Peta Mercator Dikoreksi, Begini Wajah Indonesia di Equal Earth

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 22:30 WIB
PBB mendorong penggunaan peta Equal Earth untuk menggambarkan luas negara lebih proporsional. Indonesia pun akan terlihat berbeda dari peta Mercator. (Instagram @voxnetizens)
PBB mendorong penggunaan peta Equal Earth untuk menggambarkan luas negara lebih proporsional. Indonesia pun akan terlihat berbeda dari peta Mercator. (Instagram @voxnetizens)

RADAR BANYUWANGI — Peta dunia yang selama berabad-abad menjadi rujukan di ruang kelas dan berbagai buku ternyata tidak sepenuhnya menggambarkan ukuran sebenarnya setiap wilayah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth untuk menggantikan dominasi peta Mercator, sehingga negara-negara di sekitar khatulistiwa, termasuk Indonesia, dapat terlihat lebih proporsional.

Perubahan ini bukan berarti bentuk bumi atau batas negara berubah. Yang berubah adalah cara permukaan bumi digambarkan dalam bidang datar. Proyeksi Equal Earth dirancang agar perbandingan luas antarbenua dan negara lebih mendekati kondisi geografis sebenarnya.

Langkah tersebut mendapat perhatian setelah Majelis Umum PBB pada 4 September 2026 mengesahkan resolusi bertajuk Correct the Map. Resolusi itu disponsori Togo dan disebut mendapat dukungan 164 negara, sementara Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak berdasarkan sumber yang dikutip dalam materi tersebut.

Mercator Bukan Salah, tetapi Punya Distorsi

Selama ini, proyeksi Mercator sangat familiar. Peta tersebut dikembangkan kartografer Gerardus Mercator pada 1569 dan sejak awal memiliki tujuan utama untuk membantu navigasi pelayaran.

Keunggulan Mercator terletak pada kemampuannya mempertahankan arah dan sudut secara konsisten. Karena itu, proyeksi ini sangat berguna bagi pelaut ketika menentukan arah perjalanan.

Masalahnya muncul ketika peta Mercator digunakan untuk membandingkan luas wilayah.

Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar distorsi ukurannya ketika ditampilkan dalam proyeksi tersebut. Negara dan benua di dekat kutub akhirnya terlihat jauh lebih besar dibandingkan luas sebenarnya.

Akibatnya, wilayah seperti Greenland tampak sangat besar dalam peta Mercator, sementara Afrika dan sejumlah negara di sekitar khatulistiwa terlihat relatif lebih kecil.

Padahal, luas Afrika jauh lebih besar dibandingkan Greenland.

Equal Earth Coba Mengembalikan Proporsi

Proyeksi Equal Earth dikembangkan pada 2018 oleh Bojan Šavrič, Bernhard Jenny, dan Tom Patterson.

Berbeda dengan Mercator yang menekankan fungsi navigasi, Equal Earth dirancang untuk memberikan gambaran luas daratan yang lebih proporsional.

Dalam proyeksi ini, wilayah di dekat kutub tidak mengalami pembesaran ekstrem seperti pada Mercator. Bentuk benua memang tetap mengalami penyesuaian karena bumi berbentuk bulat sementara peta berbentuk datar, tetapi perbandingan luasnya dibuat lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Itulah alasan proyeksi Equal Earth banyak digunakan ketika tujuan utama peta adalah membandingkan ukuran wilayah, bukan navigasi.

Indonesia Bisa Terlihat Lebih Besar

Bagi Indonesia, perubahan proyeksi peta memiliki efek visual yang cukup menarik.

Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa. Dalam peta Mercator, wilayah-wilayah di kawasan tropis dapat terlihat relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara yang berada di lintang tinggi.

Dengan Equal Earth, posisi dan luas Indonesia ditampilkan secara lebih proporsional terhadap negara serta benua lain.

Hal serupa berlaku bagi banyak wilayah Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Selatan yang berada di sekitar khatulistiwa.

Namun, perlu ditegaskan bahwa luas Indonesia tidak berubah. Tidak ada penambahan atau pengurangan wilayah akibat pergantian proyeksi peta.

Yang berubah hanyalah representasi visualnya.

Apakah Google Maps Langsung Berubah?

Belum tentu.

Resolusi PBB tersebut pada dasarnya merupakan dorongan dan rekomendasi agar penggunaan peta dunia memperhatikan representasi luas wilayah yang lebih akurat. Keputusan itu tidak otomatis memaksa seluruh perusahaan teknologi, layanan navigasi, maupun aplikasi pemetaan untuk mengganti proyeksi yang mereka gunakan.

Aplikasi navigasi memiliki kebutuhan berbeda. Untuk navigasi, proyeksi tertentu masih dapat memiliki keunggulan karena mampu mempertahankan arah dan sudut secara lebih konsisten.

Karena itu, peta untuk navigasi, pendidikan, statistik, dan perbandingan luas wilayah tidak selalu harus menggunakan proyeksi yang sama.

Bukan Sekadar Soal Ukuran

Perdebatan mengenai proyeksi peta sebenarnya sudah berlangsung lama.

Tidak ada proyeksi peta datar yang mampu menggambarkan bumi secara sempurna. Ketika permukaan bumi yang berbentuk tiga dimensi dipindahkan ke bidang datar, selalu ada aspek tertentu yang mengalami distorsi, baik bentuk, luas, jarak, maupun arah.

Karena itu, pemilihan proyeksi bergantung pada tujuan penggunaannya.

Mercator tetap memiliki nilai penting dalam sejarah navigasi. Sementara Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda ketika yang ingin ditonjolkan adalah perbandingan luas wilayah.

Dengan demikian, perubahan yang didorong PBB bukan sekadar mengganti gambar peta di dinding kelas. Ini menyangkut cara dunia melihat perbandingan ukuran negara dan benua.

Bagi Indonesia, salah satu hasil paling mudah terlihat adalah wilayah Nusantara dapat tampil lebih proporsional terhadap ukuran sebenarnya, bukan karena Indonesia berubah, melainkan karena cara bumi diproyeksikan ke dalam peta ikut berubah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
peta dunia Equal Earth peta Indonesia proyeksi Mercator resolusi PBB