Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kasus Tokek Rp 2 M di Sukamade Diselidiki, Polisi Pastikan Tak Ada Peternak dan Sosok “Ali” Misterius

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 17 April 2026 | 06:00 WIB
PELOSOK: Warga melintas di jalur terjal menuju Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. (Feri for Radar Banyuwangi)
PELOSOK: Warga melintas di jalur terjal menuju Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. (Feri for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Dugaan penipuan jual beli tokek senilai Rp 2 miliar di Dusun Sukamade, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, memasuki babak baru. Polisi memastikan tidak ada peternak tokek di lokasi, sementara sosok pria bernama “Ali” yang disebut-sebut sebagai pelaku justru kian misterius.

Temuan ini mempertegas dugaan bahwa kasus tersebut merupakan modus penipuan terstruktur yang menyasar warga negara asing (WNA). Hingga kini, identitas pelaku utama masih belum terungkap.

Kapolsek Pesanggaran, Kompol Maskur, menegaskan hasil pengecekan di lapangan tidak menemukan keberadaan orang bernama Ali maupun aktivitas peternakan tokek di wilayah Sukamade.

“Tidak ada di sana orang bernama Ali. Peternak atau pemilik tokek juga tidak ada. Selain itu, belum ada transaksi uang sama sekali,” tegasnya, Kamis (16/4).

Pernyataan ini sekaligus mematahkan klaim awal yang menyebut adanya transaksi bernilai fantastis. Polisi memastikan, tiga WNA asal Thailand yang datang ke lokasi belum sempat melakukan pembayaran apa pun.

Meski belum ada kerugian materi, aparat tetap serius menelusuri kasus ini. Maskur menegaskan penyelidikan akan difokuskan pada pelacakan identitas pelaku, termasuk nomor telepon yang digunakan dalam komunikasi.

“Kami masih minta bukti-bukti, termasuk nomor HP terduga pelaku. Ini penting karena menyangkut keamanan wilayah. Jangan sampai daerah kami dianggap tidak aman,” tandasnya.

Namun, keterangan berbeda justru muncul dari perangkat desa setempat. Kepala Dusun Sukamade, Feri Nafaro, mengungkap bahwa nama Ali memang pernah dikenal sebagai warga, meski sudah lama tidak tinggal di sana.

“Dulu memang pernah ada yang namanya Ali, tapi sudah lama tidak di sini. Dan belum tentu juga dia yang melakukan,” ujarnya.

Perbedaan informasi ini membuka kemungkinan bahwa identitas “Ali” sengaja digunakan sebagai kedok untuk meyakinkan calon korban.

Kasus ini sendiri mencuat setelah tiga WNA asal Thailand nyaris menjadi korban penipuan dengan nilai transaksi mencapai Rp 2 miliar. Beruntung, aksi tersebut gagal setelah warga setempat lebih dulu curiga.

Kecurigaan bermula dari gerak-gerik sebuah minibus berpelat kuning yang berputar-putar di sekitar kampung selama kurang lebih 30 menit. Warga yang merasa janggal kemudian mencoba menghentikan dan menanyakan tujuan mereka.

“Saat ditanya, ternyata orang asing yang sedang mencari seseorang,” kata Feri.

Dari situlah terungkap dugaan skenario penipuan berkedok jual beli tokek bernilai tinggi—komoditas yang kerap dijadikan umpan dalam praktik penipuan karena harganya yang sering dibesar-besarkan.

Kasus ini kembali menyoroti maraknya modus penipuan berbasis komoditas “langka” yang menyasar investor atau pembeli dari luar daerah hingga luar negeri. Nama besar nilai transaksi kerap dijadikan alat untuk memancing kepercayaan korban.

Kini, polisi berpacu mengungkap siapa dalang di balik identitas “Ali”. Jika tidak segera terungkap, bukan tidak mungkin modus serupa kembali digunakan dengan target korban yang berbeda.

Di sisi lain, aparat juga berupaya menjaga citra keamanan kawasan Sukamade yang dikenal sebagai destinasi wisata. Kasus ini diharapkan tidak menimbulkan stigma negatif terhadap wilayah tersebut. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#polisi Banyuwangi #penipuan tokek Banyuwangi #Sukamade Pesanggaran #WNA Thailand #kasus tokek Rp 2 miliar