Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengingat 37 Tahun Tragedi Amukan Wirdjo di Banyuwangi, Lukai Puluhan Orang dan Belasan Lainnya Meregang Nyawa

Niklaas Andries • Selasa, 16 April 2024 | 16:59 WIB
BERSEJARAH: Rabu 15 April 1987 menjadi momen paling menakutkan bagi masyarakat Banyuwangi kala itu
BERSEJARAH: Rabu 15 April 1987 menjadi momen paling menakutkan bagi masyarakat Banyuwangi kala itu

Radarbanyuwangi.id – Hari Rabu, 15 April 1987, sekira pukul 10.00 suasana sorak sorai siswa di SDN Lateng Banyuwangi memenuhi hampir tiap sudut kelas. Sidrotul Muntaha yang saat itu duduk dibangku kelas tiga mengkisahkan pagi itu kegiatan belajar di sekolah dipulangkan lebih cepat dari biasanya.

Sontak hal itu membuat siswa menjadi kegirangan karena bisa pulang lebih pagi. Artinya mereka bisa bersantai lebih lama di rumah. Namun tidak dengan Sidrotul, dia memilih untuk bermain sepeda setelah pulang sekolah.

Tapi sepanjang perjalanan dari rumahnya di Jalan Riau Kelurahan Lateng, dia melihat banyak polisi dan tentara menenteng senjata lengkap berjaga di setiap sudut kota.

Diperempatan hingga kawasan keramaian seperti pasar ada saja petugas yang berjaga disana.

Saat papasan dengan petugas, dia disuruh untuk kembali ke rumah sesegera mungkin. Tidak tahu apa yang terjadi Sidrotul pun terus mengkayuh sepedanya kembali menuju ke rumah.

Sesampai di rumah, orang tuanya pun berpesan untuk tidak kemana-mana dulu sementara waktu.

“Bapak emak bilang suruh di rumah saja. Wirdjo lagi ngamuk,” ujar Sidrotul menirukan ucapan orang tuanya.

Meski tidak kenal siapa sosok Wirdjo yang dimaksud oleh orang tuanya, dia nurut dan memilih tinggal di dalam rumah. Maklum zaman itu informasi sangat terbatas.

Sebagai anak yang baik dia pun menurut anjuran orang tua. Benar saja, suasana Banyuwangi saat itu tengah dilanda ketakutan yang teramat sangat.

Adalah Sosok Wirjo, pria yang saat itu tinggal di Lingkungan Watubuncul, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri menjadi penyebabnya. Aksinya melukai dan menghabisi nyawa penduduk di sekitar tempat tinggalnya memunculkan trauma tersendiri.

Sepak terjangnya membuat ribuan warga yang tersebar di Desa Olehsari (Kecamatan Glagah), Desa Kemiren (Kecamatan Glagah), Desa Boyolangu (Kecamatan Giri), hingga Desa Kelir (Kecamatan Kalipuro) diliputi rasa ketakutan.  

Dengan berjalan kaki, Wirdjo mampu melukai 37 orang di sepanjang desa yang dilaluinya. Dari puluhan korban itu, 17 orang di antaranya harus merenggang nyawa. Wirdjo sendiri merupakan pemuda asli kampung Watubuncul.

Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari buah pernikahan pasangan Soenar dan Mak Jas. Wirdjo sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar semasa kecilnya.

Di kampungnya, dia dikenal sebagai sosok yang keras, temperamental, dan terkadang sering berperilaku sedikit nyeleneh.

Lewat keterangan wawancara yang pernah dilakukan Jawa Pos Radar Banyuwangi kepada Sutedjo, paman Wirdjo, dan Darmi, istri Sutedjo. Penyebab muntabnya Wirdjo terkuak karena alasan yang terkesan sepele.

Sinyal akan datangnya tragedi berdarah itu muncul saat Wirdjo sering mengasah jombret miliknya.Jombret ini merupakan salah satu senjata asli atau alat pertanian khas masyarakat Suku Osing, khususnya di Kampung Watubuncul.

Bentuknya menyerupai parang. Bedanya alat ini lebih tipis dan memanjang. Di bagian ujungnya, ada bagian yang melengkung sedikit. Di kalangan petani, jambret sering digunakan untuk memotong rumput.

Banyak orang, termasuk Sutedjo yang sempat bertanya apa alasan Wirdjo mengasah alat pemotong rumput. Jawaban yang keluar dari mulut Wirdjo ternyata cukup singkat.

Wirdjo mengaku mengasah jombret sebagai upaya menjaga diri. Diutarakan Wirdjo alat itu baru akan digunakan, saat ada orang yang mengganggu dirinya. “Dua hari sebelum kejadian itu, dia mengasah jombret di rumahnya,” beber Sutedjo.

Dan, munculnya insiden berdarah menurut Sitedjo bermula dari kemarahan Wirdjo terhadap istrinya. Darmi menceritakan, saat itu istri Wirdjo sedang mencangkul di sawah. Wirdjo kemudian datang dengan menuntun sapi.

Wirdjo saat itu meminta sang istri untuk bergeser agar tidak tertabrak oleh ternak yang dibawanya. Namun sang istri jawaban atas permintaan itu membuat suaminya muntab.

“Istrinya bilang nggak bakalan ditabrak. Masih ada ruang sela,” kenang Darmi.

Wirdjo pun marah sejadi-jadinya. Tongkat pecut yang digunakan untuk memukul sapi, justru diarahkan kepada istrinya.  Pukulan bertubi-tubi itu rupanya membuat perempuan itu langsung kabur ke rumah orang tuanya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

Melihat istrinya pergi, Wirdjo segera mencari istrinya ke rumahnya.  Karena tidak ketemu di rumah, dia kemudian berjalan menuju rumah mertuanya.

Di sana, dia mengamuk dan mencari istrinya. “Wirdjo ngamuk di sana karena cari istrinya. Hansip sampai tidak berani menenangkan,” ujar Sutedjo.

Wirdjo pun kemudian pulang ke rumah. Bermodal jombret inilah, Wirdjo memulai kisah horor dengan aksi sadisnya kala itu. Dia tidak pilih-pilih korban. Bahkan, beberapa korban masih berstatus famili bahkan anaknya sendiri.

Dia menjalankan aksinya dengan dingin. “ Ada korbannya perempuan tua yang sering ngantar makanan Wirdjo saat di sawah. Dipanggil ke rumahnya langsung dibacok,” ujarnya.

Dengan berjalan kaki, Wirdjo mampu melukai 37 orang di desa yang dilaluinya. Usai menjalankan aksinya, sekitar sore harinya dia mulai menghilang dari kerumunan.

Wirdjo sore harinya terlihat di dekat sebuah sungai masuk daerah Dusun Delik dan Gerangan di Desa Kemiren, Glagah.

Lokasi itu kini kurang lebih berada tidak jauh dari sungai dekat bagian timur Wisata Osing saat ini. Keberadaannya sempat diketahui seorang pemanjat kelapa.

Wirdjo masuk ke saluran air di sungai yang banyak ditumbuhi tanaman liar. “Saya sempat diberi tahu dan datang ke lokasi itu. Tapi saya biarkan dulu di sana,” ujar Sutedjo.

Keesokan harinya, Kamis 16 April 1987, Sutedjo dibantu polisi dan tentara menyisir daerah itu. Di sanalah, kemudian keponakannya itu sudah ditemukan tidak bernyawa dengan posisi gantung diri. Dia mengenakan celana pendek tanpa baju dan kakinya terendam di aliran sungai.

Sejak kejadian itu pula, istri Wirdjo juga tidak jelas keberadaannya. “Sejak kejadian itu istrinya tidak lagi ada di sana,” katanya.(*)

Editor : Niklaas Andries
#tentara #polisi #siswa #desa kemiren #boyolangu #sapi #suku osing #kecamatan glagah #jombret