RadarBanyuwangi.id – Aksi penganiayaan siswa di lingkungan sekolah kembali terulang. Kali ini terjadi di Sekolah Dasar (SD) Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Korban berinisial GL, 12, mengalami trauma dan lebam di tubuhnya.
Korban dikeroyok oleh tiga teman sekelas. Aksi tersebut terjadi saat guru sedang tidak berada di ruang kelas. Insiden tersebut terjadi pada Selasa (22/11) sekitar pukul 09.00. Video penganiayaan tersebut viral di media sosial.
Dalam rekaman video yang beredar, satu siswa dikeroyok tiga terduga pelaku di dalam kelas. Melihat kejadian tersebut, siswa lainnya hanya menonton.
”Kejadiannya memang di dalam kelas. Saat itu tidak ada jam pelajaran atau jam istirahat. Guru wali kelas sedang ada tugas di Dinas Pendidikan,” ujar Kepala SDN Mojopanggung Suheni.
Heni menjelaskan, insiden tersebut melibatkan empat anak, salah satunya menjadi korban. ”Korban sebenarnya tidak mengalami luka begitu parah. Meski demikian, kami tetap bertanggung jawab untuk membiayai semua pengobatan korban,” katanya.
Terkait insiden kekerasan tersebut, Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Giri serta Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi dan pihak SDN Mojopanggung langsung melakukan mediasi, Rabu (22/11). Mediasi dihadiri pihak keluarga korban dan terduga pelaku pemukulan.
Alhasil, selama tiga jam lebih berlangsung mediasi, dari pihak keluarga korban maupun pelaku sepakat berdamai, dilanjutkan membuat surat pernyataan. Mereka sepakat damai dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Selain itu, dari pihak keluarga korban juga tidak akan menuntut apa pun karena biayai pengobatan korban ditanggung sekolah.
”Alhamdulillah, mediasi yang kita fasilitasi ini berjalan lancar dan semua sepakat berdamai,” ujar Camat Giri Joko Kuncoro.
Joko menambahkan, insiden yang melibatkan pelajar SD tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi semua sekolah. Pihak sekolah perlu meningkatkan pengawasan terhadap siswa.
”Kita minta anak-anak selalu diawasi, baik saat jam pembelajaran maupun di luar pelajaran,” pintanya.
Kapolsek Giri AKP Endro Abrianto mengatakan, dalam mediasi tersebut telah menemukan kesepakatan untuk berdamai.
Kesepakatan ini semata untuk menjaga kondusivitas dan kenyamanan di lingkungan sekolah. ”Semua sepakat berdamai sehingga persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya.
Endro menyebut, kesepakatan diambil setelah adanya pertanggungjawaban dari keluarga terduga pelaku. Selain itu pihak sekolah juga siap membiayai pengobatan korban.
”Selain korban tidak menuntut secara hukum, pihak sekolah telah menyiapkan seluruh pembiayaan pengobatan korban. Pihak sekolah juga siap mengembalikan psikologis korban,” ungkapnya.
Kepala SDN Mojopanggung Suheni menambahkan, pihaknya akan memperketat pengawasan kepada muridnya. Satu guru diberi tanggung jawab mengawasi aktivitas siswa selama berada di sekolah.
”Sebenarnya kita sudah menugasi guru olahraga untuk mendampingi siswa meski di jam istirahat,” kata Heni. (rio/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin