Korban masuk ke rumah sakit sejak Minggu (4/6) dini hari akibat mengalami muntah darah saat menjalani ujian kenaikan sabuk di Dusun Gunung Remuk, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Kepergian korban yang masih duduk di bangku kelas II SMAN 1 Glagah itu membuat keluarganya sangat terpukul.
Semula pihak keluarga mendapatkan kabar dari perguruan silat kalau Riski masuk rumah sakit karena terjatuh. ”Masuk rumah sakit Minggu (4/5), tetapi setelah hendak ditangani dan dilakukan operasi, keponakan saya (korban) sudah dinyatakan meninggal Senin (5/6) pukul 06.00,” ujar Dwiyanti, bibi korban.
Dwi mengatakan, Riski sempat menjalani pemeriksaan. Namun, saat akan dilakukan operasi, detak jantungnya sudah tidak berdenyut lagi. ”Terdapat luka lebam di bagian dada, itulah yang kemungkinan menjadi penyebab korban meninggal,” katanya.
Pihak keluarga akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kalipuro agar ditindaklanjuti. Pihak keluarga juga minta pertanggungjawaban kepada perguruan silat atas kematian korban. ”Perguruan silat harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Dwi menceritakan, korban berangkat latihan sejak Sabtu (3/6) pukul 16.00. Korban berpamitan kepada keluarga hendak mengikuti ujian kenaikan sabuk di Ketapang. ”Ketika berangkat, kondisi korban dalam keadaan sehat dan baik-baik saja,” terangnya.
Keesokan harinya pihak keluarga menerima kabar kalau Riski masuk rumah sakit. ”Kami tidak mengetahui latihannya seperti apa, semoga ada kejelasan penyebab kematian dari pihak perguruan silat,” ungkap Dwi.
Kapolsek Kalipuro AKP Hadi Waluyo membenarkan ada siswa perguruan silat yang meninggal setelah mengikuti ujian kenaikan sabuk. Pihaknya masih melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) sembari menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit. ”Penyebab kematiannya apa, kami masih belum tahu. Menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit,” sebutnya.
Hadi menegaskan, korban memang mengikuti latihan uji kenaikan sabuk di salah satu perguruan silat. Selama latihan ada uji ketangkasan dan fisik. ”Kami masih cek TKP, selanjutnya akan mencari saksi-saksi. Yang ikut latihan ada sekitar 20 siswa, jumlah tersebut bukan termasuk pelatih atau seniornya,” terangnya.
Salah satu rekan korban menyebut, Riski dibawa ke rumah sakit setelah bertanding dengan senior atau pelatihnya. Riski yang melayangkan tendangan berhasil ditangkis oleh lawannya. Korban kemudian dibanting dan dipukul balik. ”Ada uji tanding melawan senior, ini sebagai ujian kenaikan. Akhirnya terjadilah kecelakaan yang membuat korban dibawa ke rumah sakit,” kata rekan Riski. (rio/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud