Saat ditangkap, kondisi Senan sangat lemah. Di perutnya ada luka yang cukup serius hingga ususnya terburai dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. “Di ususnya sudah ada belatung, bau sekali,” ungkapnya.
Ssaat ditangkap, Senan sudah akan menyerahkan diri. Dia sudah tidak kuat merasakan rasa sakit di perutnya. “Kondisinya sudah lemah sekali,” imbuh Rizal.
Dalam pengakuannya, Senan akan mengakhiri hidupnya sebelum ditangkap oleh warga. Ia membedel (merobek) perutnya sendiri dengan senjata tajam (sajam) jenis celurit yang dibawanya. “Ingin bunuh diri, tapi tidak mati,” katanya.
Menurut Rizal, pada Sabtu pagi (6/5) ada salah satu buruh perkebunan melihat Senan di sekitar lokasi kebun tebu. Hanya saja, warga tersebut ketakutan karena pria yang diduga telah membabat Bibit Prasetyo hingga tewas dan melukai Slamet itu masih membawa celurit. “Begitu melihat Senan, warga langsung lari, padahal Senan akan minta tolong kepada orang tersebut,” ungkap Rizal.
Hingga akhirnya, petugas keamanan perkebunan bersama polisi yang selama ini terus memburu Senan mendatangi tempat persembunyian Senan di kebun tebu. “Kita berhasil menemukan Senan di kebun tebu, perutnya terluka dan ususnya keluar,” ungkapnya.
Melihat kondisi Senan yang lemah dan ada luka cukup serius di perut, polisi dan petugas keamanan kebun langsung membawanya ke RSUD Genteng. “Kondisinya sudah parah, mengeluarkan bau yang tidak sedap,” ujar Direktur RSUD Genteng, dr Hj Siti Asiyah Angraeni.
Menurut Asiyah, luka pada perut lebarnya sekitar lima sentimeter, tapi kondisinya masih cukup stabil. “Dari usus besar yang sempat terburai itu sudah muncul belatung, kemungkinan luka itu lebih dari satu hari,” tandasnya.
Senan hanya beberapa saat di RSUD Genteng. Demi keamanan, aparat Polresta Banyuwangi akhirnya dirujuk ke RSUD Blambangan. ”Kami hanya membersihkan saja, kelanjutannya kami tidak bisa memberikan penjelasan karena dirujuk ke (RSUD) Blambangan,” pungkasnya. (sas/abi)
Editor : Gerda Sukarno Prayudha