Peta Mercator Dipersoalkan, Afrika Ingin Peta Dunia Lebih Proporsional

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 23:30 WIB
Peta negara2 Eropa saat bersanding di Peta Indonesia. (Instagram @geo.rof)
Peta negara2 Eropa saat bersanding di Peta Indonesia. (Instagram @geo.rof)

RADAR BANYUWANGI - Peta dunia yang selama puluhan tahun akrab di ruang kelas, buku pelajaran, hingga platform digital kini kembali dipersoalkan. Dorongan untuk meninggalkan proyeksi Mercator dan menggunakan Equal Earth mendapat momentum setelah Togo dan negara-negara Afrika sebelumnya berhasil mendorong keputusan PBB pada Maret 2026.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengubah cara dunia merepresentasikan Afrika. Bukan wilayahnya yang berubah, melainkan cara ukuran dan posisi wilayah itu digambarkan di atas bidang datar.

Keputusan PBB Jadi Pijakan Togo

Togo menjadi salah satu negara yang paling aktif mengampanyekan perubahan representasi geografis tersebut melalui gerakan #CorrectTheMap.

Pemerintah Togo menilai keberhasilan negara-negara Afrika dalam mendorong resolusi PBB pada Maret 2026 menunjukkan bahwa suara Afrika dapat memengaruhi agenda internasional.

Momentum itu kemudian ingin diperluas ke bidang kartografi.

Bagi Togo, peta bukan sekadar gambar geografis. Peta yang digunakan berulang kali di sekolah, media, buku, dan platform digital ikut membentuk persepsi masyarakat mengenai ukuran dan posisi suatu wilayah di dunia.

Mengapa Peta Mercator Dipersoalkan?

Proyeksi Mercator sudah digunakan selama berabad-abad dan memiliki fungsi penting, terutama untuk navigasi. Namun, konsekuensinya adalah distorsi ukuran wilayah, terutama ketika suatu kawasan berada semakin jauh dari garis khatulistiwa.

Akibatnya, wilayah seperti Greenland dan kawasan Eropa Utara dapat terlihat jauh lebih besar dibandingkan luas sebenarnya.

Sebaliknya, Afrika yang berada dekat khatulistiwa tampak lebih kecil dari ukuran sebenarnya jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah di lintang tinggi.

Padahal, secara luas daratan, Afrika merupakan salah satu benua terbesar di dunia.

Equal Earth Tawarkan Gambaran yang Berbeda

Equal Earth dikembangkan pada 2018 oleh sejumlah kartografer internasional dengan tujuan mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih proporsional.

Dengan proyeksi ini, bentuk benua memang tetap mengalami perubahan karena tidak ada peta datar yang dapat menggambarkan permukaan bumi secara sempurna. Namun, perbandingan luas antarkawasan dibuat lebih mendekati ukuran sebenarnya.

Perubahan tersebut membuat Afrika terlihat jauh lebih besar dibandingkan representasinya dalam banyak peta berbasis Mercator.

Indonesia juga akan terlihat berbeda. Namun, penting dicatat, tidak ada perubahan luas wilayah Indonesia maupun negara lain. Yang berubah hanyalah cara bumi diproyeksikan ke permukaan datar.

Bukan Sekadar Mengganti Gambar Peta

Dorongan #CorrectTheMap membawa persoalan kartografi ke ranah yang lebih luas.

Pendukung kampanye menilai representasi geografis yang lebih proporsional dapat membantu mengoreksi persepsi lama mengenai posisi Afrika dalam peta dunia.

Karena peta digunakan dalam pendidikan, publikasi, media, hingga teknologi digital, perubahan proyeksi berpotensi memengaruhi cara generasi baru memahami dunia.

Togo bahkan mengaitkannya dengan upaya dekolonisasi kurikulum pendidikan. Perspektif tersebut menempatkan perubahan peta sebagai bagian dari perdebatan mengenai bagaimana pengetahuan dan representasi geografis dibentuk.

Togo Ingin Momentum PBB Berlanjut

Setelah keputusan PBB pada Maret 2026 yang disebut mendapat dukungan negara-negara Afrika, Togo berencana membawa isu pemetaan ini ke pembahasan berikutnya.

Pertemuan yang direncanakan berlangsung di Lomé pada kuartal pertama 2027 itu akan melibatkan UNESCO, Uni Afrika, serta perusahaan teknologi yang menyediakan layanan peta digital, termasuk Google Maps.

Agenda tersebut menunjukkan bahwa perubahan proyeksi peta tidak cukup dilakukan hanya dengan mencetak peta baru.

Jika Equal Earth hendak digunakan secara lebih luas, perlu ada pembahasan mengenai pendidikan, publikasi, sistem informasi geografis, hingga platform digital.

Peta Berubah, Bumi Tetap Sama

Perdebatan ini pada akhirnya bukan mengenai perubahan bentuk bumi.

Afrika tidak tiba-tiba membesar. Eropa juga tidak menyusut. Indonesia tidak bertambah atau berkurang luasnya.

Yang berubah adalah sudut pandang manusia ketika melihat dunia melalui sebuah peta.

Itulah sebabnya keputusan PBB pada Maret 2026 menjadi penting bagi Togo. Keberhasilan membawa isu Afrika ke forum internasional ingin dijadikan pijakan untuk agenda berikutnya: mengubah cara dunia menggambarkan bumi, sekaligus mempertanyakan apakah peta yang selama ini dianggap biasa sebenarnya telah membentuk persepsi yang kurang proporsional tentang dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
peta dunia Equal Earth Mercator CorrectTheMap keputusan PBB