RADARBANYUWANGI.ID - Debit air Sungai Sukamade di tengah hutan Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, beberapa pekan terakhir menurun.
Kesempatan itu dimanfaatkan warga untuk memperbaiki jembatan rakit yang menjadi satu-satunya penghubung menuju kampung mereka.
Dusun Sukamade berada di kawasan terpencil, dikelilingi hutan dan perkebunan. Untuk mencapai lokasi ini, warga harus menyeberangi sungai besar yang belum memiliki jembatan permanen.
“Menuju Dusun Sukamade harus melewati sungai besar,” kata Kepala Dusun Sukamade, Ferri Nafaro.
Menurut Ferri, selama ini warga Desa Sarongan yang hendak ke Dusun Sukamade atau sebaliknya harus menyeberang sungai menggunakan rakit.
“Sungai itu akses utama kami. Kalau debit air naik dan banjir, aktivitas warga langsung terganggu,” ujarnya.
Jembatan rakit yang menjadi jalur utama warga tidak bisa difungsikan saat debit air tinggi karena berisiko hanyut terbawa arus.
“Jembatan rakit sebelumnya rusak akibat banjir. Sekarang kami perbaiki lagi,” katanya.
Perbaikan jembatan dilakukan secara gotong royong dengan dana hasil swadaya warga. Material yang digunakan pun sederhana, berupa kayu dan tong bekas.
“Semula kami hanya memakai rakit tarik. Sekarang kami buat jembatan rakit agar lebih aman,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Ferri menambahkan, keberadaan jembatan ini sangat membantu mobilitas warga yang hendak keluar-masuk Dusun Sukamade.
“Dulu kalau pakai rakit, hanya bisa digunakan pagi sampai sore. Kalau malam, warga tidak bisa menyeberang,” terangnya.
Namun jembatan rakit ini hanya bisa digunakan saat debit air sungai sedang kecil. Jika air kembali meninggi, warga harus kembali mengandalkan rakit yang rawan terseret arus.
“Sebentar lagi akan dibangun jembatan permanen. Kami masih menunggu realisasinya dan semoga segera terwujud,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana