RadarBanyuwangi.id – Konflik internal di tubuh Persewangi Banyuwangi mencuat menjelang putaran 28 besar Liga 3 Jawa Timur.
Jumat lalu (22/12), Persewangi mengeluarkan surat pemberhentian kepada manajer klub, Yunus Wahyudi.
Surat bernomor 56/Persewangi/XII/2023 tersebut dikeluarkan oleh Presiden Persewangi, Samidi Jose Rudy.
Selain surat pemecatan, manajemen Persewangi juga mengeluarkan dua surat lainya. Pertama, terkait penggantian manajer dari Yunus kepada Alex Budi Setyawan.
Kedua, terkait surat permohonan kepada Yunus untuk melaporkan pertanggungjawaban keuangan selama menjadi General Manager Persewangi.
Samidi Jose Rudy mengatakan, pergantian manajer terjadi akibat tidak adanya transparansi dalam penggunaan anggaran.
Sejak ditunjuk sebagai manajer, Yunus dianggap kurang transparan dalam laporan pertanggung jawaban keuangan. Terutama masalah gaji pemain dan ofisial serta biaya makan yang tak kunjung dibayar.
Padahal sejak awal menjadi manajer, Yunus mengaku sudah menyiapkan uang sebesar Rp 1,2 miliar untuk mendanai Persewangi. Faktanya, masih banyak tanggungan keuangan yang tidak dibayar.
"Uang Rp 1,2 miliar itu kemana? Saya sebenarnya tidak mau merecoki asalkan kebutuhan makan dan gaji pemain terpenuhi," kata Jose Rudy.
Masalah semakin memuncak saat Persewangi mendapatkan bantuan dari perusahaan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI) sebesar Rp 250 juta pada 16 Desember.
Uang yang masuk ke rekening PT Persewangi Banyuwangi diambil seluruhnya oleh Yunus. Jose Rudy berharap uang tersebut bisa dibayarkan seluruhnya untuk kebutuhan tim.
Saat persoalan keuangan ini ditanyakan ke Yunus, kata Jose Rudy, yang bersangkutan justru menyatakan mundur dengan mengirimkan voice note atau pesan suara kepada beberapa pengurus dan ofisial Persewangi. Kondisi ini membuat internal Persewangi tidak kondusif.
"Pembayaran gaji dan makan pemain pada bulan November baru dilunasi setelah uang dari BSI cair. Uang tersebut langsung dimasukkan ke rekening pribadi. Saya langsung memanggil anak-anak (pemain dan ofisial) untuk memastikan sebenarnya ada apa,’’ tegasnya.
Jose Rudy mencurigai ada niatan tidak baik dari Yunus. Begitu dia mundur mendadak muncul nama Yayasan New Persewangi Muda yang diketuai oleh Yunus.
"Sepertinya sudah ada niat tidak baik dengan membuat yayasan baru. Untung semua keuangan selama ini masuk ke dalam rekening PT Persewangi," kata Rudy.
Melihat kondisi manajemen yang tidak kondusif dan tim harus mempersiapkan diri menghadapi putaran 28 besar, Jose Rudy akhirnya mengambil langkah dengan melakukan pergantian manajer.
Dia menunjuk Alex Budi Setyawan yang selama ini kerap membantu mencari sumber dana bagi Persewangi.
"Sebagai pemegang saham kita ambil sikap, jangan sampai tim yang terdampak. Kita bisa didiskualifikasi atau kena denda," kata Rudy.
Terkait kabar pemecatan dirinya sebagai Manajer Persewangi, Yunus mengaku akan tetap bertanggung jawab menjadi Manajer Persewangi hingga akhir musim.
Dia menyatakan sudah berkomunikasi dengan Pembina Persewangi, Sumail Abdullah. Hasilnya Yunus diminta untuk tetap jalan.
Sebab, jika bukan Yunus manajernya, Sumail enggan membantu Persewangi terutama untuk mencari anggaran.
"Saya diminta terus jalan oleh Pak Sumail. Kalau tidak jalan, Pak Sumail tidak mau. Saya juga berencana memindah mess pemain," kata Yunus.
Yunus juga menanggapi masalah uang Rp 250 juta dari PT BSI yang dibawanya.
Yunus menjelaskan, selama mengurus Persewangi sudah menghabiskan uang pribadi lebih dari Rp 200 juta.
Jadi tidak salah jika mengambil uang dari PT BSI. Apalagi uang tersebut digunakan untuk membayar pemain dan pelatih.
"Kalau mau diaudit apanya yang diaudit, ini uang saya," tegasnya.
Yunus mencatat setiap pengeluaran keuangan, termasuk untuk gaji dan makan pemain serta sewa stadion hingga pembentukan panpel pertandingan.
"Saya akan selesaikan (tugas sebagai manajer) sampai selesai. Saya memang punya yayasan baru untuk Persewangi. Nanti akan kita pakai setelah musim ini. Sebelum ada uang dari BSI, semua kegiatan menggunakan uang dari saya. Bukti transefer banknya ada dan jumlahnya jelas,’’ tegasya.
Biaya Makan Pemain Nyaris Tak Terbayar
Penasihat Persewangi Hibbul Hadi mengatakan, yang dipermasalahkan oleh pemain dan tim kepada Yunus adalah masalah transparansi pengelolaan anggaran.
Awalnya Hibbul yang ikut mendorong agar Yunus mau memegang Persewangi dengan melihat keberanian Yunus selama ini.
Apalagi sejak awal, Yunus meyakinkan sudah memiliki uang sebesar Rp 1,2 miliar untuk mendanai Persewangi selama kompetisi berlangsung.
Seiring berjalanya waktu, gelagat mencurigakan mulai terlihat. Biaya makan nyaris tidak dibayar sampai lebih dari 30 hari. Hibbul mengaku menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan makan pemain.
Tak hanya biaya makan, gaji pemain juga tak kunjung dibayar. Tanggungan kepada pemain, pelatih dan dirinya baru dibayarkan setelah ada anggaran dari PT BSI sebesar Rp 250 juta. Itupun masih belum dibayar seluruhnya.
"Dari tanggungan makan Rp 40 juta, baru dibayar Rp 36 juta. Pemain, pelatih, dan ofisial hanya minta keterbukaan. Kita siap kalau mau duduk bersama, jelaskan pengeluaran keuangan untuk apa saja," kat Hibbul. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin