Mengapa Konflik Houthi dan Arab Saudi Kembali Pecah? Ini Pemicu dan Akar Masalahnya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:00 WIB
Konflik Houthi dan Arab Saudi kembali memanas. Serangan ke Saudi, perebutan Mokha dan Perim, serta perang AS-Iran menjadi pemicu eskalasi. (Tangkapan Layar Reuters)
Konflik Houthi dan Arab Saudi kembali memanas. Serangan ke Saudi, perebutan Mokha dan Perim, serta perang AS-Iran menjadi pemicu eskalasi. (Tangkapan Layar Reuters)

RADAR BANYUWANGI - Konflik Houthi dan Arab Saudi kembali meledak setelah bertahun-tahun relatif mereda. Pemicu terbarunya bukan hanya serangan rudal dan drone, tetapi juga perebutan jalur strategis Laut Merah yang membuat kawasan kembali terseret ke pusaran perang Yaman.

Eskalasi meningkat tajam pada September 2026. Houthi menyerang sejumlah kota dan fasilitas di selatan Arab Saudi, kemudian bergerak merebut Mokha, pelabuhan strategis di pesisir Laut Merah, sebelum menguasai Pulau Perim (Mayun) di kawasan Selat Bab al-Mandeb. 

Perkembangan itu menghidupkan kembali konflik yang sempat diredam oleh gencatan senjata 2022. Bedanya, kali ini pertarungan Houthi-Saudi berlangsung ketika kawasan Timur Tengah juga dilanda perang dan ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat serta Iran.

Lantas, mengapa konflik Houthi dan Arab Saudi kembali pecah?

1. Jalur Laut Merah Kembali Menjadi Medan Pertempuran

Salah satu kunci eskalasi terbaru adalah perebutan kendali atas jalur pelayaran Laut Merah.

Mokha berada di pesisir barat Yaman dan hanya berjarak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab al-Mandeb. Setelah menguasai kota tersebut, pasukan Houthi bergerak menuju kawasan selat yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis dunia.

Pada 11 September, pasukan Houthi juga dilaporkan menguasai Pulau Perim atau Mayun setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi menarik diri. Pulau tersebut berada di tengah Bab al-Mandeb.

Artinya, konflik tidak lagi sekadar berlangsung di daratan Yaman. Kontrol wilayah pesisir dan pulau strategis memberikan Houthi posisi untuk memengaruhi lalu lintas kapal yang melewati salah satu titik sempit perdagangan dunia.

2. Serangan Houthi ke Wilayah Saudi Kembali Meningkat

Pada 8 September 2026, Houthi melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di selatan Arab Saudi.

Menurut laporan yang dirangkum Council on Foreign Relations, serangan menyasar Abha, Jazan, Khamis Mushait, dan Najran. Sedikitnya 73 orang dilaporkan terluka dan aktivitas di sejumlah fasilitas energi sempat terganggu. 

Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar Houthi terhadap Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi Riyadh, ancamannya bukan hanya soal keamanan perbatasan. Infrastruktur energi dan jalur ekspor minyak Saudi juga berada dalam posisi rentan ketika konflik meluas ke kawasan Laut Merah.

3. Blokade dan Serangan Kapal Saudi

Eskalasi juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan terhadap pelayaran yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi.

Laporan BBC menyebut Houthi menyatakan tidak bermaksud mengancam pelayaran internasional secara umum, tetapi tetap menegaskan bahwa kapal-kapal Saudi menjadi sasaran. Kondisi tersebut semakin sensitif karena Arab Saudi semakin mengandalkan jalur Laut Merah untuk ekspor minyak setelah jalur di Teluk menghadapi gangguan akibat perang AS-Iran.

Dengan demikian, laut berubah menjadi bagian penting dari strategi tekanan Houthi terhadap Saudi.

Perebutan Mokha dan Perim kemudian membuat ancaman tersebut memiliki dimensi geografis yang lebih besar.

4. Perang AS-Iran Membuka Ruang Eskalasi Baru

Konflik terbaru juga tidak bisa dilepaskan dari perang yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.

Reuters melaporkan bahwa dukungan Iran, termasuk persenjataan dan bantuan teknis, berperan dalam kemampuan Houthi merebut Mokha. Sejumlah sumber juga menyebut adanya keterlibatan penasihat dari Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam operasi tersebut, meski Iran membantah mengarahkan operasi militer Houthi secara langsung.

Dalam konteks lebih luas, posisi geografis Yaman menjadi sangat strategis.

Jika Selat Hormuz terganggu di sisi Teluk, sementara Bab al-Mandeb ikut terancam di sisi Laut Merah, maka dua jalur penting bagi perdagangan energi dunia menghadapi tekanan secara bersamaan.

5. Gencatan Senjata 2022 Tidak Menyelesaikan Akar Konflik

Gencatan senjata 2022 memang menurunkan intensitas pertempuran antara Houthi dan koalisi yang dipimpin Saudi. Namun, kesepakatan tersebut tidak menyelesaikan seluruh persoalan politik dan militer di Yaman.

Houthi tetap mempertahankan kekuatan militer dan wilayah yang luas di Yaman utara dan barat.

Associated Press mencatat kelompok tersebut justru berkembang menjadi kekuatan yang lebih besar selama bertahun-tahun konflik, dengan kemampuan rudal dan drone yang semakin maju. Dukungan Iran, kondisi geografis Yaman, serta perpecahan kelompok anti-Houthi menjadi sejumlah faktor yang disebut membantu mempertahankan kekuatan mereka. 

Karena itu, ketika tekanan regional kembali meningkat, konflik lama dengan Saudi memiliki ruang untuk meledak kembali.

6. Mengapa Mokha dan Perim Sangat Penting?

Perebutan kedua wilayah tersebut bukan sekadar kemenangan teritorial.

Mokha merupakan pelabuhan penting di pesisir Laut Merah. Sementara Perim terletak di tengah Selat Bab al-Mandeb, salah satu titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Menurut S&P Global, aliran minyak melalui Bab al-Mandeb telah turun menjadi sekitar 1,5 juta barel per hari pada Agustus 2026. Kemajuan Houthi di sekitar Mokha dinilai meningkatkan risiko terhadap ketahanan jalur ekspor Saudi melalui Laut Merah. 

Inilah yang membuat perkembangan di Yaman memiliki dampak jauh melampaui wilayah konflik.

Gangguan pelayaran dapat meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang rute kapal, serta menambah tekanan terhadap pasar energi global.

Konflik Lama dengan Dampak Baru

Dengan demikian, konflik Houthi dan Arab Saudi kembali pecah karena beberapa faktor bertemu sekaligus: meningkatnya serangan terhadap wilayah Saudi, perselisihan terkait pelayaran dan blokade, perebutan wilayah pesisir Yaman, serta meluasnya perang regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Serangan 8 September menjadi titik eskalasi penting. Perebutan Mokha pada 10 September dan Perim pada 11 September kemudian memperluas dimensi konflik ke jalur maritim strategis.

Bagi Arab Saudi, persoalannya bukan hanya menghadapi serangan Houthi dari Yaman. Jalur Laut Merah kini menjadi bagian dari arena perebutan pengaruh yang lebih luas di Timur Tengah.

Bagi perdagangan global, perhatian terbesar tertuju pada Bab al-Mandeb. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya berpotensi merembet dari medan perang Yaman menuju jalur pelayaran, pasokan energi, dan biaya perdagangan internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Council on Foreign Relations, Siteproxy, Reuters, AP News
Houthi Arab Saudi konflik Yaman Mokha Bab al-Mandeb Laut Merah