Gerhana bulan yang bertepatan dengan 14 Ramadan 1446 H ini akan terjadi Kamis (13/3) malam hingga Jumat 14/3) pagi.
Menurut NASA, di Huntsville, Amerika Serikat, proses gerhana akan dimulai dalam fase parsial pada pukul 10.57 malam pada tanggal 13 Maret. Kemudian berakhir pukul 05.00 pagi pada tanggal 14 Maret.
"Totalitas akan dimulai pada pukul 01.26 pagi dan berakhir pada pukul 02.31, dengan gerhana maksimum terjadi pada pukul 01.58," tulis NASA.
Totalitas tersebut akan terjadi selama hampir satu jam.
Saat terjadi Gerhana Bulan Total, posisi Bumi sejajar antara bulan dan matahari. Posisi ini otomatis seolah akan menyembunyikan bulan dari sinar matahari.
Saat peristiwa tersebut terjadi maka satu-satunya cahaya yang mencapai permukaan bulan adalah dari tepi atmosfer bumi.
"Molekul udara dari atmosfer Bumi menyebarkan sebagian besar cahaya biru. Cahaya yang tersisa memantul ke permukaan Bulan dengan cahaya merah membuat Bulan tampak merah di langit malam," tulis keterangan di laman NASA.
Gerhana bulan total ini akan terlihat di wilayah Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Barat, Afrika Barat.
Khusus di Indonesia, fenomena alam ini tidak bisa dilihat secara langsung. Terlebih seluruh fase terjadi pada pagi sampai sore hari.
Wilayah Indonesia Barat, Gerhana bulan total tidak bisa dilihat secara langsung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan gerhana ini akan melalui beberapa fase. Walaupun tidak semua tahapan bisa disaksikan di Indonesia.
Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG, Syrojudin menyebut di Indonesia gerhana ini akan dimulai melalui fase gerhana penumbra pertama.
"Gerhana bisa dilihat dari wilayah Indonesia bagian timur," kata Syrojudin
Fase puncak gerhana bulan total diperkirakan terjadi pukul 13.54 WIB atau 15.52 WIT untuk Indonesia bagian timur.
Meski tak bisa disaksikan, gerhana bulan total pada 14 Maret 2025 tetap bisa menyaksikan fenomena ini melalui siaran langsung atau live streaming. Khususnya dari siaran lembaga astronomi internasional.(*)
Editor : Niklaas Andries