RADARBANYUWANGI.ID - Kondisi memprihatinkan melanda SDN 4 Setail di Dusun Jalen Darungan, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Gedung sekolah yang temboknya penuh retakan dan atapnya nyaris roboh membuat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) terganggu.
Bahkan, ruang kelas IV terpaksa dikosongkan sejak dua pekan lalu karena dinilai membahayakan keselamatan siswa.
Keterbatasan ruang belajar akibat kerusakan itu memaksa dewan guru mengambil langkah darurat. Dua rombongan belajar kini digabung dalam satu ruangan, dengan dua guru mengajar secara bersamaan.
“Sejak ruang kelas rusak, kelas III dan kelas V kami satukan dalam satu ruangan. Ada dua guru dan dua kegiatan belajar sekaligus,” kata Wakil Kepala SDN 4 Setail, Andi Widodo, kemarin (23/10).
Situasi itu membuat siswa kesulitan memahami pelajaran karena suasana kelas menjadi bising dan tidak kondusif. Namun, ruang kelas yang rusak tidak bisa lagi digunakan karena atapnya terancam ambruk.
“Kami diminta memindahkan siswa karena dua ruang kelas lain juga berpotensi roboh,” ujarnya.
Sebelum benar-benar dikosongkan, ruang kelas IV sempat menimbulkan kekhawatiran. Setiap kali hujan turun, terdengar suara patahan kayu dari atap.
“Pernah waktu itu hujan deras, terdengar suara ‘kretek-kretek’. Saya langsung minta anak-anak keluar kelas, yang penting selamat dulu,” tutur Andi.
Untuk mencegah siswa bermain di area berbahaya, pihak sekolah memasang pembatas dari tali plastik seperti police line dan menempelkan peringatan di dinding retak.
“Kami beri tanda agar siswa tidak mendekat,” tambahnya.
Minimnya ruang belajar membuat sebagian siswa sempat belajar di teras rumah warga yang berada di depan sekolah.
“Dulu sempat KBM di teras warga, tapi sekarang tidak lagi karena terlalu sempit,” ujarnya.
Dewan guru berinisiatif membangun ruang kelas darurat secara swadaya pada 2023 di dekat kamar mandi siswa.
Ruang berukuran 4x5 meter itu dibangun tanpa bantuan pemerintah. “Ini hasil iuran para guru. Ada yang nyumbang batako, ada yang bantu tenaga,” papar Andi.
Kondisi sekolah yang rusak parah juga berdampak pada minat pendaftaran siswa baru. Orang tua mulai enggan menyekolahkan anaknya di SDN 4 Setail karena khawatir dengan keselamatan anak-anak.
“Dulu siswanya banyak, tapi sekarang berkurang karena wali murid mulai ragu,” ungkap Andi.
Menanggapi kondisi tersebut, Camat Genteng, Satrio, mengaku telah meninjau lokasi bersama Pemerintah Desa Setail dan meneruskan laporan ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.
“Kami sudah cek ke lokasi dan langsung laporkan ke Dispendik. Semoga segera ada perbaikan,” ujarnya.
Dengan jumlah siswa sekitar 80 anak, para guru dan murid kini menjalani KBM dalam kecemasan.
Mereka berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan memperbaiki gedung sekolah agar kegiatan belajar bisa berjalan dengan aman dan nyaman.
“Kami hanya ingin siswa bisa belajar dengan tenang tanpa takut atap runtuh,” pungkas Andi.
Editor : Agung Sedana