Trump Bantah Tawarkan Aset Beku, Perundingan AS-Iran Masih Berlanjut

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Charlie Neibergall/AP Photo)
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Charlie Neibergall/AP Photo)

RADAR BANYUWANGI — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan bahwa pemerintahannya siap memberikan kelonggaran sanksi dan akses terhadap aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas kemajuan program nuklir Teheran. Bantahan itu muncul ketika kontak melalui mediator antara AS dan Iran kembali berlangsung untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berjalan berbulan-bulan.

Trump menyampaikan bantahan tersebut melalui platform Truth Social pada Senin, 28 September 2026.

“Ini tidak benar. Saya tidak memberikan tawaran apa pun kepada mereka.”

Pernyataan itu merupakan respons terhadap laporan media AS yang menyebut Washington terbuka terhadap keringanan sanksi dan pelepasan sebagian dana Iran yang dibekukan jika Teheran menunjukkan langkah konkret terkait program nuklirnya.

Namun, laporan mengenai kemungkinan konsesi tersebut berbeda dengan posisi publik Trump dalam beberapa hari terakhir. Pada 26 September, Trump mengatakan telah menolak proposal Iran yang mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan penghentian pertempuran dan dimulainya kembali negosiasi nuklir.

Laporan Konsesi Muncul di Tengah Perundingan

Laporan mengenai kemungkinan kelonggaran dari Washington sebelumnya dikutip Axios dan CNN dari pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Menurut laporan tersebut, Trump disebut bersedia mempertimbangkan keringanan sanksi serta akses terhadap dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir. Syaratnya, Teheran harus menunjukkan kemajuan konkret dalam persoalan nuklir.

Informasi tersebut menjadi penting karena isu sanksi dan aset Iran merupakan salah satu bagian dari tuntutan dalam proses negosiasi.

Namun, Trump secara terbuka membantah bahwa ia telah memberikan tawaran tersebut. Reuters juga melaporkan bahwa Trump menegaskan dirinya tidak menawarkan apa pun kepada Iran terkait isu tersebut.

Artinya, hingga Selasa (29/9), belum ada kesepakatan final antara Washington dan Teheran mengenai pencabutan sanksi maupun pelepasan aset Iran yang dibekukan.

Iran Tetap Buka Pintu Diplomasi

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya siap berunding mengenai program nuklir dan persoalan lain.

Namun, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menerima intimidasi atau paksaan. Posisi Teheran, menurut laporan Reuters, adalah Iran tidak mencari perang tetapi akan mempertahankan diri dari tekanan, ancaman, dan serangan.

Iran juga terus menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan membantah keinginan mengembangkan senjata nuklir.

Perbedaan posisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam upaya mencari kesepakatan.

Washington menjadikan pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu tujuan utama konfliknya dengan Teheran. Sementara Iran mempertahankan haknya untuk mengembangkan energi nuklir sipil.

Selat Hormuz Ikut Menentukan

Perundingan AS-Iran tidak hanya berkaitan dengan program nuklir.

Selat Hormuz menjadi salah satu isu penting karena jalur perairan tersebut berperan besar dalam distribusi energi global. Proposal Iran yang sebelumnya ditolak Trump mencakup pembukaan kembali selat, penghentian permusuhan, serta dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir.

Dalam perkembangan terbaru, para mediator masih berusaha mempertemukan posisi kedua negara.

Reuters melaporkan pejabat AS dan Iran melakukan pembicaraan terpisah melalui mediator pada 28 September. Upaya tersebut menjadi langkah terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar tujuh bulan.

Trump sendiri sebelumnya mengatakan kontak dengan mediator masih berlangsung dan mengindikasikan pembicaraan dapat berlanjut dalam pekan ini.

Dengan demikian, jalur diplomasi belum tertutup meski kedua pihak masih berbeda mengenai persyaratan kesepakatan.

Ekonomi Iran di Bawah Tekanan

Di tengah tarik-ulur diplomasi, tekanan ekonomi terhadap Iran terus menjadi bagian dari persoalan.

Nilai tukar rial Iran dilaporkan kembali menyentuh rekor terendah, menembus 2,5 juta rial untuk satu dolar AS. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap perekonomian Iran yang sebelumnya sudah menghadapi sanksi internasional.

Tekanan juga berkaitan dengan gangguan perdagangan dan ekspor energi selama konflik. Ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz turut memengaruhi pasar minyak dunia.

Kondisi ekonomi tersebut menjadi latar belakang penting dalam perundingan, tetapi belum berarti Washington dan Teheran telah mencapai titik temu.

Untuk saat ini, satu hal yang jelas: Trump membantah telah menawarkan keringanan sanksi kepada Iran, sementara kontak diplomatik tetap berjalan melalui mediator. Persoalan nuklir, sanksi, aset Iran, dan pembukaan Selat Hormuz masih menjadi paket isu yang harus dinegosiasikan sebelum kesepakatan dapat tercapai. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Reuters
nuklir Iran Trump Iran sanksi Iran diplomasi AS-Iran selat hormuz