Peta Dunia Berubah, Afrika-Indonesia Tak Lagi Terlihat 'Kecil' di Mata Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB
Peta negara2 Eropa saat bersanding di Peta Indonesia. (Instagram @geo.rof)
Peta negara2 Eropa saat bersanding di Peta Indonesia. (Instagram @geo.rof)

RADAR BANYUWANGI — Peta dunia yang selama puluhan tahun akrab di ruang kelas dan layar digital berpotensi memasuki babak baru. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didorong meninggalkan dominasi proyeksi Mercator dan menggunakan Equal Earth, desain peta yang mempertahankan perbandingan luas wilayah agar benua dan negara terlihat lebih proporsional.

Dorongan tersebut digerakkan Togo melalui kampanye #CorrectTheMap dengan dukungan Uni Afrika. Pemerintah Togo menilai cara dunia melihat peta selama ini ikut membentuk persepsi yang tidak seimbang terhadap ukuran geografis, terutama Afrika yang tampak lebih kecil dibandingkan luas sebenarnya.

Jika gagasan itu diterapkan secara luas, perubahan paling mencolok bukanlah batas negara atau luas daratan. Yang berubah adalah cara ukuran wilayah ditampilkan di atas bidang datar.

Mengapa Peta Mercator Dipersoalkan?

Proyeksi Mercator bukanlah peta yang keliru. Sistem tersebut memiliki fungsi penting dalam sejarah kartografi, terutama untuk navigasi.

Persoalannya muncul ketika peta Mercator digunakan untuk membandingkan luas negara dan benua.

Dalam proyeksi ini, wilayah yang semakin jauh dari garis khatulistiwa mengalami pembesaran visual. Negara-negara di lintang tinggi akhirnya tampak lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Sebaliknya, kawasan yang berada di sekitar khatulistiwa terlihat relatif lebih kecil.

Afrika menjadi salah satu contoh yang paling sering digunakan dalam perdebatan tersebut. Dalam peta Mercator, benua Afrika tampak tidak sebesar ukuran sebenarnya jika dibandingkan dengan wilayah di lintang tinggi.

Padahal, secara luas daratan, Afrika merupakan salah satu benua terbesar di dunia.

Equal Earth Menawarkan Gambaran Berbeda

Proyeksi Equal Earth dikembangkan pada 2018 oleh para kartografer sebagai salah satu alternatif untuk menampilkan luas wilayah secara lebih proporsional.

Berbeda dengan Mercator yang memiliki keunggulan untuk kebutuhan navigasi, Equal Earth dirancang dengan fokus pada perbandingan luas daratan.

Artinya, ketika peta digunakan untuk melihat seberapa besar Afrika dibandingkan Eropa, Asia, Amerika, atau wilayah lainnya, perbedaan luas tersebut dapat digambarkan dengan lebih mendekati kondisi geografis sebenarnya.

Namun, seperti semua proyeksi peta, Equal Earth juga bukan gambaran sempurna bumi. Permukaan bumi berbentuk bulat, sedangkan peta dicetak atau ditampilkan dalam bidang datar. Distorsi tetap ada, tetapi karakter dan tujuan penggunaannya berbeda.

Kampanye #CorrectTheMap dari Togo

Pemerintah Togo menjadi salah satu penggerak utama kampanye #CorrectTheMap.

Gagasan tersebut mendapat dukungan Uni Afrika dan diarahkan untuk mendorong perubahan cara dunia merepresentasikan benua Afrika.

Pemerintah Togo berpendapat bahwa persoalan peta bukan hanya mengenai kartografi. Cara suatu wilayah ditampilkan juga dapat memengaruhi pemahaman masyarakat mengenai posisi geografis, demografi, ekonomi, hingga geopolitik.

Associate senior perusahaan penasihat risiko geopolitik JS Held, JJ Enoch, menilai penggunaan proyeksi dengan luas wilayah yang lebih setara dapat membantu memberikan gambaran geografis yang lebih akurat dalam pendidikan dan pemahaman publik.

Ia juga melihat kampanye tersebut dalam konteks upaya negara-negara Afrika memperkuat pengaruhnya dalam lembaga internasional.

Bukan Sekadar Mengganti Gambar Peta

Perubahan proyeksi peta tidak bisa dilakukan hanya dengan mengganti gambar di buku pelajaran.

Saat ini berbagai perusahaan teknologi dan platform digital menggunakan sistem pemetaan dengan tujuan berbeda-beda. Peta untuk navigasi, misalnya, memiliki kebutuhan yang tidak sama dengan peta yang digunakan untuk pendidikan atau membandingkan luas wilayah.

Karena itu, jika Equal Earth semakin banyak digunakan, prosesnya kemungkinan berlangsung bertahap dan bergantung pada kebutuhan masing-masing platform.

Togo berencana menggelar pertemuan di Lomé, ibu kota Togo, bersama UNESCO, Uni Afrika, serta perusahaan teknologi termasuk Google Maps pada kuartal pertama 2027.

Pertemuan tersebut direncanakan membahas kemungkinan implementasi perubahan penggunaan proyeksi peta dunia.

Indonesia Ikut Terlihat Berbeda

Perubahan proyeksi juga akan memengaruhi tampilan Indonesia.

Sebagai negara yang membentang di sekitar garis khatulistiwa, Indonesia selama ini ditampilkan dalam konteks proyeksi yang memberikan distorsi berbeda dibandingkan wilayah yang berada di lintang tinggi.

Dengan Equal Earth, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dapat terlihat lebih proporsional ketika dibandingkan dengan wilayah lain di dunia.

Namun, penting dicatat: Indonesia tidak menjadi lebih luas.

Tidak ada perubahan luas wilayah, batas negara, maupun posisi geografis. Perbedaannya hanya terdapat pada representasi visual ketika permukaan bumi dipindahkan ke bidang datar.

Mengapa Baru Sekarang?

Pemerintah Togo melihat momentum perubahan sebagai bagian dari upaya mengubah cara pandang global terhadap Afrika.

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menyatakan bahwa sudah waktunya negara-negara Afrika mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang dapat mereka ubah sendiri.

Rencana pembahasan dengan UNESCO, Uni Afrika, dan perusahaan teknologi pada 2027 menjadi salah satu langkah lanjutan dari kampanye tersebut.

Jika nantinya lebih banyak lembaga pendidikan dan platform digital mengadopsi proyeksi yang menekankan kesetaraan luas wilayah, peta dunia yang selama ini dikenal masyarakat bisa perlahan berubah.

Bukan karena bumi berubah bentuk, melainkan karena cara manusia menggambarkan bumi akhirnya ikut berubah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
peta dunia Equal Earth Mercator CorrectTheMap peta Afrika