RADAR BANYUWANGI – Perang AS-Israel versus Iran memasuki hari ke-202 dengan tekanan yang semakin merambat ke jalur pelayaran strategis. Selat Hormuz kembali menjadi titik panas setelah Iran mengklaim menyerang sebuah tanker berbendera Togo, sementara di sisi lain Houthi memperkuat posisi di pesisir Laut Merah dan sekitar Selat Bab el-Mandeb. Perkembangan itu mendorong Arab Saudi meminta bantuan China untuk menjaga jalur pelayaran dan ekspor minyak, sementara Beijing meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk menahan Houthi dan mendorong penyelesaian melalui dialog.
Perkembangan tersebut membuat konflik tidak lagi hanya berpusat pada serangan darat dan udara. Dua jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan dan energi dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, kini berada dalam tekanan secara bersamaan.
Data pelayaran menunjukkan aktivitas di Selat Hormuz pada 17 September turun jauh di bawah rata-rata 10 hari. Pada hari itu, hanya empat kapal komoditas yang tercatat melintas, dibandingkan rata-rata 16 kapal dalam 10 hari sebelumnya. Di Bab el-Mandeb, 23 kapal komoditas melintas, sedikit di bawah rata-rata 26 kapal.
Iran Klaim Serang Tanker Berbendera Togo
Ketegangan di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian setelah Iran menyatakan telah menyerang sebuah tanker minyak berbendera Togo yang disebut mencoba melintas di perairan tersebut.
Menurut laporan Associated Press, Iran menyebut kapal itu melakukan transit yang tidak diizinkan dan memperingatkan adanya tindakan terhadap kapal lain. Klaim tersebut muncul ketika lalu lintas kapal di Hormuz telah menurun akibat meningkatnya risiko keamanan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak pada pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Situasinya semakin rumit karena kapal-kapal yang hendak melewati kawasan tersebut harus memperhitungkan risiko keamanan, perubahan rute, serta kemungkinan penundaan perjalanan.
Houthi Memperkuat Posisi di Laut Merah
Di sisi lain, perkembangan di Yaman membuka tekanan baru dari arah selatan.
Pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan memperluas kendali di sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan strategis di sekitar Bab el-Mandeb, selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Laporan terbaru menyebut Houthi telah menguasai sejumlah wilayah pesisir, termasuk kawasan strategis dekat Bab el-Mandeb. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kapal yang melintas dari Laut Merah menuju Terusan Suez maupun sebaliknya.
Bab el-Mandeb memiliki posisi penting karena menjadi pintu masuk dan keluar Laut Merah. Kapal yang melewati jalur ini dapat melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez untuk menghubungkan rute perdagangan Asia dan Eropa.
Artinya, gangguan di Bab el-Mandeb tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah. Efeknya dapat merambat ke biaya pengiriman, waktu tempuh kapal, pasokan energi, dan perdagangan global.
Saudi Arabia Minta China Turun Tangan
Tekanan terhadap jalur laut tersebut membuat Arab Saudi mencari dukungan diplomatik dari China.
Reuters melaporkan Saudi meminta Beijing menggunakan pengaruhnya untuk membantu menghadapi ancaman terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyak. China kemudian secara privat meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk menahan Houthi.
Beijing juga menyerukan penyelesaian melalui dialog dan menekankan pentingnya stabilitas kawasan serta keamanan jalur perdagangan internasional.
Langkah China tersebut memiliki kepentingan ekonomi yang kuat. China merupakan salah satu negara utama yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan di Hormuz maupun Bab el-Mandeb berpotensi mengganggu rantai pasokan energi menuju pasar Asia.
Mengapa China Memiliki Peran Penting?
Permintaan Saudi kepada China memperlihatkan bahwa persoalan keamanan jalur laut kini juga memasuki ranah diplomasi ekonomi.
China memiliki hubungan strategis dan ekonomi dengan Iran. Beijing juga sebelumnya memainkan peran diplomatik dalam memperbaiki hubungan Iran dan Arab Saudi.
Karena itu, permintaan agar China menggunakan pengaruhnya terhadap Iran bukan sekadar persoalan militer. Ada kepentingan untuk memastikan minyak tetap mengalir, kapal tetap bergerak, dan perdagangan internasional tidak semakin terganggu.
Namun, sejauh mana tekanan diplomatik China dapat memengaruhi keputusan Iran dan Houthi masih menjadi persoalan terbuka.
Bentrokan di Yaman Kembali Meningkat
Di dalam Yaman sendiri, konflik juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan.
Pasukan pemerintah Yaman dan Houthi kembali terlibat bentrokan di sejumlah wilayah. Kekerasan tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan posisi Houthi di pesisir Laut Merah.
Reuters melaporkan eskalasi konflik di Yaman telah menyebabkan sedikitnya 112.000 orang mengungsi di dalam negeri, sementara hampir 3.000 orang melarikan diri melalui laut menuju Djibouti.
Kondisi tersebut menambah dimensi kemanusiaan di tengah perebutan wilayah dan jalur strategis.
Bagi masyarakat Yaman, meningkatnya pertempuran berarti ancaman baru terhadap akses pangan, layanan kesehatan, tempat tinggal, dan bantuan kemanusiaan.
Dua Selat, Satu Risiko bagi Perdagangan Dunia
Yang membuat perkembangan terbaru ini penting adalah munculnya tekanan secara bersamaan di dua titik maritim.
Selat Hormuz berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Jalur tersebut sangat penting bagi ekspor energi dari negara-negara Teluk.
Sementara Bab el-Mandeb berada di pintu selatan Laut Merah dan menjadi jalur penghubung menuju Teluk Aden serta rute Terusan Suez.
Jika kapal harus menghindari salah satu jalur tersebut, perjalanan dapat menjadi lebih panjang dan mahal. Jika tekanan terjadi pada kedua jalur sekaligus, dampaknya terhadap perdagangan dan energi global dapat menjadi lebih kompleks.
Data pelayaran terbaru memang menunjukkan aktivitas di kedua selat berada di bawah rata-rata normalnya.
Sejumlah kapal juga telah mengubah rute untuk menghindari ancaman di Laut Merah. Sebelumnya, beberapa kapal tanker yang membawa minyak Saudi bahkan berbalik arah setelah mendapat peringatan Houthi.
Konflik Meluas dari Darat ke Jalur Energi
Perang AS-Israel versus Iran kini memiliki dimensi yang semakin luas. Selain serangan dan pertempuran antarpihak, jalur pelayaran menjadi bagian penting dari dinamika konflik.
Bagi Iran, tekanan terhadap jalur laut dapat menjadi instrumen strategis dalam menghadapi tekanan lawan. Bagi negara-negara Teluk, keamanan pelayaran berkaitan langsung dengan kemampuan mengekspor energi.
Sementara bagi China dan negara-negara pengguna jalur perdagangan tersebut, stabilitas laut menjadi kepentingan ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dari konflik geopolitik.
Dengan demikian, perkembangan hari ke-202 bukan hanya soal siapa menguasai wilayah tertentu. Perhatian juga tertuju pada pertanyaan yang lebih luas: seberapa lama jalur energi dan perdagangan dunia dapat bertahan di tengah tekanan dari Hormuz hingga Bab el-Mandeb?
Untuk saat ini, lalu lintas kapal di kedua jalur tersebut tetap berlangsung, tetapi berada di bawah tekanan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Reuters