Sikap keras dan temperamental Wirdjo sering diperlihatkannya saat ada yang berusaha mengganggu istrinya. Dia mudah naik darah kalau ada orang lain memandang istrinya Sumbu pendek Wirdjo yang mudah meledak ini pula yang rupanya dimaklumi oleh istrinya.
Saat berjalan dengan sang suami, dia hanya bisa menunduk dan berjalan di belakang Wirdjo tanpa banyak bicara. “Papasan lihat istrinya saja, dia bisa marah. Istrinya juga sudah tahu, makanya dia tidak berani jalan di sampingnya. Dia biasanya jalan di belakangnya,” beber Darmi, istri Sutedjo.
Wirdjo sendiri pernah menjadi bagian dari kejayaan PT Kertas Basuki Rahmat. Dia bekerja di sana sebagai sopir forklift. Cukup lama dia bekerja di pabrik kertas. Namun perjalanan karirnya di pabrik harus berakhir dengan pemecatan dari pihak manajemen perusahaan.
Ulahnya menabrakkan forklif ke tembok, membuat dia diberhentikan dari pekerjaan di pabrik kala itu. Sejak itulah, dia kemudian beralih profesi sebagai petani. Sawah sang kakak yang cukup luas menjadi jujukan kelanjutan roda perekonomian keluarganya.
Sikap nyeleneh Wirdjo rupanya tidak hanya terjadi di tempat kerja. Sutedjo masih ingat benar perilaku Wirdjo semasa hidupnya yang dinilainya tidak seperti pemuda kebanyakan. Keponakannya itu pernah membuat dirinya heran bahkan mengelus dada.
Wirdjo sangat menggilai rujak kecut. Keponakannya itu pernah membuat rujak kecut dari dua buah pepaya. Takaran rujak yang dibuatnya tidak normal, yakni satu ember. Yang membuat Sutedjo geleng-geleng, adalah campuran cabai yang digunakan.
Untuk rujak kecut buatannya, Wirdjo mencampurkan dua kilogram cabai rawit. “Dia sampai teler karena habis setengahnya. Saya cuma ngomel, perutnya bisa terbakar gara-gara cabai segitu banyak,” kenangnya.
Melihat keponakannya itu kelengar kepedesan, Sutedjo meminta istri Wirdjo, Ndara, untuk membelikan es. Lagi-lagi, disini Wirdjo menunjukkan sikap nyelenehnya.
Setelah menenggak es, Wirdjo menggunakan 50 butir telur pindang untuk menetralkan rasa kebakar dari pedas yang dirasakannya. Belum usai, disuatu hari, Wirdjo pernah memotong sapi yang sering digunakannya untuk memnajak sawah.
Alasannya sederhana, sapi yang digunakan kurang gesit dan tidak kuat untuk dipakai nyingkal. Wirdjo kemudian memberi makan hewan ternak itu dengan ular luwuk.
“Sapinya akhirnya teler diberi makan ular luwuk. Lah ularnya sendiri beracun. Pas sapinya sekarat karena efek diberi makan ular itu, baru dipotong sama dia sapinya,” katanya.
Keanehan Wirdjo disebutkan Sutedjo sebagai pemanjat pohon kelapa yang ulung. Caranya memang di luar keahlian orang pada umumnya. Saat akan memetik buah kelapa, Wirdjo membawa kasur miliknya hingga ke bawah pohon.
Ketika sudah berada di atas, buah kelapa kemudian dijatuhkan persis di atas kasur yang dibawanya. Sutedjo dan istrinya, Darmi, pun sempat keheranan saat Wirdjo memanggul kasur dari kamarnya. Tak tahunya digunakan sebagai alas buah kelapa yang dipetiknya.
Meski sempat dirasakan tak wajar. Alasan membawa kasur itu cukup masuk akal. Bila kelapa sampai pecah maka tidak laku dijual di pasaran. Kasur berfungsi untuk meminimalkan benturan buah kelapa dengan tanah.
Tingkah nyeleneh Wirdjo lainnya adalah soal selera makan yang luar biasa. Masih ingat dalam benak Sutedjo, bagaimana keponakannya itu menanak nasi dari lima kilogra beras. Bermodal satu botol minyak goreng, dia kemudian memasak nasi goreng.
Ajaib, nasi goreng segunung itu pun habis disantap Wirdjo. Meski akhirnya, kebanyakan makan membuat Wirdjo tak bisa jalan karena kekenyangan. “Saya bilang harus berendam di air sungai biar kenyangnya hilang,” ujarnya.
Bahkan, dalam sebuah kesempatan, selera makan yang meledak-ledak ini nyaris membuat pemilik warung di sekitaran Perliman (simpang Lima) keheranan. Wirdjo yang makan bersama sang paman mampu menghabiskan hingga lima bungkus nasi dalam waktu cepat.
Bahkan satu piring makanan dedeh (darah sapi beku yang dimasak) juga disukainya. Rasanya yang empuk, rupanya juga mengundang selera makannya. Sutedjo pun hanya bisa mengelus dada kala itu, saat melihat proses makan Wirdjo.
“Dia orangnya keras tapi ada nyelenehnya. Saya kalau ingat itu suka ketawa sampai sekarang,” kenangnya. (*)
Editor : Niklaas Andries