Mayat Wahid itu, kali pertama ditemukan Harsono, 50. Saat itu, pria yang kesehariannya sopir dump truk itu telungkup di depan rumahnya yang dibuat jualan gorengn. “Kebetulan Harsono ini sudah mengenal korban,” cetus Kanitreskrim Polsek Srono Aiptu Slamet Edy pada Jawa Pos Radar Genteng.
Menurut Kanitreskrim, sekitar pukul 04.20, Wahid turun dari bus dan istirahat di warung gorengan milik Harsono. “Korban ini baru pulang dari Bali, lalu istirahat di depan rumah Pak Harsono yang dibuat warung,” ungkapnya.
Sekitar pukul 04.30, terang Kanitreskrim, Harsono sempat bertemu dan ngobrol dengan korban. Saat itu, sopir dump truk itu mengaku baru pulang dari Bali. “Waktu itu Pak Harsono akan belanja ke pasar,” terangnya.
Saat pulang dari pasar, Harsono kaget melihat temannya itu telungkup di tanah. Dilihat ada luka gores sepanjang tiga sentimeter di dahinya. “Korban sudah meninggal, Pak Harsono minta tolong ke warga, informasi ini cepat menyebar dan warga berdatangan,” ungkapnya.
Kanitreskrim menyebut anggotanya juga langsung ke lokasi kejadian setelah mendapat laporan warga. Untuk diketahui penyebab meninggalnya korban, jenazah dibawa ke RSUD Genteng. “Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan,” terangnya.
Luka goresan yang yang ada di dahi korban, masih kata Kanitreskrim, diduga akibat benturan saat jatuh tersungkur. “Dugaan sementara, korban meninggal sakit, mungkin sakit jantung,” katanya.
Dugaan korban meninggal karena sakit jantung, diragukan oleh Nur Kholis, 50, adik korban. Sebab, selama ini tidak memiliki riwayat sakit jantung. “Tidak pernah sakit aneh-aneh, kami semua (keluarga) bingung,” ucapnya seraya menyebut korban bekerja sebagai sopir dump truk hingga sopir travel.
Kholis berharap kepolisian bisa mengungkap penyebab kakaknya meninggal. Meski begitu, ia bersama keluarga sudah menerima kematian ini dan dianggap sebagai musibah. “Ini jenazah kita bawa pulang untuk dimakamkan,” terangnya saat ditemui di kamar jenazah RSUD Genteng.(sas/abi) Editor : Gerda Sukarno Prayudha