Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Horeg! Karnaval Sempu Abaikan Aturan: Getar, Bising, Rampung Dini Hari

Salis Ali Muhyidin • Senin, 8 September 2025 | 17:36 WIB
Peserta karnaval sound horeg di Desa/Kecamatan Sempu yang membuat bising dan berlangsung hingga dini hari pada Sabtu (6/9).
Peserta karnaval sound horeg di Desa/Kecamatan Sempu yang membuat bising dan berlangsung hingga dini hari pada Sabtu (6/9).

RADARBANYUWANGI.ID - Karnaval dalam rangka HUT ke-80 RI dengan mengundang sound horeg di Desa/Kecamatan Sempu pada Sabtu (6/9) malam, tampaknya mengabaikan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang telah ditetapkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi.

Acara yang digeber sejak pukul 10.00, berlangsung hingga pada Minggu (7/9) dini hari.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng, sekitar pukul 00.00 WIB masih ada peserta yang mengusung sound horeg masih atraksi di jalan, dan diperkirakan baru melewati garis finish sekitar pukul 00.30 WIB.

Padahal, SKB yang ditandatangani Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani bersama jajaran Forkopimda, disepakati pawai sudah rampung pukul 00.00 WIB.

Dalam SKB yang ditetapkan pada Jumat (25/7) itu, penggunaan perangkat sound system dibatasi hanya enam subwoofer saja.

Tapi dari 27 peserta pawai sound, mayoritas menggunakan sekitar delapan subwoofer.

“Suaranya sangat keras, di kuping dan di dada terasa. Kalau lihat terlalu dekat, saya tidak kuat,” kata salah satu penonton, Murtini (41) asal Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore.  

Penggunaan sound system yang melebihi batas itu, tentu memaksa setiap regu peserta menggunakan kendaraan besar, seperti truk untuk mengangkut perangkat sound hingga membuat badan jalan desa menuju fasilitas umum seperti stasiun kereta api (KA) tertutup.

“Jalan protokol tertutup, pengguna jalan tidak bisa lewat. Orang mau ke stasiun harus jalan,” ucapnya.

Meski saat melintas di depan tempat ibadah sound selalu dimatikan, tapi pengeras suara itu kembali dibunyikan tidak sampai 100 meter dari pintu keluar masjid.

Hal itu membuat suara azan yang sedang berkumandang bias dengan suara musik, seperti di Masjid Al Gufron Sempu.

“Tadi di depan situ memang mati (sound), tapi pas sudah lewat hidup lagi,” katanya. 

Bahkan, titik atraksi dan letak panggung kehormatan diletakkan sekitar 100 meter di utara tembok Puskesmas Sempu.

Di titik atraksi itu, peserta akan menampilkan tarian sesuai koreonya.

“Startnya di sebelat barat sana, arah Wadung (Dusun Tugung), finish kata orang-orang di selatan balai desa (Sempu),” tuturnya di lokasi menonton dekat Masjid Al Gufron, Dusun Krajan, Desa Sempu.

Sekadar informasi, SKB itu ditandatangani Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra, Dandim 0825 Letkol Arh Joko Sukoyo, dan pejabat daerah lainnya itu, sejatinya juga didukung oleh tokoh agama, budayawan, hingga Ketua Keluarga Besar Sound Banyuwangi.

Itu untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan mencegah potensi konflik sosial akibat penggunaan sound system berlebihan. 

Camat Sempu, Mujito mengaku sudah menginformasikan dan meminta para panitia peringatan HUT ke-80 RI di desa-desa se Kecamatan Sempu untuk menaati aturan tersebut.

“Kami dari kecamatan sudah meneruskan SKB sesuai yang sudah disepakati itu. Sebelumnya kami juga sudah rapat beberapakali dan menyepakati batas akhir penggunaan sekitar pukul 22.00 WIB,” katanya.

Kepala Stasiun Kalisetail, Ibnu Affandi memastikan keberangkatan penumpang kereta api lancar.

Meski tersendat karena akses terputus akibat penutupan jalan, stasiun sudah meminta penumpang untuk berangkat lebih awal.

“Selain itu, penumpang juga bisa naik dari stasiun lain, seperti di Stasiun Kalibaru,” cetusnya.

Editor : Agung Sedana
#sempu #sound horeg #banyuwangi