Sahara Barat dan Donald J. Trump Highway: Mengapa Gurun Ini Jadi Titik Panas Dunia?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 19:00 WIB
Sahara barat yang masih jadi sengketa dunia. (Radar Kediri)
Sahara barat yang masih jadi sengketa dunia. (Radar Kediri)

RADAR BANYUWANGI — Nama Donald J. Trump Highway kini melekat pada jalur sepanjang 1.055 kilometer yang menghubungkan Tiznit hingga Dakhla di Maroko. Namun di balik nama besar itu, ada wilayah yang jauh lebih kompleks: Sahara Barat, kawasan yang status akhirnya masih menjadi sengketa internasional dan telah menjadi salah satu persoalan dekolonisasi yang panjang di Afrika.

Jalan yang membentang ke arah selatan Maroko itu bukan sekadar proyek infrastruktur. Jalur Tiznit-Dakhla melewati kawasan yang oleh Maroko disebut sebagai provinsi-provinsi selatan, sementara dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sahara Barat tetap tercatat sebagai Non-Self-Governing Territory dan menjadi wilayah yang ditangani dalam proses politik internasional. PBB juga masih menjalankan misi MINURSO di kawasan tersebut. 

Pada Juli 2026, Raja Mohammed VI menyampaikan keputusan untuk menamai jalan ekspres Tiznit-Dakhla sebagai “Donald J. Trump Highway”. Menurut media pemerintah Maroko, keputusan tersebut dikaitkan dengan pengakuan Amerika Serikat pada 2020 terhadap klaim kedaulatan Maroko atas Sahara Barat. Trump kemudian menyampaikan terima kasih kepada Raja Mohammed VI melalui Truth Social. 

Di titik inilah sebuah nama jalan bertemu dengan sejarah, geopolitik, dan masa depan sebuah wilayah gurun di pesisir Atlantik Afrika.

Sahara Barat Itu Di Mana?

Sahara Barat berada di pesisir barat laut Afrika, menghadap Samudra Atlantik. Wilayah ini berbatasan dengan Maroko di utara, Aljazair di timur laut, serta Mauritania di timur dan selatan.

Sebagian besar wilayahnya berupa bentang alam gurun. Laayoune menjadi salah satu kota utama di kawasan tersebut, sementara Dakhla berada lebih jauh ke selatan di pesisir Atlantik.

Secara geografis, kawasan ini terlihat seperti wilayah tandus yang luas. Namun letaknya menjadikan Sahara Barat penting dalam peta Afrika Utara: berada di jalur Atlantik, berdekatan dengan Mauritania dan menghadap jalur perdagangan menuju Afrika Barat.

Karena itu, persoalan Sahara Barat tidak semata-mata berbicara mengenai garis batas. Di dalamnya terdapat kepentingan politik, ekonomi, sumber daya, infrastruktur, serta akses menuju kawasan Sahel.

Mengapa Sahara Barat Menjadi Wilayah Sengketa?

Akar persoalan modern Sahara Barat berkaitan dengan sejarah kolonial Spanyol.

Ketika Spanyol meninggalkan wilayah tersebut pada 1976, terjadi perebutan klaim dan penguasaan antara Maroko dan gerakan kemerdekaan Front Polisario, yang memproklamasikan Republik Demokratik Arab Sahrawi.

Konflik bersenjata kemudian berlangsung selama bertahun-tahun. PBB membentuk United Nations Mission for the Referendum in Western Sahara (MINURSO) pada 1991 untuk mendukung penyelesaian politik dan memantau gencatan senjata. Namun, proses penyelesaian final mengenai status wilayah tersebut belum menghasilkan kesepakatan. 

Gambaran PBB mengenai kawasan ini juga berbeda dengan narasi kedaulatan Maroko. Dalam dokumen PBB, Sahara Barat tetap ditampilkan sebagai wilayah tersendiri dalam kerangka Non-Self-Governing Territories. Peta PBB bahkan memberikan catatan bahwa batas dan nama yang ditampilkan tidak berarti pengakuan atau penerimaan resmi atas status politik suatu wilayah. 

Karena itu, menyebut Sahara Barat sebagai wilayah yang telah sepenuhnya terselesaikan statusnya akan mengabaikan posisi hukum dan politik internasional yang masih berlangsung.

Maroko dan Front Polisario Berada di Dua Posisi Berbeda

Maroko mempertahankan klaim kedaulatan atas Sahara Barat dan menawarkan otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai dasar penyelesaian.

Di sisi lain, Front Polisario mempertahankan tuntutan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Sahrawi dan selama sejarah konflik menjadi pihak utama yang berseberangan dengan Maroko.

Perbedaan mendasar tersebut membuat Sahara Barat tetap menjadi agenda diplomatik PBB.

Konflik bersenjata skala besar memang telah berakhir melalui gencatan senjata 1991, tetapi PBB mencatat bahwa gencatan senjata tersebut runtuh pada 2020 dan MINURSO masih menjalankan tugas pemantauan serta pelaporan situasi di lapangan. 

Lalu, Apa Hubungannya dengan Donald J. Trump Highway?

Di sinilah proyek jalan Tiznit-Dakhla menjadi menarik.

Jalur sepanjang 1.055 kilometer itu menghubungkan Tiznit di utara dengan Dakhla di selatan, melewati sejumlah kawasan termasuk Guelmim dan Laayoune. Proyek tersebut merupakan bagian dari program pembangunan infrastruktur di wilayah selatan Maroko.

Pemerintah Maroko menggambarkan jalan tersebut sebagai koridor strategis yang meningkatkan konektivitas, memperlancar transportasi barang dan orang, sekaligus memperkuat hubungan antara wilayah utara dan selatan negara itu. 

Raja Mohammed VI menyampaikan keputusan penamaan tersebut dalam surat bertanggal 2 Juli 2026. Dalam surat itu, ia mengaitkan penghormatan kepada Trump dengan pengakuan Amerika Serikat pada 2020 terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara Barat. 

Trump kemudian merespons melalui Truth Social pada 26 Juli 2026 dan menyampaikan terima kasih kepada Raja Mohammed VI serta harapannya dapat menempuh seluruh jalur tersebut suatu hari nanti. 

Dengan demikian, nama Donald J. Trump Highway tidak berdiri sendiri. Ia muncul dalam konteks hubungan Maroko-Amerika Serikat dan kebijakan Washington mengenai Sahara Barat.

Amerika Serikat Mengambil Posisi Berbeda

Pada Desember 2020, pemerintahan Trump menerbitkan proklamasi yang menyatakan Amerika Serikat mengakui kedaulatan Maroko atas seluruh wilayah Sahara Barat dan mendukung proposal otonomi Maroko sebagai dasar penyelesaian sengketa. Dokumen tersebut juga menyebut rencana mendorong pembangunan ekonomi dan sosial di wilayah Sahara Barat. 

Posisi Washington kembali ditegaskan dalam pesan Trump kepada Raja Mohammed VI yang diumumkan pada Agustus 2026. Dalam pesan tersebut, Trump kembali menyatakan bahwa Amerika Serikat mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat dan mendukung proposal otonomi Maroko. 

Namun, posisi Amerika Serikat tersebut merupakan posisi satu negara. Status Sahara Barat dalam sistem PBB tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Di sinilah penting membedakan pengakuan bilateral suatu negara dengan penyelesaian status internasional sebuah wilayah.

Jalan 1.055 Kilometer di Tengah Gurun

Secara fisik, Donald J. Trump Highway adalah proyek transportasi yang sangat besar.

Menurut media pemerintah Maroko, jalan tersebut membentang dari Tiznit ke Dakhla dan melewati wilayah seperti Guelmim serta Laayoune. Infrastruktur itu dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran perjalanan sekaligus memperkuat pergerakan manusia dan barang menuju wilayah selatan. 

Jalur tersebut juga ditempatkan dalam visi pembangunan kawasan Atlantik Maroko. Dakhla diproyeksikan menjadi salah satu simpul ekonomi dan logistik penting, termasuk melalui rencana pembangunan pelabuhan Atlantik Dakhla.

Sejak 2015, Maroko memang telah memasukkan pengembangan konektivitas Tiznit-Dakhla ke dalam agenda pembangunan wilayah selatan. Dokumen resmi Maroko menyebut rencana jalan tersebut sebagai bagian dari upaya menghubungkan wilayah utara dan selatan sekaligus memperkuat konektivitas dengan Afrika.

Mengapa Nama Jalan Ini Menarik Perhatian?

Karena jalan tersebut melewati kawasan yang status politiknya masih diperdebatkan.

Bagi Maroko, jalur Tiznit-Dakhla merupakan bagian dari integrasi wilayah dan pembangunan provinsi-provinsi selatan.

Bagi komunitas internasional, Sahara Barat tetap merupakan wilayah sengketa yang penyelesaiannya berada dalam agenda PBB.

Sementara bagi Washington, pengakuan terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara Barat menjadi bagian penting dari hubungan bilateral dengan Rabat.

Maka, satu nama jalan membawa tiga lapisan cerita sekaligus: infrastruktur, diplomasi, dan sengketa wilayah.

Sahara Barat Bukan Sekadar Gurun

Di peta, Sahara Barat mungkin tampak seperti hamparan gurun panjang di tepi Atlantik. Tetapi posisinya menjadikannya ruang strategis yang menghubungkan Afrika Utara dengan kawasan Afrika Barat.

Itulah sebabnya jalan Tiznit-Dakhla memiliki arti lebih besar daripada sekadar aspal sepanjang 1.055 kilometer. Jalan tersebut menjadi bagian dari ambisi pembangunan Maroko di selatan, sekaligus berada di tengah persoalan geopolitik yang belum menemukan penyelesaian final.

Donald J. Trump Highway pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang namanya tertera pada sebuah jalan. Ia juga membuka kembali pertanyaan yang telah berlangsung puluhan tahun: bagaimana masa depan Sahara Barat dan bagaimana status wilayah itu akan diselesaikan melalui proses politik internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : United Nations Peacekeeping, SNRT News, Maroc
Tiznit Dakhla Trump Highway donald trump maroko Sahara Barat