenangannya.

Masyarakat juga perlu memastikan setiap informasi mengenai pencairan bantuan sosial melalui saluran resmi, seperti pemerintah desa, kecamatan, atau pihak bank penyalur. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah penyalahgunaan data dan menghindarkan penerima bantuan dari kerugian serupa. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Penipuan bansos lansia ATM BNI Merah Putih Penipuan di Banyuwangi Modus petugas kecamatan Bansos lansia Tegaldlimo