RadarBanyuwangi.id – Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi turun tangan menangani insiden bunuh diri dengan korban pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Wongsorejo, Banyuwangi.
Kasatreskrim Polresta Banyuwangi Kompol Andrew Vega mengatakan, otopsi jenazah korban dilakukan setelah mendapat persetujuan dari orang tua kandungnya.
Awalnya, orang tua angkat korban menolak adanya otopsi. Hal itu pun sempat menimbulkan kecurigaan petugas.
Bahkan, ketika petugas meminta nomor kontak orang tua kandung EF, orang tua angkatnya mengaku sudah bertahun-tahun putus komunikasi.
”Ini yang membuat janggal, akhirnya kita cari data dari bukti surat keterangan kelahiran di bidan. Setelah kita lacak ternyata orang tuanya tinggal di Surabaya. Kita minta kontak dari Polrestabes Surabaya, ternyata orang tuanya ada di Ponorogo,” papar Vega.
Setelah berhasil mengontak orang tua kandung korban, petugas baru diizinkan untuk melakukan otopsi. Jenazah akhirnya dibawa ke RSUD Blambangan.
Vega mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP dan meminta keterangan dari warga sekitar. Terkait penyebab kematian, Vega mengaku belum bisa menyimpulkan sampai nanti proses otopsi selesai.
”Kita tunggu hasilnya nanti, sementara belum bisa disimpulkan. Dari luar tidak ada tanda kekerasan,” tandasnya.
Kabar meninggalnya EF yang ditemukan dalam kondisi gantung diri cukup mengejutkan banyak pihak.
Tak hanya orang tua korban, pihak sekolah mengaku terkejut begitu mendengar kabar meninggalnya EF.
Kepala MI Miftahul Huda Sidodadi Abdul Aziz mengatakan, pihak sekolah baru mendengar kabar meninggalnya EF pada Senin (22/1) pagi sekitar pukul 06.00.
Saat hendak dimulai kegiatan pembelajaran, dia baru mendapat kabar kalau siswa kelas 5 berinisial EF ditemukan meninggal dunia dengan kondisi gantung diri di kandang sapi.
”Sekolah kaget sekali, karena sebelumnya tidak ada apa-apa,” kata Aziz.
Selama di sekolah, EF dikenal sebagai anak yang ceria. Yang bersangkutan tidak pernah terlibat masalah seperti pertengkaran atau kenakalan lainnya.
Aziz melihat EF anak yang biasa dan normal-normal saja dalam kesehariannya.
Karena EF tidak neko-neko, pihak sekolah sangat terkejut mendengar kabar kematian siswanya itu.
”Anaknya biasa saja, tidak ikut kegiatan ekstra. Drum band juga tidak ikut. Makanya kami sangat kaget sekali, kecuali siswanya ini sering berulah,” jelas Aziz.
Petugas kepolisian hingga tadi malam masih terus berusaha mengungkap penyebab kematian EF.
Kapolsek Wongsorejo AKP Eko Darmawan mengatakan, polisi sempat memeriksa isi ponsel yang digunakan korban.
Ternyata korban sering menonton konten di YouTube yang isinya tidak layak dilihat oleh anak seusianya.
”Korban sering melihat konten video YouTube seperti cerita ’Awalnya Diremehkan, lalu Menaklukkan Iblis Terkuat dan Menjadi Murid Tak Terkalahkan’,” ungkap Eko. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin