Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ulat Sutera, Satwa Penyendiri yang Butuh Suasana Tenang

Niklaas Andries • Minggu, 28 April 2024 | 17:55 WIB

TRADISIONAL: Budidaya ulat sutera menghasilkan benang warna putih yang halus lembut dan panjang.
TRADISIONAL: Budidaya ulat sutera menghasilkan benang warna putih yang halus lembut dan panjang.
Radarbanyuwangi.id - Dibandingkan ulat sejenisnya, ulat sutera tergolong unik. Warna ulat sutera ini sangat khas yakni hanya putih.

Ulat sutra Memiliki nama latin Bombyx mori. Ulat sutera ini tidak memiliki bulu pada tubuhnya. Ini yang membuatnya tidak menimbulkan efek gatal pada kulit saat tersentuh oleh manusia. Tapi ada ciri unik lainnya, hewan ini hanya bisa hidup dan berkembang biar dengan baik pada suasana yang tenang.

Konon, ulat sutera pertama kali ditemukan di Tiongkok kuno sekitar 5.000 tahun yang lalu. Hewan ini pada awalnya merupakan aset rahasia milik bangsa Tiongkok. Ini disebabkan kemampuannya yang menghasilkan serat sutera terbaik.

Namun pada perkembangannya kemudian, ulat jenis ini mulai dibudidayakan di banyak negara seperti Jepang, Korea, India, Thailand, bahkan Indonesia. Ada banyak jenis ulat sutera di dunia seperti misalnya Bombyx mori yang paling umum ditemui, Attacus atlas (kupu gajah), ataupun Cricula trifenestra (kupu kenari).

Khusus di Indonesia, jenis paling banyak dibudidayakan adalah jenis Bombyx mori. Ulat jenis ini lebih banyak dikembangkan sebagai bibit pemeliharaan ulat sutera. Selain warna tubuhnya putih, ulat sutera memiliki anatomi panjang tubuh hingga 10 cm dengan diameter hingga 0,8 cm. Ukuran itu merupakan wujud sebelum menjadi kepompong.

Saat bermetamorfosis sempurna, dengan setiap generasi melewati 4 stadia, yakni telur, larva atau ulat, pupa, dan ngengat atau kupu-kupu. Pada stadia larva, ulat sutera hanya memakan daun murbei segar yang tidak terkena bahan kimia apa pun.

Ulat sutera juga tidak menyukai wangi-wangian dan hidup di ruang yang tenang dan tidak berisik. Sehingga kandang pemeliharaannya seharusnya ditempatkan jauh dari keramaian.  Ada pun tahap budidaya ulat sutera sama halnya dengan serangga. Tahap pertumbuhan melewati tahap metamorfosis lengkap, diawali dengan tahap telur, lalu larva atau ulat.

Biasanya, peternak yang ingin memanfaatkannya sebagai kain, akan berhenti di tahap ulat menjadi kokon. Peternak akan mengumpulkan kokon untuk dijadikan benang sutera. Benang sutra itu dihasilkan ulat dari air liur yang dibuat melingkari tubuhnya hingga 300.000 kali. Dengan serat yang kuat, ulat sutera melindungi dirinya dengan membuat lilitan itu. (nic/bay)

Editor : Niklaas Andries
#tubuh #Wujud #Kokon #putih #ulat #tiongkok #larva #Metamorfosis #budidaya #Ulat Sutra #telur #kepompong #serat #air liur