RADAR BANYUWANGI – Niat menagih utang justru berujung petaka. Seorang perangkat Desa Jrebeng, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, berinisial SUP, 48, menjadi korban pembacokan saat mendatangi rumah warga yang memiliki tunggakan utang, Selasa (11/8) siang.
Peristiwa berdarah tersebut terjadi di sekitar Lapangan Voli Desa Tunggak Cerme, Kecamatan Wonomerto. Korban mengalami sejumlah luka akibat sabetan senjata tajam dan harus mendapatkan penanganan medis sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Insiden ini bermula ketika SUP mendatangi rumah RI, 50, warga yang disebut memiliki utang sebesar Rp3 juta kepada korban. Utang tersebut dikabarkan telah menunggak lebih dari satu tahun tanpa penyelesaian.
Menurut informasi yang dihimpun, upaya penagihan sempat memicu adu mulut antara korban dan pihak keluarga debitur. Situasi memanas hingga diduga terjadi ancaman menggunakan senjata tajam.
Adik korban, Hotim, mengatakan tunggakan tersebut sudah lama menjadi persoalan. Bahkan, setiap kali diingatkan untuk membayar, respons yang diterima keluarga korban justru bernada emosi.
“Sudah lama menunggak. Dulu ditagih lewat telepon malah marah-marah,” ujarnya.
Cekcok Memanas, Berujung Pembacokan
Ketegangan antara kedua pihak tidak berhenti di lokasi awal. Setelah terjadi cekcok, korban disebut sempat meninggalkan lokasi. Di sisi lain, RI diduga menghubungi anaknya, KUS, 39, yang saat itu sedang bekerja agar segera pulang.
Merasa khawatir terjadi sesuatu terhadap kakaknya, Hotim bersama seorang kerabat membuntuti korban dari belakang menuju lokasi.
Kekhawatiran itu ternyata menjadi kenyataan. Setibanya di dekat rumah RI, KUS yang diduga terlibat dalam perselisihan langsung menyerang korban menggunakan senjata tajam.
Akibat serangan tersebut, SUP mengalami luka di beberapa bagian tubuh, termasuk punggung, bahu, dan tangan kiri.
“Saya panik sampai jatuh dari motor. Lutut kanan saya terluka. Saat mencoba melerai, tangan kanan saya juga terkena sabetan,” ungkap Hotim.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera berdatangan untuk membantu menghentikan keributan dan memberikan pertolongan kepada korban.
Dievakuasi Warga, Dirujuk ke Rumah Sakit
Kepala Desa Tunggak Cerme, Musta’in, mengaku menerima informasi adanya perkelahian sekitar pukul 13.30 WIB. Saat tiba di lokasi, korban sudah dalam kondisi terluka dan berada di pangkuan adiknya.
“Kami bersama warga langsung membantu evakuasi. Korban dibawa ke Puskesmas Wonomerto menggunakan kendaraan roda tiga, kemudian dirujuk ke RSUD Ar Rozy,” jelasnya.
Karena kondisi luka yang cukup serius, korban selanjutnya dikabarkan harus menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit di Jember.
Keluarga korban berharap aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
“Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Hotim.
Polisi Dalami Motif dan Kronologi
Kapolsek Wonomerto AKP Bagus Purnama membenarkan adanya insiden pembacokan yang diduga dipicu persoalan utang piutang. Namun, hingga kini polisi masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak untuk memastikan kronologi secara utuh.
“Saat ini kami masih melakukan pengumpulan keterangan dan pendalaman terhadap seluruh pihak yang terkait. Proses penyelidikan masih berjalan,” ujarnya.
Polisi juga akan menelusuri dugaan ancaman, keterlibatan para pihak, serta asal-usul senjata tajam yang digunakan dalam kejadian tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan utang piutang yang tidak diselesaikan dengan baik berpotensi memicu konflik serius. Aparat mengimbau masyarakat menempuh jalur hukum atau mediasi dalam menyelesaikan sengketa keuangan agar tidak berujung pada tindak kekerasan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Bromo