Houthi Kepung Pasukan Pemerintah Yaman, Arab Saudi Kerahkan Jet Tempur

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 21:30 WIB
Pejuang Houthi mengawal konvoi yang membawa para tahanan yang dibebaskan di Mokha, melintasi Distrik Bani Matar dalam perjalanan menuju Sanaa, Yaman, pada Sabtu, 12 September 2026, setelah Houthi mengambil alih kota pelabuhan Laut Merah bagian selatan tersebut. (Foto AP/STR/Al Jazeera)
Pejuang Houthi mengawal konvoi yang membawa para tahanan yang dibebaskan di Mokha, melintasi Distrik Bani Matar dalam perjalanan menuju Sanaa, Yaman, pada Sabtu, 12 September 2026, setelah Houthi mengambil alih kota pelabuhan Laut Merah bagian selatan tersebut. (Foto AP/STR/Al Jazeera)

RADAR BANYUWANGI - Kelompok Houthi yang didukung Iran memperluas ofensifnya di Yaman. Setelah menguasai bentangan penting pesisir Laut Merah dan melancarkan serangan rudal serta drone ke Arab Saudi, kelompok tersebut kini bergerak mengincar wilayah pegunungan Taiz untuk memutus jalur pasokan pasukan pemerintah.

Perkembangan ini menandai babak baru konflik Yaman yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Houthi berupaya mengepung pasukan pemerintah, sementara Arab Saudi mengerahkan jet tempur dan sistem rudal untuk menahan laju kelompok tersebut ke arah selatan, terutama menuju Aden.

Aden menjadi lokasi penting karena merupakan basis pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Taiz Jadi Titik Panas Baru

Salah satu sasaran utama ofensif Houthi adalah Taiz. Wilayah pegunungan tersebut memiliki sejumlah jalur penting yang menghubungkan kawasan yang dikuasai pemerintah Yaman.

Analis Yaman Mohammed al-Basha mengatakan kepada CNN bahwa pemutusan jalur tersebut dapat mengancam koneksi transportasi dan pasokan antara wilayah-wilayah yang masih berada di bawah kendali pemerintah.

Meski demikian, pasukan Houthi menghadapi perlawanan dari sejumlah suku lokal. Situasi di lapangan masih berubah cepat dan belum menunjukkan keruntuhan pertahanan pemerintah seperti yang terjadi di front pesisir barat.

Pemerintah Yaman masih menguasai persimpangan jalan strategis yang menghubungkan Taiz dan Aden. Kawasan itu juga menjadi tempat tinggal bagi ratusan ribu orang yang mengungsi akibat konflik.

Arab Saudi Kerahkan Jet Tempur

Arab Saudi meningkatkan pengerahan kekuatan udara untuk menghentikan kemajuan Houthi.

Menurut sejumlah analis, serangan udara Saudi semakin intensif untuk membantu pasukan pemerintah Yaman mempertahankan wilayah strategis, termasuk di sekitar Marib dan Taiz.

Pemerintah Yaman pada Senin juga mengklaim pasukannya menyerang posisi dan jalur pasokan Houthi di kawasan strategis Bab al-Mandeb serta Provinsi Bayda.

Juru bicara militer Yaman Kolonel Majed al-Nazili menyebut serangan diarahkan terhadap personel, posisi, dan jalur logistik Houthi. Kementerian Informasi Yaman turut merilis rekaman yang disebut menunjukkan serangan terhadap posisi dan peralatan Houthi.

Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Sebaliknya, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengeklaim Arab Saudi telah melancarkan 157 serangan udara dan rudal di empat provinsi Yaman. Ia menyebut total serangan sejak eskalasi terbaru mencapai 917 kali.

Klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.

Bab al-Mandeb dalam Bayang-Bayang Konflik

Pergerakan Houthi menjadi perhatian bukan hanya karena perebutan wilayah Yaman. Kelompok tersebut telah menguasai bentangan panjang pesisir yang menghadap Laut Merah dan memiliki kendali atas kawasan Bab al-Mandeb.

Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Karena itu, konflik di sekitar kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap keamanan pelayaran dan jalur perdagangan internasional.

Kelompok Houthi sebelumnya juga mengancam dan menyerang kapal serta infrastruktur di kawasan tersebut sebagai bagian dari eskalasi konflik.

Marib Jadi Target Berikutnya?

Selain Taiz, pertempuran juga berlangsung di Provinsi Marib di bagian timur Yaman.

Marib memiliki arti strategis karena merupakan wilayah kaya minyak yang sejak lama menjadi salah satu sasaran Houthi.

Analis menilai Taiz dan Marib merupakan dua benteng penting bagi pemerintah Yaman. Penguasaan terhadap kedua wilayah tersebut dapat mengubah posisi pemerintah dalam konflik yang berlangsung panjang.

Namun, kemampuan Houthi untuk merebut kedua kawasan tersebut masih bergantung pada kekuatan pertahanan lokal dan kemampuan pemerintah Yaman mengoordinasikan pasukannya.

Inggris Beri Dukungan ke Arab Saudi

Di tengah tekanan terhadap Arab Saudi, Inggris menyatakan memberikan bantuan terbatas.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan pemerintahnya menyetujui dukungan berupa pengisian bahan bakar udara-ke-udara bagi jet tempur Saudi untuk periode tertentu.

Sementara itu, permintaan Riyadh kepada Amerika Serikat untuk melakukan serangan udara terhadap Houthi belum mendapatkan respons yang diharapkan.

Sikap Washington menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan konflik terbaru. The New York Times sebelumnya melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyetujui rencana serangan setelah mendapat panggilan dari Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, tetapi kemudian mengubah keputusannya.

Trump sebelumnya juga mengatakan Houthi tidak ingin berperang dengan Amerika Serikat dan masih membiarkan sebagian besar kapal melintas di Bab al-Mandeb.

G7 Desak Iran Hentikan Dukungan

Tekanan diplomatik juga meningkat.

Para menteri luar negeri negara-negara G7 dalam pernyataan bersama menyerukan Iran menghentikan persenjataan dan dukungannya kepada Houthi.

G7 juga meminta Houthi menghentikan seluruh tindakan militer, ancaman, dan serangan terhadap pelayaran sipil.

Turki turut menyatakan dukungan terhadap Arab Saudi setelah serangkaian serangan rudal dan drone Houthi. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyebut serangan tersebut sebagai persoalan serius terhadap integritas teritorial dan kedaulatan Saudi.

Namun, sejauh ini Arab Saudi belum mengaktifkan pakta pertahanan trilateral yang baru disepakati dengan Pakistan dan Turki.

Ambisi Houthi Melampaui Laut Merah

Perkembangan di medan perang menunjukkan bahwa tujuan Houthi tidak hanya berkaitan dengan tekanan terhadap Arab Saudi.

Sejumlah analis menilai kelompok tersebut berupaya mengonsolidasikan wilayah yang telah direbut sekaligus memperluas pengaruh teritorialnya.

Analis dari Middle East Institute, Ibrahim Jalal, mengatakan Houthi tidak harus mengalahkan Arab Saudi secara militer. Menurut dia, yang lebih penting bagi kelompok tersebut adalah memengaruhi seberapa besar Riyadh bersedia mengerahkan pendanaan, intelijen, logistik, pertahanan udara, hingga dukungan udara bagi pasukan pemerintah Yaman.

Karena itu, Houthi dinilai berusaha menghindari pertempuran perkotaan yang dapat menguras kekuatan. Strateginya adalah mengepung pasukan pemerintah dan memutus jalur logistik.

Warga Sipil Kembali Jadi Korban

Di tengah perebutan wilayah, dampak terhadap masyarakat sipil terus membesar.

Pertempuran di kawasan pesisir Laut Merah telah mendorong warga meninggalkan rumah mereka. Perempuan dan anak-anak dilaporkan berada di kamp pengungsian internal di sekitar Aden dan Taiz.

Yaman sendiri masih terpecah secara geografis. Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat, termasuk ibu kota Sanaa, tempat lebih dari 70 persen populasi negara itu tinggal.

Sementara itu, pemerintah yang diakui secara internasional menguasai sebagian wilayah selatan serta kawasan timur yang relatif jarang penduduk.

Dengan Houthi kini berupaya memperluas kendali menuju Taiz dan Marib, sementara Saudi memperkuat serangan udara, konflik Yaman memasuki fase yang semakin menentukan. Perebutan dua wilayah tersebut tidak hanya menyangkut peta kekuasaan domestik, tetapi juga keamanan Laut Merah dan posisi strategis negara-negara di kawasan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Houthi Yaman Perang Yaman Taiz Marib Arab Saudi Laut Merah