RADAR BANYUWANGI— Dua peti mati simbolis bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diarak dalam pawai di Teheran, Jumat (18/9/2026). Aksi tersebut menjadi bagian dari demonstrasi kekuatan Iran di tengah perang yang masih berlangsung dan ancaman eskalasi baru dengan Amerika Serikat serta Israel.
Peti mati yang masing-masing diberi nama dan gambar Trump serta Netanyahu itu dibawa dalam pawai yang digelar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Keduanya ditutup dengan bendera Amerika Serikat dan Israel, sementara peserta aksi meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel serta menginjak-injak kedua bendera tersebut. Reuters dan AP melaporkan pawai itu sebagai demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah Iran untuk menunjukkan kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan.
Bukan sekadar parade militer, Teheran menggunakan momentum tersebut untuk memperlihatkan tiga hal sekaligus: kesiapan pertahanan, mobilisasi masyarakat, dan pesan politik bahwa Iran tetap bersiap menghadapi kemungkinan serangan berikutnya.
Peti Mati Trump dan Netanyahu Jadi Simbol
Pawai di ibu kota Iran berlangsung ketika konflik dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki fase yang panjang.
Visual dua peti mati dengan wajah Trump dan Netanyahu menjadi salah satu simbol paling mencolok dalam aksi tersebut. Peserta juga membawa bendera Iran dan sejumlah perlengkapan yang berkaitan dengan pertahanan.
Menurut laporan Reuters, anggota Garda Revolusi perempuan terlihat membawa senapan dalam pawai. Sistem pertahanan udara, kendaraan yang membawa senapan mesin, hingga drone yang disebut digunakan dalam operasi di sekitar Selat Hormuz juga dipamerkan.
Pawai tersebut diikuti relawan berseragam tempur, anggota Basij, serta kelompok pendukung pemerintah lainnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama para komandan militer dan sejumlah pejabat senior turut menyaksikan kegiatan tersebut.
Ratusan Ribu Orang Diklaim Hadir
Pemerintah Iran menyebut pawai tersebut diikuti massa dalam jumlah besar.
Televisi pemerintah Iran memperkirakan lebih dari 300.000 orang berada di jalan-jalan Teheran pada Jumat pagi. Sementara itu, Jenderal Hassan Hassanzadeh, komandan Garda Revolusi wilayah Teheran, mengatakan lebih dari 600.000 orang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan militer terbatas.
Jumlah peserta pelatihan itu, menurut keterangan pejabat Iran, diperkirakan dapat menembus 1 juta orang.
Namun, angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. AP juga melaporkan bahwa pawai itu merupakan demonstrasi pemerintah yang melibatkan ratusan ribu orang di ibu kota.
Relawan Dilatih untuk Pertahanan
Mobilisasi tidak berhenti pada pawai.
Iran juga menggelar program bernama Janfaday-e Iran, yang secara umum diterjemahkan sebagai orang-orang yang siap mengorbankan diri untuk Iran.
Program tersebut ditujukan untuk memberikan pelatihan militer terbatas kepada warga. Media pemerintah sebelumnya mendorong masyarakat untuk bergabung, dengan pelatihan yang antara lain mencakup penggunaan senapan serbu.
Para relawan diposisikan sebagai lapisan tambahan pertahanan di luar IRGC dan milisi Basij.
Kepala Basij Hossein Taeb mengatakan para peserta akan dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan serangan terhadap Iran.
Dalam pidatonya, Taeb menyebut mereka akan menjadi kekuatan pertahanan penuh dan mengatakan kegiatan serupa akan digelar di kota-kota lain. Ia juga menggambarkan para relawan sebagai ancaman serius bagi pihak yang menyerang Iran.
Pawai Digelar di Tengah Tekanan Ekonomi
Pemandangan massa memenuhi jalan-jalan Teheran berlangsung ketika Iran juga menghadapi tekanan ekonomi dan militer.
Konflik dengan Amerika Serikat dan Israel telah berdampak terhadap jalur perdagangan serta energi kawasan. Sementara itu, sanksi Amerika Serikat dan blokade laut terhadap pelabuhan Iran menambah tekanan terhadap perekonomian negara tersebut. (AP News)
Selat Hormuz juga menjadi salah satu titik paling sensitif.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan jalur penting bagi pengiriman energi dunia. Ketegangan di kawasan itu telah mengganggu lalu lintas kapal dan meningkatkan perhatian pasar global terhadap keamanan pasokan minyak dan gas. (AP News)
Pada periode yang sama, Iran juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker berbendera Togo di Selat Hormuz karena disebut berusaha melintas tanpa izin. AP melaporkan klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. (AP News)
Pesan untuk Trump dan Israel
Bagi pemerintah Iran, pawai tersebut menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa tekanan militer dan ekonomi belum membuat Teheran menghentikan mobilisasi pertahanannya.
Salah seorang peserta, Marzieh Afaghi, 24 tahun, mengatakan kehadirannya merupakan bentuk penolakan terhadap ancaman Amerika Serikat.
Pernyataan itu menggambarkan pesan yang ingin ditonjolkan pemerintah melalui aksi tersebut: menunjukkan dukungan dan kesiapan masyarakat menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel juga belum menunjukkan bahwa ketegangan telah benar-benar berakhir. Presiden Trump sebelumnya mengatakan berharap perang segera berakhir, tetapi juga menyatakan masih menghadapi keputusan besar mengenai langkah berikutnya terhadap Iran. ()
Dengan demikian, pawai Teheran bukan hanya tentang peti mati simbolis Trump dan Netanyahu. Iran sedang memperlihatkan mobilisasi masyarakat, perangkat militer, serta kesiapan pertahanan ketika konflik dengan AS dan Israel belum menemukan titik akhir. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com, Reuters