Iran Ultimatum Negara Tetangga yang Ikuti Sanksi AS, Bandara Bisa Jadi Sasaran Rudal

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:00 WIB
Serangan balasan Iran terhadap Israel berupa rudal balistik dan drone yang diluncurkan menuju sejumlah target di Israel. (X)
ILUSTRASI: Iran mengancam negara tetangga yang mengikuti sanksi AS terhadap maskapai Iran. Penerbangan regional terganggu dan risiko eskalasi meningkat. (X)

RADAR BANYUWANGI – Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangganya yang mengikuti pembatasan Amerika Serikat terhadap maskapai Iran. Teheran mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap negara yang membantu penerapan sanksi tersebut, ketika sejumlah rute penerbangan Iran mulai terhenti dan konektivitas udara regional kembali terganggu.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei meminta negara-negara tetangga tidak ikut dalam kebijakan Washington.

“Saya mendesak semua negara tetangga kami untuk tidak terlibat dalam petualangan Amerika Serikat. Petualangan ini akan segera berakhir dengan kegagalan,” ujar Rezaei kepada media pemerintah Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera.

Peringatan tersebut muncul setelah Amerika Serikat memperketat tekanan terhadap industri penerbangan Iran. Washington tidak hanya menargetkan maskapai, tetapi juga perusahaan asing dan penyedia layanan yang membantu operasional penerbangan Iran di luar negeri.

UEA Hentikan Penerbangan Maskapai Iran

Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat pada sejumlah jalur udara.

Pada Kamis (24/9), Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan penerbangan yang dioperasikan maskapai Iran dari dan menuju wilayah UEA. Otoritas penerbangan sipil UEA menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan sanksi AS terhadap maskapai Iran.

Sebelumnya, Azerbaijan dan Georgia juga telah menangguhkan penerbangan yang dioperasikan maskapai Iran. Sejumlah penerbangan menuju Baghdad, Irak, dan Muscat, Oman, turut dibatalkan.

Sementara itu, beberapa koneksi penerbangan menuju Turkiye dan China masih berjalan, meski sebagian penerbangan juga mengalami pembatalan.

Situasi tersebut membuat jaringan penerbangan internasional Iran semakin terbatas.

Iran Ancam Balik Bandara Negara Tetangga

Rezaei memperingatkan negara-negara yang bekerja sama dengan kebijakan AS akan menghadapi konsekuensi dari Teheran.

“Jika suatu negara bekerja sama atau terlibat dalam petualangan bersama Amerika Serikat, bandara-bandara di negara tersebut tidak akan bisa lagi melayani penerbangan” ke Iran, kata Rezaei kepada televisi pemerintah Iran.

Ia juga mengatakan Iran akan memastikan bandara di negara yang menghentikan penerbangan Iran “tidak dapat beroperasi”.

Namun, hingga kini Teheran belum menjelaskan bentuk tindakan yang dimaksud. Belum jelas apakah ancaman tersebut akan diwujudkan melalui jalur diplomatik, tekanan ekonomi, atau tindakan militer.

Analis keamanan dan pertahanan Wolfgang Pusztai menilai kemungkinan Iran menyerang bandara negara-negara tetangga relatif kecil.

“Sangat kecil kemungkinannya Iran akan menyerang bandara-bandara ini,” ujar Pusztai kepada Al Jazeera.

Menurut dia, dampak praktis pembatasan penerbangan juga masih dapat terbatas karena Iran tetap memiliki hubungan udara dengan sejumlah negara yang belum tentu menerapkan pembatasan serupa.

AS Tekan Maskapai dan Penyedia Layanan

Ancaman Teheran tidak terlepas dari kebijakan terbaru Washington untuk mempersempit ruang gerak industri penerbangan Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan perusahaan asing yang tetap menyediakan layanan bagi pesawat Iran. Layanan tersebut mencakup pengisian bahan bakar, fasilitas pendaratan, layanan darat, hingga penjualan tiket.

Perusahaan yang tetap melayani maskapai Iran menghadapi risiko terkena sanksi sekunder dan kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar AS.

Kebijakan tersebut secara praktis dapat menyulitkan maskapai Iran menjalankan penerbangan internasional meski Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan langsung untuk menutup bandara atau wilayah udara negara lain.

Dengan membatasi perusahaan yang menyediakan layanan penting, operasional penerbangan Iran dapat terganggu dari sisi bahan bakar, pendaratan, hingga pelayanan penumpang.

Kapasitas Penerbangan Iran Sudah Turun

Tekanan terhadap penerbangan Iran datang ketika kapasitas internasional negara tersebut memang telah menyusut akibat konflik dan pembatasan sebelumnya.

Data perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan kapasitas penerbangan internasional dari Iran pada Agustus 2026 turun 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Terbatasnya penerbangan membuat sebagian penumpang beralih menggunakan jalur darat menuju negara seperti Turkiye dan Armenia.

Bagi industri penerbangan Iran, efeknya tidak hanya menyentuh maskapai. Sektor pariwisata dan perhotelan juga berpotensi terdampak ketika jumlah wisatawan dan mobilitas internasional menurun.

Konflik Mengguncang Industri Penerbangan Timur Tengah

Gangguan penerbangan juga menjadi salah satu dampak paling cepat terlihat dari konflik yang berlangsung di kawasan.

IATA memperkirakan maskapai di Timur Tengah secara kolektif akan mencatat kerugian bersih sekitar USD 4,3 miliar pada 2026, dengan penurunan kapasitas dan pembatalan penerbangan menjadi salah satu tekanan utama.

Sementara itu, World Travel & Tourism Council (WTTC) memperkirakan konflik tersebut telah menekan belanja wisatawan internasional di kawasan Timur Tengah setidaknya USD 600 juta per hari.

Dampaknya turut dirasakan pusat penerbangan regional. Lalu lintas penumpang di Bandara Internasional Dubai tercatat turun 31 persen pada paruh pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut laporan Al Jazeera.

Dengan semakin banyaknya negara yang membatasi penerbangan Iran, ketidakpastian terhadap jaringan transportasi udara Timur Tengah pun meningkat.

Bagi Iran, persoalannya bukan sekadar berkurangnya jumlah rute. Pembatasan tersebut juga mempersempit akses penerbangan internasional sekaligus memperlihatkan semakin kuatnya tekanan ekonomi dan transportasi yang dihadapi Teheran.

Di sisi lain, bagi negara-negara tetangga, keputusan untuk mematuhi sanksi AS membawa konsekuensi tersendiri di tengah ancaman balasan Iran. Benturan kepentingan inilah yang kini menjadi salah satu titik rawan baru dalam eskalasi konflik di kawasan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
konflik Iran Sanksi AS Penerbangan Iran Bandara Timur Tengah iran