RADARBANYUWANGI.ID – Perpustakaan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi menutup bulan Kartini dengan kegiatan sarat makna kemarin (30/4).
Tepatnya dengan kegiatan peluncuran dan bedah buku ”Warna Ramadan Banyuwangi” (Catatan-catatan Literasi di Bulan Suci).
Antologi artikel yang seluruhnya ditulis oleh perempuan ini sekaligus untuk mengapresiasi perjuangan Kartini dalam bidang literasi.
Sesuai judulnya, penulis dalam buku ini mengangkat beragam tema nuansa Ramadan di Banyuwangi, salah satunya ngerandhu buko.
Sejumlah tradisi unik ngerandhu buko di berbagai penjuru Bumi Blambangan diungkapkan dengan gaya penulisan sederhana, menyerupai reportase berita kekinian.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi Zen Kostolani yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai bahwa kegiatan ini merupakan jalinan kerja sama yang baik dalam bidang kepenulisan, terutama yang dibukukan.
Menurut dia, buku karya para penulis yang dikomandoi oleh Kepala Perpustakaan Untag Banyuwangi Muttafaqur Rohmah itu juga memberikan warna baru dalam penulisan di Banyuwangi.
Selain menambah koleksi buku bagi kedua belah pihak, menurut Zen menulis adalah bentuk nyata meneladani perjuangan Kartini.
”Apalagi, para penulis buku ini adalah para ’Kartini’ dari Untag Banyuwangi,” ujar Zen.
Rektor Untag Banyuwangi Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja turut memberikan apresiasi.
Menurutnya, buku ini tidak hanya menyuguhkan gambaran dan informasi tentang kekayaan budaya berpuasa di Banyuwangi, tetapi juga mengandung pemikiran kritis yang ditulis dengan apik berdasarkan pengamatan langsung di lapangan.
”Apa yang mereka tulis bukan sekadar opini semata, melainkan hasil dari observasi yang nyata,” tuturnya.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri yang bertindak sebagai pembedah buku, menyatakan bahwa meskipun fenomena budaya Ramadan dibaca dengan perspektif kekinian, dia tetap menemukan keterhubungan kuat antara peristiwa budaya masa lalu dan masa kini.
Hal ini membuktikan bahwa kebudayaan tidak pernah berdiri dari nol, melainkan selalu melanjutkan dari mata rantai yang sudah ada sebelumnya.
Kesadaran ini penting untuk memastikan bangunan kebudayaan ke depan tetap berpijak pada kearifan lokal sebagai fondasi lahirnya kebudayaan baru. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin