Polisi dan tentara bersejata lengkap tetap dikerahkan untuk berjaga-jaga di setiap sudut kota. Bahkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mencari keberadaan Wirdjo kala itu. Petugas sampai menyebarkan pamflet berisi kertas fotokopi berisi foto Wirdjo dari pesawat capung.
Maklum akses informasi kala itu masih terbatas. Tak pelak banyak masyarakat yang kemudian memilih berdiam diri di rumah. Sekolah pun diliburkan untuk menjaga keselamatan para siswanya.
“Polisi yang jaga di desa dan perempatan jalan juga diliputi ketakutan,” kenang sutedjo, paman Wirdjo.
Saat kejadian itu, Sutedjo menggambarkan, ada polisi yang sempat meminta dirinya untuk mengantarnya keluar dari desa di sekitar rumah Wirdjo. Dia pun sempat heran, karena polisi dibekali senjata api yang bisa digunakan untuk menjaga diri.
Namun melihat alasan yang diberikan, barulah dia memaklumi ketakutan yang muncul. “Saat itu tidak ada yang tahu wajah Wirdjo itu seperti apa. Takutnya, dia jalan seperti orang biasa tapi bisa menebas dari arah mana pun,” ujarnya.
Setelah kejadian berdarah itu, Sutedjo menjadi orang yang paling sibuk. Sebelum Wirdjo ditemukan, dia harus menelusuri jejak lokasi keponakannya itu beraksi.
Ini juga yang membuat polisi menempel ketat Sutedjo hingga Wirdjo akhirnya ditemukan.
Kengerian terhadap aksi Wirdjo pun masih tergambar meski dia sudah ditemukan tewas gantung diri. Beberapa masyarakat yang kenal langsung dengan Wirdjo sampai tidak enak makan dan tidur.
“Saya sudah bilang sama mereka, makan saja. Tapi banyak yang nggak enak makan, tenggorokan serasa menolak nasi, hati rasanya degdegan terus,” katanya.
Bahkan saat jenazah sang pembantai itu akan dikuburkan, Sutedjo pun harus bekerja keras. Soalnya Mudin yang biasa memandikan jenazah menolak menjalankan tugasnya karena takut.
Terpaksa, dengan tangannya sendiri, Sutedjo pun memandikan jenazah keponakannya itu. Dibantu tujuh orang penggali kubur, Wirdjo pun akhirnya dimakamkan di kuburan keluarga di tengah makam kedua orang tuanya.
Meski diliputi ketakutan, rasa penasaran masyarakat untuk menyaksikan prosesi pemakaman itu cukup besar. Areal makam yang berdekatan dengan sawah dan sungai, tampak penuh dengan lautan manusia.
“Sampai banyak helm dan kacamata yang saya temukan karena tertinggal oleh pemiliknya yang tadi ikut nonton Wirdjo dimakamkan,” ucapnya.
Sehari sebelum ditemukan kendat, Wirdjo sekitar sore harinya terlihat di dekat sebuah sungai masuk daerah Dusun Delik dan Gerangan di Desa Kemiren, Glagah. Lokasinya kurang lebih berada tidak jauh dari sungai dekat bagian timur Wisata Osing saat ini.
Keberadaannya sempat diketahui seorang pemanjat kelapa. Wirdjo masuk ke saluran air di sungai yang banyak ditumbuhi tanaman liar. “Saya sempat diberi tahu dan datang ke lokasi itu. Tapi saya biarkan dulu di sana,” ujar Sutedjo.
Tanggal 16 April 1987, Sutedjo dibantu polisi dan tentara menyisir daerah itu. Di sanalah, kemudian keponakannya itu sudah ditemukan tidak bernyawa dengan posisi gantung diri. Dia mengenakan celana pendek tanpa baju dan kakinya terendam di aliran sungai. (*)
Editor : Niklaas Andries