RADAR BANYUWANGI – Citra satelit terbaru Google Maps memperlihatkan perubahan drastis di Jalur Gaza setelah hampir tiga tahun perang. Dari Rafah di selatan hingga Gaza Utara, kawasan permukiman yang dulu padat kini di banyak lokasi tampak berubah menjadi hamparan reruntuhan, sementara lahan pertanian dan sejumlah tempat ibadah ikut terdampak.
Perubahan itu terlihat dalam perbandingan citra sebelum perang dengan gambar satelit terbaru yang dianalisis Al Jazeera. Di sejumlah kawasan, garis jalan utama masih menjadi penanda lokasi, tetapi blok-blok permukiman yang sebelumnya memenuhi kawasan tersebut nyaris tidak lagi terlihat.
Kondisi itu sejalan dengan penilaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai skala kerusakan di Gaza. Menurut OCHA, kebutuhan kemanusiaan masih sangat besar meski kerangka gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober 2025. Laporan OCHA 25 September 2026 menyebut 94 persen penduduk Gaza masih membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan rumah tangga dasar, sementara 65 persen rumah tangga masih bertahan di tenda atau tempat tinggal darurat.
Tal as-Sultan, Rafah: Permukiman yang Hampir Hilang
Tal as-Sultan di Rafah menjadi salah satu kawasan yang menunjukkan perubahan paling mencolok.
Sebelum perang, wilayah tersebut merupakan permukiman padat. Namun, citra satelit yang diperbandingkan Al Jazeera menunjukkan sebagian besar kawasan kini didominasi pasir dan bekas bangunan.
Rafah sebelumnya menjadi tempat berlindung bagi warga Palestina yang mengungsi dari berbagai wilayah Gaza. Ketika operasi militer Israel berlangsung di Rafah pada Mei 2024, sekitar satu juta orang kemudian dipaksa meninggalkan kawasan tersebut, menurut laporan yang dikutip Al Jazeera.
Banyak dari mereka kembali berpindah menuju Khan Younis dan Deir el-Balah.
Al-Mawasi Dipenuhi Tenda
Perubahan lain terlihat di Al-Mawasi, kawasan pesisir yang membentang di sepanjang wilayah Rafah dan Khan Younis.
Sebelum perang, kawasan itu relatif jarang penduduk dan sebagian berupa lahan pertanian serta hamparan pasir. Israel sebelumnya menetapkannya sebagai “zona kemanusiaan” dan meminta warga yang mengungsi mencari perlindungan di kawasan tersebut.
Namun, citra satelit terbaru menunjukkan perubahan besar. Area yang sebelumnya relatif kosong kini dipenuhi tenda dan tempat tinggal darurat.
Kondisi tersebut menggambarkan kepadatan tempat pengungsian di Gaza. OCHA pada akhir September menyebut terdapat 451 lokasi pengungsian berisiko tinggi terkena banjir, yang menampung sekitar 464.402 orang.
Masjid Istiqlal Indonesia di Khan Younis
Kehancuran juga terlihat di Khan Younis, salah satu pusat permukiman dan pertanian penting di Jalur Gaza.
Menurut penilaian UNOSAT yang dikutip dalam materi Al Jazeera, Khan Younis mencatat 51.885 bangunan rusak dalam penilaian Oktober 2025. Wilayah tersebut juga menjadi salah satu kawasan pertanian utama Gaza dengan kerusakan lahan pertanian yang luas.
Masjid Istiqlal Indonesia di kawasan Ma'an, Khan Younis, disebut hancur selama perang. Masjid tersebut sebelumnya baru dibuka kembali kurang dari dua tahun sebelum kehancuran terjadi.
Kerusakan fasilitas ibadah menjadi bagian dari perubahan lanskap perkotaan Gaza yang terlihat dari citra satelit.
Pelabuhan Gaza dan Hilangnya Aktivitas Nelayan
Di Gaza City, pelabuhan menjadi salah satu titik yang mengalami kerusakan berat.
Pelabuhan tersebut sebelumnya menjadi pusat industri perikanan yang menurut laporan Al Jazeera menopang kehidupan sekitar 110.000 orang. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan pelabuhan mengalami kerusakan parah dan sebagian besar kapal nelayan hancur.
Dalam penilaian UNOSAT yang dikutip Al Jazeera, wilayah Gaza mencatat 51.530 bangunan rusak, termasuk 41.663 bangunan di Gaza City.
Akibatnya, perubahan tidak hanya terlihat pada rumah dan fasilitas publik. Sektor ekonomi yang bergantung pada laut juga ikut terdampak.
Jabalia: Blok-Blok Permukiman Menjadi Reruntuhan
Di Gaza Utara, kehancuran terlihat di Jabalia, yang merupakan kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi di Gaza.
Citra satelit menunjukkan sejumlah blok permukiman di Jabalia berubah menjadi kawasan penuh reruntuhan. Wilayah Beit Lahiya, Jabalia dan komunitas lain di Gaza Utara mengalami operasi militer berulang, perpindahan paksa penduduk serta pembatasan akses bantuan kemanusiaan, menurut laporan PBB.
OCHA sebelumnya mencatat sekitar 94 persen lahan pertanian di Gaza Utara mengalami kerusakan hingga Juli 2025.
Kehancuran Berlanjut, Kebutuhan Kemanusiaan Membesar
Citra satelit memberikan gambaran visual mengenai kerusakan fisik, tetapi kondisi di lapangan menunjukkan dampaknya jauh lebih luas.
Laporan OCHA 18 September 2026 mencatat lebih dari 630 jenazah dan sisa-sisa manusia telah ditemukan dari bawah bangunan yang hancur antara November 2025 hingga September 2026. Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan lebih dari 8.000 orang masih hilang di bawah reruntuhan, menurut laporan tersebut.
Dalam periode 16-23 September 2026 saja, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 24 warga Palestina tewas dan 126 lainnya terluka. Angka tersebut membawa total korban yang dilaporkan sejak pengumuman gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 menjadi 1.402 tewas dan 4.881 luka-luka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip OCHA. OCHA menegaskan angka korban tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza dan belum seluruhnya diverifikasi secara independen oleh PBB.
Sementara itu, tantangan bagi warga yang masih bertahan di Gaza tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Menjelang musim hujan, ratusan ribu orang tinggal di tempat pengungsian yang rentan banjir, sementara pasokan tenda, perlengkapan tempat tinggal, bahan bangunan, peralatan berat dan kebutuhan lainnya masih menghadapi keterbatasan.
Dengan demikian, citra satelit terbaru tidak sekadar menunjukkan perubahan bentuk kota. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan bagaimana perang telah mengubah permukiman, lahan pertanian, tempat ibadah, pelabuhan dan ruang hidup masyarakat Gaza secara luas—sementara jutaan warga masih menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : OCHA OPT, Al Jazeera