RADAR BANYUWANGI – Presiden Iran Masoud Pezeshkian tetap mendapat izin menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Namun, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan pembatasan ketat: delegasi Iran dibatasi pergerakannya dan dilarang membeli barang mewah selama berada di Amerika Serikat.
Washington memberikan visa kepada delegasi inti Iran, termasuk Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, untuk menghadiri High-Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Agenda debat umum dijadwalkan berlangsung 22–28 September 2026 di Markas Besar PBB, New York.
Namun, izin masuk tersebut tidak berarti delegasi Iran bebas bergerak di New York. Pemerintah AS juga memangkas jumlah delegasi yang diperbolehkan hadir serta menerapkan pembatasan perjalanan dan larangan pembelian barang mewah.
Delegasi Iran Tak Bebas Keluar dari Zona yang Ditentukan
Reuters melaporkan, pembatasan perjalanan terhadap delegasi Iran mencakup sejumlah lokasi yang telah ditentukan. Dalam kebijakan serupa, perwakilan Iran dibatasi pada area sekitar Markas Besar PBB, Misi Iran untuk PBB, kediaman duta besar Iran, dan Bandara JFK.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan jumlah delegasi Iran yang diizinkan masuk tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
"Delegasi akan dikenakan pembatasan perjalanan dan akan menghadapi larangan pembelian barang mewah dan barang lainnya sesuai kebijakan kami. Jumlah delegasi lebih kecil daripada tahun lalu," kata juru bicara tersebut kepada BBC, sebagaimana dikutip dalam laporan media.
Pembatasan itu menjadi lebih ketat dibandingkan ketentuan tahun lalu. Pada 2025, delegasi Iran masih dapat melakukan sejumlah pembelian dengan syarat memperoleh persetujuan terlebih dahulu, termasuk untuk barang mewah bernilai lebih dari US$1.000 atau sekitar Rp17 juta.
Larangan Belanja Jadi Sorotan
Selain pembatasan wilayah, Washington secara khusus menyoroti aktivitas belanja delegasi Iran.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott mengatakan melalui media sosial bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk mencegah pejabat Iran menggunakan kunjungan ke New York untuk berbelanja secara berlebihan.
Pigott mengaitkan kebijakan itu dengan kondisi ekonomi dan layanan publik di Iran. Ia menyebut kekurangan air dan listrik, inflasi, serta tindakan represif yang menurut pemerintah AS dilakukan terhadap masyarakat Iran.
Dalam pernyataannya, Pigott juga menuding pemerintah Iran menggunakan sumber daya negara untuk mendukung kelompok-kelompok yang oleh Washington dikategorikan sebagai organisasi teroris.
Pernyataan tersebut merupakan posisi pemerintah AS dan tidak secara otomatis menggambarkan pandangan seluruh pihak mengenai kondisi Iran.
Pezeshkian Tetap Hadir di Sidang PBB
Meski pembatasan diberlakukan, Pezeshkian tetap dijadwalkan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.
Sidang tahun ini memiliki arti khusus karena berlangsung ketika hubungan Washington-Teheran berada dalam kondisi sangat tegang setelah konflik bersenjata yang pecah pada 28 Februari 2026. Reuters melaporkan perang AS-Iran masih berlangsung ketika para pemimpin dunia bersiap berkumpul di New York.
Kehadiran delegasi Iran di PBB sekaligus membuka ruang bagi Teheran untuk menyampaikan posisi politiknya secara langsung di forum internasional.
Bagi Washington, keputusan memberikan visa kepada delegasi inti Iran berjalan beriringan dengan pembatasan akses dan aktivitas mereka selama berada di wilayah AS.
Sidang PBB Dimulai 22 September
Sidang Majelis Umum PBB ke-81 secara resmi memasuki High-Level Week pada 22–28 September 2026. Debat umum akan berlangsung pada 22–26 September dan dilanjutkan pada 28 September di Markas Besar PBB, New York.
Tema Sidang Majelis Umum PBB ke-81 adalah “Restoring trust, managing transformation: a United Nations that delivers for all” atau memulihkan kepercayaan dan mengelola transformasi menuju PBB yang memberikan hasil bagi semua.
Hampir 130 kepala negara dan pemerintahan dijadwalkan hadir secara langsung dalam rangkaian High-Level Week tersebut.
Di tengah forum diplomasi global itu, kehadiran Pezeshkian menjadi salah satu perhatian karena Iran dan AS masih berada dalam pusaran konflik.
Dengan demikian, Pezeshkian memang mendapat akses untuk menghadiri Sidang PBB, tetapi Washington menetapkan pagar diplomatik yang ketat: jumlah rombongan dipangkas, pergerakan dibatasi, dan belanja barang mewah dilarang. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : United Nations, Reuters