RADARBANYUWANGI.ID – Aksi penipuan dengan nilai fantastis nyaris terjadi di Banyuwangi. Tiga warga negara asing (WNA) asal Thailand hampir kehilangan hingga Rp 2 miliar dalam modus jual beli tokek.
Namun, skenario itu runtuh berkat kejelian seorang warga desa yang curiga terhadap gerak-gerik mencurigakan di kampungnya.
Adalah Rendra Bayu Alwana, 47, warga Dusun Krajan, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, yang menjadi sosok kunci menggagalkan aksi tersebut.
Baca Juga: Bupati Situbondo Mas Rio Raih KWP Award 2026, Diapresiasi atas Inovasi Digital Pelayanan Publik
Atas keberaniannya, Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan memberikan penghargaan langsung, Minggu (19/4).
Penghargaan itu bukan sekadar simbolik. Polisi menilai tindakan Rendra sebagai contoh nyata peran masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban (kamtibmas), di tengah maraknya modus penipuan lintas negara.
“Ini bentuk apresiasi kami kepada warga yang peka terhadap lingkungan. Sosok seperti Saudara Rendra inilah yang kami harapkan menjadi role model bagi masyarakat lainnya,” tegas Kapolresta Rofiq.
Bermula dari Kecurigaan
Peristiwa ini bermula pada Rabu (15/4), ketika Rendra melihat sebuah minibus berpelat kuning berputar-putar di sekitar kampungnya selama sekitar 30 menit. Merasa janggal, ia memutuskan menghentikan kendaraan tersebut.
Baca Juga: Resmi! Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Rincian Besaran dan Aturan Lengkapnya
Awalnya, ia mengira rombongan tersebut adalah wisatawan yang tersesat. Namun, kecurigaannya meningkat saat para penumpang tidak memahami bahasa Indonesia maupun Inggris.
“Saya tanya mau ke mana, ternyata jawabnya pakai bahasa Thailand. Sopirnya bilang mau ke Dusun Sukamade,” ujar Rendra.
Padahal, akses menuju Sukamade terkenal sulit. Medannya berupa jalur offroad, melintasi hutan dan sungai, serta berjarak sekitar 21 kilometer dari lokasi mereka. Tidak mungkin ditempuh dengan kendaraan biasa.
Kondisi itu membuat Rendra semakin yakin ada yang tidak beres.
Terbongkar Lewat Google Translate
Dengan memanfaatkan Google Translate, Rendra akhirnya mengetahui tujuan sebenarnya rombongan tersebut: transaksi jual beli tokek bernilai miliaran rupiah.
“Saya jelaskan kalau di Sukamade tidak ada tokek seperti yang mereka cari. Mereka tidak bisa bahasa Inggris, jadi saya pakai translate,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Situbondo Mas Rio Raih KWP Award 2026, Diapresiasi atas Inovasi Digital Pelayanan Publik
Namun, para WNA itu sempat ragu dengan penjelasan Rendra. Mereka sudah terlanjur percaya pada seseorang bernama Ali, yang mengaku sebagai penjual tokek langka.
Tak ingin kecolongan, Rendra mengambil langkah lebih jauh. Ia meminta para WNA menghubungi Ali, lalu mengambil alih percakapan.
Interogasi Singkat Ungkap Kejanggalan
Dalam percakapan via telepon, Rendra mulai menginterogasi Ali. Ia menanyakan identitas, alamat, hingga nama perangkat desa setempat. Jawaban yang diberikan tidak jelas dan berbelit.
“Saya tanya detail, tapi dia tidak bisa jawab. Dari situ saya yakin ini penipuan,” ungkap Rendra.
Ali bahkan sempat melarang Rendra ikut campur. Namun, Rendra bersikeras.
“Saya bilang, ini desa saya. Kalau ada yang jelek, nama desa saya yang kena, apalagi ini menyangkut turis asing,” tegasnya.
Modus Terbongkar, Nomor Diblokir
Upaya Rendra membuahkan hasil. Ia berhasil meyakinkan para WNA bahwa mereka sedang menjadi target penipuan. Kecurigaan semakin kuat saat pelaku tiba-tiba memblokir seluruh nomor komunikasi.
Sebelumnya, Rendra sempat menyarankan agar penjual datang langsung dengan imbalan uang bensin Rp 1 juta. Namun, permintaan itu justru memicu pelaku menghilang.
Dari pengakuan korban, satu tokek yang disebut “tokek emas” dihargai Rp 1 miliar. Total transaksi yang direncanakan mencapai Rp 2 miliar.
“Untungnya transaksi belum terjadi. Saya tidak tahu apakah mereka sudah transfer uang muka atau belum,” tambah Rendra.
Diduga Jaringan Penipuan Internasional
Rendra juga mengendus adanya indikasi jaringan penipuan terorganisir. Pasalnya, pelaku mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa.
“Di chat pakai bahasa Thailand. Saat telepon dengan mereka juga pakai bahasa Thailand. Tapi waktu bicara dengan saya, dia pakai bahasa Jawa,” bebernya.
Menurutnya, hal itu menunjukkan kemungkinan pelaku merupakan bagian dari jaringan penipuan lintas negara.
Korban Selamat, Dipulangkan
Setelah sadar dari jebakan penipuan, ketiga WNA Thailand tersebut mengucapkan terima kasih kepada Rendra. Mereka kemudian memutuskan kembali ke negaranya melalui Bandara Juanda Surabaya.
Baca Juga: Senam Massal ASN Situbondo Bareng Kepala BKN, Dilanjut Tanam Pohon di Alun-Alun Kota Santri
Rendra bahkan mengawal mereka hingga wilayah Gambiran untuk memastikan perjalanan mereka aman.
Sementara itu, aparat desa memastikan bahwa sosok bernama Ali sudah lama tidak berada di wilayah tersebut dan tidak diketahui keberadaannya saat ini.
Polisi: Peran Warga Sangat Krusial
Kapolresta Banyuwangi menegaskan, kasus ini menjadi peringatan keras atas maraknya modus penipuan dengan target warga asing.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.
“Kepekaan seperti ini sangat penting. Ini tidak hanya menyelamatkan korban, tapi juga menjaga citra daerah,” pungkasnya. (rio/sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin