RADARBANYUWANGI.ID - Skandal besar mengguncang dunia pendidikan tinggi nasional. Sindikat joki Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 yang diduga beroperasi selama hampir satu dekade akhirnya dibongkar polisi. Mengejutkan, sebanyak 114 peserta disebut berhasil lolos ke perguruan tinggi impian menggunakan jasa joki, mayoritas mengincar program studi Kedokteran.
Pengungkapan kasus ini menjadi alarm serius bagi sistem seleksi masuk perguruan tinggi di Indonesia. Polisi menyebut praktik curang tersebut sudah berjalan sejak 2017 dan melibatkan jaringan terorganisasi lintas daerah.
Kapolrestabes Surabaya, Luthfie Sulistiawan, mengungkapkan hingga Kamis sore (7/5/2026), pihaknya telah menangkap 14 tersangka yang diduga menjadi bagian dari sindikat joki UTBK-SNBT.
“Sejak tahun 2017 sampai 2026, tersangka menerima klien kurang lebih 150 orang. Dari keterangan mereka, sebagian besar memang mengincar Kedokteran,” ujar Luthfie dalam konferensi pers di Surabaya.
Mayoritas Klien Incar Fakultas Kedokteran
Polisi mengungkap mayoritas peserta yang menggunakan jasa joki memilih program studi Kedokteran karena tingkat persaingannya sangat ketat dan materi ujian dianggap lebih sulit dibanding jurusan lain.
Menurut Luthfie, tingginya tekanan untuk lolos Fakultas Kedokteran menjadi salah satu alasan utama maraknya praktik perjokian.
“Tes Kedokteran relatif lebih sulit atau membutuhkan kecerdasan yang lebih dibanding lainnya,” katanya.
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi telah mengantongi identitas 114 peserta yang diduga lolos masuk kampus menggunakan jasa sindikat tersebut. Para peserta itu tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di sejumlah wilayah Indonesia.
Tidak hanya di Jawa Timur, jaringan ini diduga menjangkau kampus di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kalimantan.
Polisi Sita Blanko KTP hingga Printer Pembuat Identitas
Dalam penggerebekan tersebut, aparat menemukan berbagai barang bukti yang menunjukkan sindikat bekerja secara profesional dan sistematis.
Barang bukti yang diamankan antara lain uang tunai Rp290 juta, printer kartu HID Fargo, blanko KTP kosong, dokumen identitas palsu, ijazah, serta perangkat untuk membuat kartu identitas.
Selain itu, polisi juga menyita stempel instansi pendidikan, puluhan SIM, laptop, MacBook Pro, memory card, telepon genggam, hingga foto ukuran 2x3 dan dokumen administrasi peserta UTBK.
“Prinsipnya sindikat joki UTBK ini harus dibongkar supaya tidak ada lagi aksi yang mencederai dunia pendidikan kita,” tegas Luthfie.
14 Tersangka Ditahan, Polisi Dalami Peran Masing-Masing
Ke-14 tersangka yang telah ditahan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Mereka berinisial HRS, IKP, PIF, FP, BPH, DP, MI, RZ, HRE, BH, SP, SA, ITR, dan CDR.
Polisi masih mendalami peran masing-masing tersangka, termasuk kemungkinan adanya aktor lain yang terlibat dalam jaringan perjokian nasional tersebut.
Penyidik juga menelusuri aliran dana dan pola perekrutan klien yang selama ini memanfaatkan jasa joki untuk lolos UTBK-SNBT.
Modus Joki UTBK Terungkap di Unesa
Kasus ini pertama kali mencuat setelah panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 menemukan indikasi kecurangan pada hari pertama pelaksanaan UTBK, Selasa (21/4/2026).
Salah satu temuan berasal dari pusat UTBK di Universitas Negeri Surabaya.
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengungkapkan ada peserta laki-laki berusia sekitar 23-24 tahun yang diduga menjadi joki untuk peserta lain.
Modus yang digunakan cukup rapi. Pelaku memanfaatkan foto yang sama dengan kartu UTBK tahun sebelumnya lalu mengeditnya untuk mengelabui pengawas.
“Kita menemukan potensi kecurangan dengan tingkat kemiripan foto hampir 95 persen. Foto ini digunakan di dua SPMB berbeda,” ujar Martadi.
Panitia kemudian melakukan verifikasi ke sekolah asal peserta. Hasilnya, ditemukan perbedaan antara foto di ijazah dan identitas peserta yang mengikuti ujian.
Dugaan pemalsuan dokumen pun menguat sebelum akhirnya kasus tersebut dilaporkan ke kepolisian.
Dunia Pendidikan Tercoreng
Kasus sindikat joki UTBK-SNBT ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah seleksi masuk perguruan tinggi di Indonesia.
Praktik curang yang berlangsung bertahun-tahun itu dinilai merusak prinsip meritokrasi dan keadilan dalam dunia pendidikan tinggi.
Pengungkapan sindikat ini juga memunculkan pertanyaan besar terkait sistem pengawasan seleksi nasional yang selama ini dianggap ketat.
Polisi memastikan penyelidikan akan terus dikembangkan untuk membongkar seluruh jaringan, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain di luar pelaku lapangan. (*)
Editor : Ali Sodiqin