Diasuh Nenek Buta Huruf, Santosa Kini Raih Beasiswa Penuh ke London

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 01:30 WIB
Santosa saat berada di depan gedung Rik Medlik, University of Surrey, Inggris. Pemuda asal Muncar ini sukses menembus salah satu kampus pariwisata terbaik dunia lewat jalur beasiswa global. (Santoso for Radar Banyuwangi)
Santosa saat berada di depan gedung Rik Medlik, University of Surrey, Inggris. Pemuda asal Muncar ini sukses menembus salah satu kampus pariwisata terbaik dunia lewat jalur beasiswa global. (Santoso for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Dari rumah sederhana di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Santosa membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari perjalanan pendidikan. Pemuda 26 tahun itu berhasil meraih beasiswa penuh Global Leadership Scholarship Award untuk melanjutkan studi di The University of Surrey, Inggris, setelah sebelumnya diterima di sembilan kampus ternama di Inggris, Australia, dan Selandia Baru.

Perjalanan Santosa menuju London tidak lahir dari privilege. Sejak berusia tiga tahun, dia tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan diasuh neneknya, Rusemi, yang tidak mengenyam pendidikan formal.

Bahkan, selepas lulus SMKN 1 Banyuwangi, Santosa nyaris harus mengubur impian melanjutkan pendidikan karena persoalan biaya. Sang nenek sempat meminta Santosa segera bekerja agar dapat membantu menopang kebutuhan keluarga.

Namun, dua gurunya, Astari Asri Lestari dan Rohimah, mendorongnya untuk tetap mengejar pendidikan.

“Saya adalah generasi pertama di keluarga yang bisa mengejar pendidikan dari SD hingga Magister ke luar negeri,” kenang Santosa.

Bidikmisi Jadi Tiket Pertama

Masa kecil Santosa dihabiskan di Desa Sumbersewu. Ia menempuh pendidikan di SDN 2 Sumbersewu, kemudian melanjutkan ke SMPN 3 Muncar dan SMKN 1 Banyuwangi.

Titik balik datang ketika Santosa berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Bantuan pendidikan tersebut menjadi jembatan baginya untuk melanjutkan studi S1 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Di bangku kuliah, Santosa bukan hanya mengejar kelulusan. Ia aktif mengembangkan kapasitas akademik hingga meraih predikat Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) dan kemudian menyelesaikan pendidikan sebagai lulusan berprestasi pamuncak tingkat universitas.

Dari Bali, langkahnya mulai mengarah ke panggung internasional.

Bukan Hanya Bermodal Ijazah

Santosa membangun portofolio profesional di industri hospitalitas internasional. Pengalamannya tidak hanya diperoleh dari ruang kuliah, tetapi juga dari dunia kerja.

Ia pernah bekerja di Ayers Rock Resort Uluru dan Wyndham Alpine Resort di Australia. Pengalaman tersebut kemudian dilengkapi dengan kiprahnya di industri perhotelan, termasuk hotel bintang lima di kawasan Nusa Dua, Bali.

Jam terbang di Australia dan Bali ikut membentuk visi Santosa mengenai masa depan pariwisata Indonesia.

Ia membawa gagasan tentang pembangunan pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan regeneratif. Gagasan tersebut menjadi salah satu modal ketika dirinya mendaftar program magister di berbagai universitas luar negeri.

Hasilnya cukup mencolok. Santosa dinyatakan diterima di sembilan kampus ternama yang tersebar di Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Beberapa di antaranya University of Glasgow, Queensland University, dan Waikato University.

Namun, setelah melalui proses seleksi beasiswa yang ketat, Santosa akhirnya memilih The University of Surrey.

Bawa Nama Indonesia ke London

Keberangkatan Santosa ke Inggris bukan semata tentang mengejar gelar akademik. Ada misi lain yang ingin dibawanya: memperkenalkan Indonesia melalui pariwisata, budaya, dan kuliner.

Pemuda asal Banyuwangi itu ingin memanfaatkan jejaring internasionalnya untuk mengenalkan berbagai destinasi pariwisata Indonesia kepada masyarakat internasional. Ia juga berencana menghadiri berbagai konferensi pariwisata global untuk memperluas jaringan dan wawasan.

“Saya di sini (London, red) sangat bangga sekali bisa menjadi representasi Indonesia untuk mengenalkan daerah pariwisata kita ke rekan-rekan internasional saya,” kata Santoso.

Pengalaman di industri hospitalitas internasional menjadi bekalnya untuk berbicara tentang Indonesia dari perspektif yang lebih luas. Bagi Santosa, pariwisata bukan sekadar perjalanan dan destinasi, tetapi juga berkaitan dengan budaya, masyarakat, keberlanjutan, dan peluang ekonomi.

Dari Keterbatasan Menjadi Pesan

Kisah Santosa sekaligus menjadi refleksi tentang bagaimana akses pendidikan dapat mengubah arah hidup seseorang.

Ia pernah berada pada titik ketika biaya hampir menghentikan perjalanan pendidikannya. Beasiswa Bidikmisi kemudian membuka pintu perguruan tinggi. Prestasi akademik dan pengalaman profesional membawanya melangkah lebih jauh hingga akhirnya mendapatkan beasiswa penuh untuk studi di Inggris.

Kini, dari London, Santosa ingin mengirim pesan kepada anak-anak muda yang mungkin sedang menghadapi keterbatasan serupa.

“Semua orang berhak mendapatkan pendidikan agar bisa menjadi sumber daya cerdas yang mampu menjadi problem solver terhadap masalah urgen di sekitar kita. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Jika saya bisa melaluinya, setiap orang pun juga pasti bisa,” tegasnya.

Dari Sumbersewu ke London, perjalanan Santosa menunjukkan satu hal: keterbatasan ekonomi pernah menjadi rintangan, tetapi bukan penentu akhir. Beasiswa, dukungan guru, prestasi akademik, pengalaman profesional, dan keberanian membuka jejaring internasional mengantarkannya hingga ke salah satu kampus di Inggris—dengan misi membawa cerita tentang pariwisata dan Indonesia ke panggung global. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Santosa Banyuwangi Beasiswa London University of Surrey Pemuda Muncar pariwisata indonesia