RadarBanyuwangi.id – Nasib yang dialami Aditya memang tragis. Sebelum dikeroyok oleh belasan orang, anak pensiunan polisi itu sempat ngopi bareng dengan AG, 14, salah seorang temannya.
Keduanya janjian ngopi di Dusun Krajan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Sekitar pukul 21.00, Aditya dan AG bertemu dan minum kopi bersama di salah satu penjual keliling di timur jalan simpang empat Desa Jajag.
”Aditya datang diantar temannya, lalu turun dan ngopi bersama saya,” ungkap AG saat ditemui usai pemeriksaan di Mapolsek Purwoharjo, Selasa (26/12).
Tidak lama kemudian, Aditya pamit dan meminjam sepeda motor Honda Beat hitam tanpa nomor polisi milik AG.
”Mas Aditya tidak bilang mau ke mana, hanya bilang pinjam motor sebentar,” ucap AG yang tinggal di Siliragung itu.
Karena sudah mengenal korban cukup lama, AG memberikan kunci sepeda motornya.
AG mengira temannya tersebut pergi sebentar untuk menjemput temannya. ”Setelah ditunggu sampai satu jam, Mas Aditya tidak kembali,” jelasnya.
AG mencoba menghubungi Aditya melalui ponselnya hingga beberapa kali, tapi tidak diangkat. AG akhirnya memutuskan pulang dengan diantar salah satu temannya.
”Besoknya (kemarin pagi) baru dapat kabari Mas Aditya kecelakaan dan meninggal,” ungkapnya.
AG juga dihubungi oleh anggota Polsek Purwoharjo agar datang ke polsek terkait meninggalnya Aditya itu.
Saat dimintai keterangan oleh polisi, AG mengaku baru tahu kalau korban meninggal bukan karena kecelakaan. ”Saya tahu kalau Mas Aditya meninggal karena dikeroyok ya di kantor polisi itu,” akunya polos.
Dari informasi di lokasi kejadian, aksi pengeroyokan itu terjadi bersamaan dengan suara kembang api dari arah Desa/Kecamatan Purwoharjo.
”Awalnya saya terganggu dan keluar untuk mencari sumber suara (kembang api). Tapi saat menengok ke arah timur (dekat tugu) ada warga yang berkerumun,” ungkap Kepala Dusun Krajan, Desa Kradenan, Waluyo.
Saat mendekat, Waluyo melihat seorang remaja laki-laki berperawakan tinggi besar dalam keadaan telungkup dan bersimbah darah.
”Warga tidak ada yang berani menolong, lalu ada warga yang bersedia mengantar remaja itu ke puskesmas,” jelasnya.
Warga lainnya, Samsul Arifin, 40, mengaku, awalnya dia juga tidak mengetahui aksi pengeroyokan tersebut.
Pada malam itu ada seorang remaja laki-laki yang berlari kencang dari arah jalan simpang tiga ke persawahan.
”Mungkin itu teman korban, lari sambil meminta tolong karena dikejar segerombolan remaja,” katanya.
Mendengar teriakan tersebut, Samsul yang tinggal tidak jauh dari lokasi pengeroyokan kemudian mendekat ke kerumunan warga di jalan simpang tiga Tugu NU.
”Di sana sudah ada remaja yang tidak sadarkan diri, saya yang antar ke puskesmas,” jelasnya.
Saat terjadi pengeroyokan, di lokasi kejadian sedang sepi dan hampir tidak ada warga yang ada di luar rumah.
Maklum saat itu sudah hampir tengah malam. ”Sudah malam dan baru hujan,” ucap Sahroni, 50, warga lainnya.
Kala itu, imbuh Sahroni, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan ada seorang remaja yang sudah dalam kondisi tidak sadar di jalan.
”Warga mengira remaja itu baru saja jatuh dari motor karena kecelakaan tunggal,” pungkasnya. (gas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin