Jawa Pos Radar Banyuwangi – Kasus penganiayaan yang dialami salah satu siswa SMP negeri di Banyuwangi berbuntut panjang.
Selain korban RDA masih menjalani perawatan di RSUD Blambangan, terduga pelaku BG juga mengalami trauma berat.
BG yang tinggal bersama ibu kandungnya tersebut sempat tidak pulang ke rumah setelah kasusnya mencuat di publik. BG ketakutan karena harus berhadapan dengan hukum.
Hal ini disampaikan oleh paman BG, Hamzah Udin, saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Kampung Ujung, Kecamatan Banyuwangi, Rabu (18/10).
”BG sempat tidur di masjid dekat rumah karena ketakutan. Pamitnya kepada keluarga tidur di rumah budenya di Kampung Mandar,” katanya.
Hamzah berharap ada penyelesaian secara kekeluargaan terkait kasus tersebut. Sebab, kejadian tersebut bukan semata-mata kesalahan keponakannya.
”Ada pihak ketiga yang sengaja mengadu BG dengan RDA sehingga memicu perkelahian,” paparnya.
Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banyuwangi melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) turut prihatin atas kejadian tersebut.
Tim tetap memberikan trauma healing kepada korban maupun terduga pelaku.
”Yang mengalami trauma bukan hanya korban maupun terduga pelaku, keluarganya juga kepikiran. Keduanya tetap kami berikan pendampingan masalah psikologi,” kata pendamping P2TP2A Dinsos Banyuwangi Alizha Amalia Rohmana.
Tim P2TP2A telah menjenguk RDA di RSUD Blambangan. Menurut Alizha, trauma yang dirasakan korban saat ini adalah rasa takut kejadian serupa terulang kembali.
”Pendampingan kami lakukan untuk membantu mengatasi trauma,” jelasnya. (rio/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin