RADAR BANYUWANGI — Ketegangan perang Amerika Serikat dan Iran kembali merembet ke pasar global. Bursa saham Asia bergerak melemah pada Selasa (29/9/2026) setelah Wall Street terkoreksi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun bertahan di sekitar level tertinggi sejak 2007 dan pasar minyak masih dibayangi ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz.
Gejolak tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik AS-Iran tidak berhenti di medan perang. Pergerakan harga minyak, inflasi, biaya pinjaman, hingga nilai aset finansial ikut terseret ketika investor mencoba mengukur risiko dari perang dan gangguan jalur perdagangan energi.
Di Asia, sejumlah indeks utama bergerak turun. Nikkei 225 Jepang, Kospi Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong melemah dalam perdagangan Selasa, sementara Shanghai Composite justru bergerak naik tipis.
Wall Street Turun, Yield Treasury Melonjak
Tekanan pasar sudah terlihat sejak perdagangan Senin (28/9) di Amerika Serikat.
S&P 500 turun 0,8 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,7 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,9 persen. Pada saat bersamaan, yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,27 persen sebelum ditutup sekitar 5,23 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield menjadi perhatian investor karena berpengaruh langsung terhadap biaya pembiayaan dan valuasi berbagai aset.
Kekhawatiran inflasi menjadi salah satu pemicunya. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya energi dan kemudian menekan harga barang serta jasa. Di sisi lain, beban utang pemerintah AS juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar obligasi.
Dengan kondisi tersebut, pasar saham menghadapi tekanan ganda: risiko geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan biaya modal di Amerika Serikat.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Salah satu kunci perkembangan pasar saat ini berada di Selat Hormuz.
Jalur perairan tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman minyak global. Karena itu, ketidakpastian mengenai kapan lalu lintas tanker dapat kembali berjalan normal membuat harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan perundingan Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak tawaran Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada saat yang sama, pembicaraan tidak langsung mengenai pembukaan jalur tersebut masih berlangsung dengan keterlibatan mediator regional.
Situasi itu membuat pasar belum mendapatkan kepastian mengenai pasokan energi dan jalur distribusinya.
Harga minyak Brent sempat menembus USD 100 per barel dalam perdagangan sebelumnya. AP melaporkan harga kemudian bergerak lebih rendah dan berada sekitar USD 97,55 per barel pada perdagangan Selasa pagi.
Pergerakan tersebut tetap jauh di atas level sebelum konflik meningkat pada tahun ini, sehingga risiko inflasi masih menjadi perhatian investor.
Bursa Asia Ikut Merespons
Tekanan dari Wall Street kemudian terasa di pasar Asia.
Nikkei 225 Jepang tercatat turun 0,6 persen menjadi 65.481,27. Kospi Korea Selatan melemah 0,3 persen menjadi 6.870,81, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,5 persen menjadi 24.523,57.
Shanghai Composite menjadi pengecualian dengan kenaikan sekitar 0,2 persen. Pergerakan positif itu terjadi setelah pemerintah Tiongkok menyampaikan upaya meningkatkan efektivitas kebijakan makroekonomi untuk mendukung pertumbuhan.
Di Hong Kong, saham Shein menjadi salah satu perhatian. Saham perusahaan ritel fesyen daring tersebut merosot sekitar 10,7 persen setelah melaporkan penurunan 67 persen pada laba bersih yang disesuaikan untuk periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Artinya, tidak seluruh pergerakan pasar Asia pada Selasa semata-mata berkaitan dengan konflik AS-Iran. Faktor korporasi dan kebijakan ekonomi domestik juga ikut memengaruhi indeks masing-masing negara.
Dampak ke Iran Makin Terlihat
Di Iran sendiri, tekanan ekonomi terlihat lebih langsung.
Nilai tukar rial Iran kembali mencapai rekor terendah pada Selasa. Pedagang di Teheran memperdagangkan dolar AS di atas 2,5 juta rial, turun tajam dari rekor sebelumnya sekitar 2,2 juta rial yang tercatat pada awal September.
Iran sebelumnya sudah menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional. Konflik yang berlangsung sejak Februari, blokade laut AS terhadap minyak Iran, serta sanksi baru terhadap ekspor minyak semakin menekan perekonomian negara tersebut.
Di tengah tekanan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi semakin serius. Iran sebelumnya mengaitkan pembukaan jalur tersebut dengan pencabutan sanksi, sementara Trump menolak tawaran tersebut.
Pasar Menunggu Kepastian Hormuz
Kini perhatian investor tertuju pada dua hal yang saling berkaitan: perkembangan konflik AS-Iran dan masa depan Selat Hormuz.
Jika gangguan pengiriman minyak berlanjut, tekanan terhadap harga energi dan inflasi dapat tetap menjadi perhatian pasar. Kondisi itu juga berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap suku bunga dan kemudian pergerakan yield obligasi serta saham.
Sebaliknya, perkembangan menuju pembukaan kembali jalur pelayaran dapat mengurangi salah satu sumber ketidakpastian utama di pasar energi.
Untuk sementara, investor masih berada dalam posisi menunggu. Perang AS-Iran kini bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga telah menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga minyak, obligasi, dan saham global. (*)
Editor : Ali Sodiqin