RADAR BANYUWANGI — Amerika Serikat akhirnya menuntaskan penarikan pasukannya dari Irak pada September 2026. Setelah lebih dari dua dekade sejak invasi 2003, berakhirnya kehadiran militer Washington menutup salah satu episode terpanjang keterlibatan AS di Timur Tengah sekaligus membuka babak baru bagi keamanan Irak.
Penarikan tersebut bukan sekadar berakhirnya operasi militer. Irak kini menghadapi pertanyaan besar: sejauh mana pasukan keamanannya mampu mengambil alih seluruh tanggung jawab keamanan tanpa dukungan langsung Amerika Serikat, sementara pengaruh Iran melalui jaringan politik dan kelompok milisi di Irak telah mengakar selama bertahun-tahun.
Dimulai dari Jatuhnya Saddam Hussein
Keterlibatan militer AS di Irak bermula dari invasi pada 2003 yang berujung pada jatuhnya rezim Saddam Hussein.
Namun, berakhirnya pemerintahan Saddam tidak serta-merta membawa stabilitas. Pasukan AS kemudian menghadapi pemberontakan bersenjata yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Situasi kembali berubah ketika kelompok ISIS menguasai sejumlah wilayah Irak dan menjadi ancaman besar bagi keamanan negara tersebut.
Amerika Serikat akhirnya kembali memperkuat keterlibatan militernya di Irak untuk membantu pasukan lokal menghadapi ISIS. Dukungan tersebut mencakup operasi militer, bantuan intelijen, pengawasan udara, serta dukungan terhadap kemampuan pasukan keamanan Irak.
Kini, seluruh rangkaian keterlibatan tersebut memasuki fase baru setelah penarikan pasukan AS selesai pada September 2026.
Tantangan Besar Setelah Pasukan AS Pergi
Bagi pemerintah Irak, berakhirnya kehadiran militer Amerika berarti meningkatnya tanggung jawab pasukan keamanan nasional.
Kemampuan Irak untuk menjalankan operasi keamanan secara mandiri menjadi salah satu perhatian utama. Selama menghadapi kelompok bersenjata, dukungan intelijen dan pengawasan udara dari AS menjadi bagian penting dalam operasi.
Tanpa kehadiran langsung pasukan Amerika, Irak harus memastikan kemampuan militernya mampu mengantisipasi dan merespons ancaman keamanan dengan sumber daya sendiri.
Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks karena keamanan Irak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan militer. Peta politik dan keberadaan kelompok bersenjata juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah keamanan negara tersebut.
Pengaruh Iran Semakin Menjadi Sorotan
Di tengah berakhirnya keterlibatan militer AS, Iran telah membangun pengaruh kuat di Irak selama bertahun-tahun.
Teheran memiliki hubungan dengan berbagai jaringan politik dan kelompok milisi di Irak. Kedekatan tersebut menjadikan Iran sebagai salah satu aktor penting dalam dinamika politik dan keamanan negara tetangganya itu.
Perubahan situasi setelah penarikan pasukan AS karena itu tidak hanya menyangkut hubungan Washington dan Baghdad. Pergeseran tersebut juga berlangsung dalam lingkungan regional yang melibatkan kepentingan Iran dan berbagai kelompok yang memiliki hubungan dengan Teheran.
Dua Dekade Keterlibatan Washington Berakhir
Penarikan pasukan AS pada September 2026 menandai perubahan besar dalam hubungan keamanan Washington dan Baghdad.
Dari invasi untuk menggulingkan Saddam Hussein, menghadapi pemberontakan, hingga kembali membantu Irak melawan ISIS, kehadiran militer Amerika telah menjadi bagian penting dari perjalanan Irak selama lebih dari dua dekade.
Kini, tanggung jawab keamanan berada semakin besar di tangan Irak sendiri.
Bagi Baghdad, fase baru ini akan menguji kemampuan institusi keamanan nasional dalam menjaga stabilitas tanpa dukungan militer langsung dari Washington. Pada saat yang sama, kuatnya jaringan politik dan kelompok milisi yang memiliki kedekatan dengan Iran membuat perkembangan keamanan Irak tetap menjadi bagian penting dari dinamika Timur Tengah. (*)
Editor : Ali Sodiqin