RADARBANYUWANGI.ID – Perkembangan terbaru kasus tragis pembacokan ibu kandung hingga tewas di Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, mulai menemui titik terang.
Pelaku, Adi Setyawan, 31, kini mengaku menyesali perbuatannya setelah menjalani pemeriksaan kejiwaan oleh tim medis.
Pengakuan itu disampaikan Adi saat menjalani pemeriksaan bersama ahli kejiwaan dari RS Graha Medika Gambiran, dr Agustina Sjenny Sp.KJ, pada Selasa malam (7/4).
Pemeriksaan sempat terhenti karena kondisi mental pelaku yang mengalami tekanan dan kesulitan menyampaikan kronologi kejadian.
Namun sekitar pukul 18.45 WIB, proses pemeriksaan kembali dilanjutkan.
Di hadapan dokter, Adi mulai menceritakan kondisi yang dialaminya sebelum insiden pembacokan yang menewaskan ibu kandungnya, Suratun, 65.
“Saya seperti orang bingung, perut saya sakit, dan ada bisikan di telinga saya,” katanya di depan dokter.
Dalam keterangannya, Adi mengaku saat kejadian sekitar pukul 02.00 WIB, dirinya merasa tidak nyaman dan tiba-tiba emosi.
Ia kemudian mengambil parang miliknya dan melakukan pembacokan terhadap korban.
“Ingat ambil parang, kemudian gelap. Tidak sadar,” katanya.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses pendalaman kondisi kejiwaan pelaku.
Di akhir pemeriksaan, Adi juga mengaku menyesal atas perbuatannya.
Ia bahkan menyatakan siap bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukannya.
“Saya menyesal. Siap tanggung jawab,” ujarnya sambil melihat beberapa anggota Polsek Pesanggaran yang berada di ruang pemeriksaan.
Meski demikian, pengakuan pelaku belum bisa menjadi dasar penentuan langkah hukum secara langsung.
Pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi pemeriksaan kejiwaan dari dokter spesialis.
Kanitreskrim Polsek Pesanggaran, Aiptu Heru Prasetyo, mengatakan hasil pemeriksaan psikologis dan psikiatris masih dalam proses penyusunan.
“Kita tunggu dulu hasilnya, masih akan disusun dokter,” ujarnya.
Menurut Heru, dari hasil pendalaman sementara, keluarga juga memberikan informasi tambahan terkait kondisi mental Adi dalam beberapa tahun terakhir.
Keterangan keluarga menyebut, sekitar enam tahun lalu pelaku kerap mengalami gangguan kejiwaan yang kambuh berulang kali.
Informasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam proses penyidikan.
“Keluarganya bilang sekitar enam tahun lalu, dia (Adi) kerap kambuh. Dan itu sering terjadi. Itu juga akan jadi pertimbangan,” terangnya.
Selain itu, saat pemeriksaan, Adi juga mengaku sempat mengonsumsi minuman beralkohol jenis arak pada Senin siang (30/3), sehari sebelum kejadian.
Keterangan tersebut saat ini masih didalami penyidik.
Polisi berencana mengonfirmasi pengakuan tersebut kepada rekan yang disebut ikut minum bersama pelaku.
“Ini akan kami konfirmasi ke rekan yang katanya ikut minum dengan dia, benar atau tidak. Kemudian ada beberapa cerita lain dari dia yang perlu dicari kebenarannya, karena ada beberapa yang tidak valid,” tandasnya.
Sementara itu, dr Agustina Sjenny menegaskan pihaknya belum dapat menyampaikan hasil akhir pemeriksaan.
Menurut dia, proses penyimpulan membutuhkan waktu karena menyangkut kondisi mental pelaku serta keterangan tambahan dari keluarga.
“Ini menyangkut nasib seseorang ya. Kita tidak bisa terburu-buru. Hasilnya nanti akan saya informasikan ke penyidik,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Kampung Baru Lampon, Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran, digegerkan oleh peristiwa tragis pada Selasa dini hari (31/3).
Adi Setyawan nekat membacok ibu kandungnya sendiri hingga meninggal dunia.
Dalam kejadian itu, seorang pria bernama Dedi, 45, yang tinggal serumah dengan pelaku juga turut menjadi korban dan mengalami luka-luka.
Korban saat ini masih menjalani perawatan di RS Al Huda Gambiran. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin