RADAR BANYUWANGI — Pintu perundingan Iran-Amerika Serikat (AS) kembali terbuka, tetapi belum sepenuhnya mengarah ke meja negosiasi. Tehran mengaku telah mengirim tujuh syarat kepada Washington melalui Qatar sebagai mediator dan kini menunggu jawaban Presiden AS Donald Trump. Dari tujuh syarat itu, Iran baru mengungkap tiga tuntutan secara terbuka: perang dihentikan di seluruh front, dana Iran yang dibekukan dilepas, dan blokade laut terhadap Iran diakhiri.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Qatar telah menyampaikan persyaratan tersebut kepada Washington. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Al Jazeera ketika konflik AS-Iran masih berlangsung.
"Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan syarat-syarat kami kepada Washington dengan tujuan mengakhiri perang. Kami menunggu jawaban Presiden Donald Trump," kata Rezaei.
Tawaran tersebut datang di tengah upaya Qatar dan Pakistan menghidupkan kembali jalur komunikasi antara Tehran dan Washington setelah memorandum of understanding (MoU) kedua negara berakhir.
Tiga Syarat Iran yang Dibuka
Rezaei secara terbuka menyebut tiga tuntutan utama Tehran.
Pertama, penghentian perang di seluruh front. Artinya, Iran tidak menginginkan penghentian pertempuran yang hanya berlaku pada satu wilayah atau satu pihak.
Kedua, pembebasan dana Iran yang dibekukan di luar negeri.
Ketiga, penghentian blokade laut yang diberlakukan terhadap Iran.
"Kondisi kami adalah mengakhiri perang di semua front, membebaskan dana kami yang dibekukan dan mengakhiri blokade laut," ujar Rezaei.
Tiga tuntutan tersebut bukan hal yang sepenuhnya baru. Pada Agustus lalu, Rezaei juga menyatakan Iran mengaitkan pembukaan kembali jalur pelayaran dengan penghentian perang dan blokade serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Tehran Tunggu Jawaban Trump
Kini bola berada di Washington. Rezaei menyatakan Tehran menunggu respons Trump terhadap persyaratan yang telah disampaikan melalui Qatar.
Namun, proses menuju perundingan tidak otomatis berjalan mulus. Iran tetap mempertahankan bahasa keras terhadap Washington.
"Ini adalah kepentingan Washington untuk menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan mencapai hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan," tegas Rezaei.
Di sisi lain, sejumlah pengamat melihat perubahan tertentu dalam posisi Iran. Mantan Direktur Urusan Semenanjung Arab Pentagon David Des Roches mengatakan Washington kemungkinan akan menilai persyaratan tersebut sebagai tuntutan yang berat untuk dijadikan titik awal negosiasi.
Meski demikian, dia mencatat satu perubahan: Iran tidak lagi mencantumkan tuntutan pembayaran reparasi perang yang sebelumnya pernah muncul dalam posisi Tehran.
Perang Belum Berakhir
Di tengah diplomasi yang mulai bergerak, Iran menegaskan konflik secara praktis masih berlangsung.
Rezaei bahkan menyebut Tehran telah menyiapkan strategi militer baru jika serangan AS kembali terjadi. Fokus perencanaan Iran, menurut dia, kini diarahkan pada aset-aset angkatan laut AS di kawasan Teluk hingga Teluk Oman dan Laut Arab.
Dia juga mengatakan Iran baru-baru ini menguji rudal antikapal dengan beberapa hulu ledak di sekitar kapal atau kapal induk AS. Klaim mengenai kemampuan tersebut merupakan pernyataan pejabat Iran dan tidak secara independen memverifikasi kemampuan militernya.
Rezaei memperingatkan bahwa serangan baru akan dibalas dengan kekuatan besar. Ia mengatakan respons Iran tidak hanya berpotensi menyasar pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga kepentingan komersial dan perusahaan AS yang beroperasi secara lokal.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi dan ancaman eskalasi berjalan bersamaan.
Dari MoU ke Meja Perundingan Baru
Jalur komunikasi Iran-AS sebelumnya menghasilkan MoU pada Juni. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon, serta penghentian blokade laut terhadap Iran. Namun, kesepakatan itu kemudian runtuh dan konflik kembali berlanjut.
Kini Qatar dan Pakistan kembali berperan sebagai mediator untuk membuka jalan komunikasi.
Rezaei mengatakan Iran menjalankan strategi baru untuk mempercepat berakhirnya konflik.
"Kami bekerja berdasarkan strategi baru untuk mengakhiri perang ini sesegera mungkin," ujarnya.
Dengan demikian, perkembangan terbaru belum berarti perang Iran-AS telah berakhir. Yang berubah adalah adanya pesan resmi dari Tehran kepada Washington melalui mediator.
Iran menawarkan syarat, Qatar menyampaikannya, dan Tehran kini menunggu jawaban Trump. Apakah pesan itu menjadi pintu menuju perundingan baru atau justru berhadapan dengan eskalasi berikutnya, masih bergantung pada respons Washington dan perkembangan di lapangan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Al Jazeera