RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena alam langka terjadi di langit Banyuwangi, Senin (14/10) siang. Sinar matahari terasa sangat terik, namun anehnya, tidak muncul bayangan benda tegak di permukaan tanah. Peristiwa ini dikenal sebagai hari tanpa bayangan atau kulminasi utama.
Prakirawan Stasiun BMKG Kelas III Banyuwangi, Dedy Arza, menjelaskan bahwa fenomena hari tanpa bayangan terjadi ketika posisi matahari berada tepat di atas kepala pengamat.
“Kondisi ini membuat bayangan benda tegak lurus tampak menghilang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Menurut Dedy, fenomena tersebut terjadi ketika deklinasi matahari sama dengan lintang geografis wilayah pengamatan.
“Untuk Banyuwangi yang berada di lintang 8,2° LS, hari tanpa bayangan merupakan bagian dari gerak semu tahunan matahari yang berpindah dari utara ke selatan dan sebaliknya setiap tahun,” terangnya.
Fenomena ini biasanya terjadi dua kali dalam setahun. Pada tahun 2025, kulminasi utama di Banyuwangi terjadi pada 14 Oktober 2025 pukul 11.08 WIB.
“Waktu pastinya bisa sedikit berbeda antarwilayah, tergantung posisi koordinat masing-masing,” tambahnya.
Meski durasinya singkat hanya berlangsung beberapa detik hingga menit, dampaknya cukup terasa.
Suhu udara meningkat tajam hingga mencapai 35 derajat Celsius, karena posisi matahari sedang tinggi dan tutupan awan sangat sedikit.
“Itulah sebabnya beberapa hari terakhir terasa lebih panas dari biasanya,” jelas Dedy.
Fenomena alam ini menarik perhatian masyarakat, termasuk kalangan pelajar. Salah satu guru SDN 1 Genteng, Oktyas Wahyu Kurniawati (28), mengaku memanfaatkan momen tersebut sebagai sarana belajar.
“Kami ajak siswa ke luar kelas untuk melihat langsung peristiwa hari tanpa bayangan. Ini pengalaman belajar yang menarik bagi mereka,” ujarnya.
Editor : Agung Sedana