RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas blasting (peledakan) dalam penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu yang dilakukan PT Bumi Suksesindo (BSI) ternyata berdampak negatif bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Pesanggaran.
Selain dikhawatirkan merusak laut, blasting yang menurut warga rutin dilakukan setiap hari itu, membuat warga tidak nyaman. Suara ledakan yang keras, kerap membuat warga kaget dan terganggu.
Salah satu warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Sutris, 60, mengatakan, suara ledakan dari aktivitas blasting itu seperti suara petir. "Sering saya kira itu geluduk (petir) pas ke luar ternyata tidak hujan, berarti karena tambang," ujarnya.
Sutris yang rumahnya tidak sampai satu kilometer dari Petak 56 yang saat ini berpotensi dieksplorasi oleh PT BSI itu mengatakan blasting itu kerap diikuti asap gelap yang keluar daei permukaan pegunungan yang mulai terkikir itu. "Di belakang (gunung) Umpak Lego itu (gunung) Tumpang Pitu, asapnya keluar dari sana," katanya.
Sutris mengaku tidak bisa memastikan darimana asal ledakan itu. Pasalnya, dua area yang disebut pria asli Dusun Ringinagung itu sama-sama aktif dieksplorasi. "Mungkin kalau suaranya jelas, itu di sini (Petak 56) tapi kalau sedikit samar dari Tumpang Pitu. Tapi sama-sama keras suaranya," ucap dia.
Bukan hanya blasting, setiap magrib, saat aktivitas penambangan dimulai, warga bisa mendengar langsung mesin-mesin besar mengikis gunung temoat mereka mencari penghidupan. "Suaranya meraung, kalau malam kan di sini sepi. Suaranya itu bisa jelas terdengar," ucapnya.
Tego, 45, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung yang getol menolak aksi penambangan mengatakan penambangan itu juga berdampak pada para nelayan. "Rumah saya dekat dengan pantai, dan hampir semua nelayan mengeluh karena sulit cari ikan," ungkapnya.
Bukan bualan semata, kondisi gunung tumpang pitu bisa dilihat secara jelas dari Pantai Mustika atau Pelabuhan Perikanan Pancer. Dari sana, bisa tampak gunung tersebut sudah mengalami kerusakan parah. "Pecahan blasting dulunya kerap jatuh ke laut," katanya.
Di sisi lain, menurut keyakinan warga, aktivitas penambangan emas, menyebabkan hujan enggan turun di sekitar Kecamatan Pesanggaran, khususnya di Dusun Pancer.
“Dulu, kalau di atas gunung (Tumpang Pitu) itu sudah gelap, berarti akan hujan. Sekarang, gunungnya sudah gundul karena ditambang, hujan sangat jarang di sini, sehingga cadangan airnya juga tidak ada,” katanya.
Sampai saat ini, pihak PT BSI masih belum bisa menyampaikan konfirmasi sebagai jawaban keluhan warga tersebut. (sas/aif)
Editor : Sigit Hariyadi