Iran Tolak Buka Kembali Selat Hormuz sebelum AS Penuhi Komitmen, Apa Dampaknya?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 18:49 WIB
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu jalur energi terpenting dunia. Iran menyatakan belum akan membuka kembali jalur tersebut secara normal sebelum persyaratannya dalam sengketa dengan Amerika Serikat dipenuhi. (Ilustrasi ChatGPT)
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu jalur energi terpenting dunia. Iran menyatakan belum akan membuka kembali jalur tersebut secara normal sebelum persyaratannya dalam sengketa dengan Amerika Serikat dipenuhi. (Ilustrasi ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Iran menegaskan belum akan membuka kembali Selat Hormuz secara normal sampai Amerika Serikat memenuhi komitmen yang menurut Teheran telah disepakati dalam kesepakatan Juni 2026.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dalam sidang parlemen, Minggu (20/9).

Qalibaf mengatakan Iran telah menyampaikan persyaratannya kepada pihak lawan melalui sejumlah perantara.

“Sampai syarat-syarat ini dipenuhi, hak sah Iran diakui, dan komitmen AS dilaksanakan, tidak ada prospek membuka kembali Selat Hormuz,” kata Qalibaf, dikutip dari media pemerintah Iran.

Pernyataan tersebut memperpanjang ketidakpastian di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia setelah kesepakatan sementara Washington-Teheran yang dicapai pada Juni gagal menghasilkan normalisasi pelayaran secara permanen.

Kesepakatan Juni Belum Menyelesaikan Sengketa

Amerika Serikat dan Iran mencapai kerangka kesepakatan pada Juni setelah konflik yang pecah pada Februari. Salah satu poinnya berkaitan dengan penghentian operasi militer dan upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Gedung Putih pada 19 Juni menyatakan memorandum tersebut akan membuka Hormuz bagi navigasi bebas. Namun, kesepakatan itu kemudian tersendat akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan berbagai ketentuan, termasuk pelayaran, sanksi, dan keamanan.

Iran mengeklaim sejumlah komitmen Amerika Serikat belum dipenuhi.

Reuters sebelumnya melaporkan tuntutan Teheran mencakup pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi minyak, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian operasi dan ancaman militer. Itu merupakan posisi yang disampaikan pihak Iran dalam perselisihan implementasi kesepakatan tersebut.

Pada Agustus, seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa pelaksanaan ketentuan kesepakatan oleh Washington menjadi prasyarat untuk melanjutkan perundingan.

Belum ditemukan tanggapan baru Washington yang secara spesifik menjawab pernyataan Qalibaf pada Minggu tersebut saat artikel ini disusun.

Apakah Selat Hormuz Benar-Benar Tertutup?

Pernyataan bahwa Selat Hormuz “ditutup” tidak berarti lalu lintas kapal berhenti sama sekali.

Data pelacakan kapal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan empat kapal komoditas melintasi Hormuz pada Kamis (17/9), turun dari enam kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak sekitar 16 kapal.

Reuters juga mengingatkan angka sebenarnya dapat berbeda karena sebagian kapal mematikan transponder untuk mengurangi risiko terdeteksi di wilayah konflik.

Dengan demikian, kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai gangguan dan pembatasan lalu lintas yang sangat berat dibanding penutupan fisik total terhadap setiap kapal.

Persoalan tersebut juga menjadi sengketa politik antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS sebelumnya menyatakan pasukannya menjaga kapal tetap bergerak melalui kawasan tersebut. Iran, di sisi lain, menyatakan pembukaan kembali secara normal bergantung pada terpenuhinya persyaratan Teheran.

Mengapa Hormuz Begitu Penting?

Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman. Jalur sempit tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Data terbaru Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat menunjukkan sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati Hormuz pada semester pertama 2025.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia dan sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut. Lebih dari 20 persen perdagangan LNG dunia juga melewati jalur yang sama.

Ketergantungannya semakin besar bagi Asia. EIA memperkirakan 89 persen minyak mentah dan kondensat yang melewati Hormuz pada semester pertama 2025 menuju pasar Asia.

Alternatifnya terbatas. Pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang dapat menghindari Hormuz secara gabungan memiliki kapasitas sekitar 4,7 juta barel per hari, jauh lebih kecil dibanding volume historis yang melewati selat tersebut.

Karena itu, gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya pengiriman, mengurangi kelancaran pasokan, dan memberikan tekanan terhadap harga energi global.

International Maritime Organization (IMO) pada Juli juga menegaskan bahwa hak lintas di selat yang digunakan untuk navigasi internasional tidak seharusnya dihalangi atau ditangguhkan dan menyerukan deeskalasi di kawasan.

Untuk saat ini, pernyataan Qalibaf menunjukkan pembukaan kembali Hormuz masih menjadi bagian dari tarik-menarik diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.

Selama kesepakatan mengenai pelayaran dan keamanan belum tercapai, dunia energi akan terus mencermati bukan hanya pernyataan politik dari Teheran dan Washington, tetapi juga indikator paling konkret, berapa banyak kapal yang benar-benar dapat melewati Selat Hormuz setiap hari.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Iran Amerika Serikat Mohammad Bagher Qalibaf selat hormuz harga minyak dunia konflik iran as