Mekkah Terancam Drone Houthi, Minyak Saudi Tersendat, 100 Ribu Warga Mengungsi

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)
ILUSTRASI: Konflik Saudi-Houthi memanas setelah drone dicegat dekat Mekkah. Ekspor minyak terganggu dan lebih dari 100 ribu warga Yaman mengungsi. (Al-Jazeera)

RADAR BANYUWANGI – Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman memasuki fase yang semakin tegang. Sebuah drone yang menurut koalisi pimpinan Saudi diluncurkan Houthi berhasil dicegat dan dihancurkan sebelum memasuki wilayah udara Mekkah. Di saat bersamaan, aktivitas pengiriman minyak Saudi dari Pelabuhan Yanbu terganggu, sementara lebih dari 100 ribu warga Yaman terpaksa mengungsi akibat pertempuran di pesisir barat negara itu.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan konflik tidak lagi hanya berdampak pada medan tempur di Yaman. Keamanan Mekkah, jalur pelayaran Bab el-Mandeb, distribusi minyak Saudi, hingga kondisi kemanusiaan warga sipil kini ikut berada dalam tekanan.

Drone Disebut Mengarah ke Mekkah

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat dan menghancurkan drone di sebelah selatan Mekkah pada Selasa (15/9).

Juru bicara koalisi Turki al-Malki mengatakan drone tersebut dihancurkan sebelum menembus wilayah udara terbatas di atas kota suci.

Mekkah menjadi perhatian khusus karena merupakan kota paling suci dalam Islam sekaligus lokasi Masjidilharam dan Ka'bah. Pihak Saudi menyebut keamanan kota tersebut sebagai batas yang tidak boleh dilanggar.

Reuters melaporkan, insiden itu terjadi setelah serangkaian serangan Houthi ke wilayah Saudi. Kelompok Houthi membantah telah menargetkan Mekkah maupun situs keagamaan lainnya. Karena itu, klaim mengenai tujuan sebenarnya dari drone tersebut masih menjadi bagian dari narasi yang saling bertentangan antara kedua pihak.

Minyak Saudi Ikut Terseret

Eskalasi juga merembet ke sektor energi.

Saudi Arabia menghentikan sementara pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu setelah serangan terhadap infrastruktur pipa minyak East-West. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu menjadi jalur penting untuk membawa minyak Saudi menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Reuters melaporkan, jalur tersebut memiliki kapasitas sekitar 4–5 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4–5 persen pasokan minyak global. Penghentian operasionalnya membuat pengiriman minyak Saudi ke sejumlah pembeli Eropa ikut terganggu.

Gangguan tersebut turut memengaruhi pasar minyak dunia. Harga Brent sempat naik lebih dari USD 3 per barel pada Selasa (15/9), sebelum kembali melemah pada perdagangan Rabu setelah data persediaan minyak Amerika Serikat menunjukkan kenaikan.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dia memperkirakan pipa East-West dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Namun, sejumlah sumber memperkirakan waktu perbaikan bisa lebih lama, sehingga durasi sebenarnya gangguan masih belum pasti. 

Bab el-Mandeb Jadi Titik Strategis

Di tengah gangguan energi tersebut, kawasan Bab el-Mandeb juga menjadi perhatian.

Selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu merupakan jalur pelayaran strategis dunia. Penguasaan wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman membuat perkembangan militer Houthi berpotensi memengaruhi lalu lintas kapal dan perdagangan internasional.

Kementerian Luar Negeri Houthi menyatakan pelayaran di Bab el-Mandeb tetap aman. Mereka juga menuduh Arab Saudi berusaha menyesatkan masyarakat internasional mengenai kondisi keamanan di jalur laut tersebut.

Pernyataan itu muncul ketika Houthi memperluas kontrol di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan mendekati kawasan strategis tersebut.

Lebih dari 100 Ribu Warga Mengungsi

Di balik pergerakan drone, serangan udara, dan gangguan minyak, dampak paling langsung dirasakan warga sipil Yaman.

UNHCR menyatakan lebih dari 100 ribu orang telah mengungsi di dalam Yaman akibat meningkatnya pertempuran di pesisir barat. Ribuan lainnya bahkan mengambil risiko menyeberangi Bab el-Mandeb menuju Djibouti untuk mencari keselamatan.

Dalam empat hari, lebih dari 2.400 orang dilaporkan telah menyeberangi selat tersebut. Mayoritas merupakan perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia. 

UNHCR juga memperingatkan kebutuhan mendesak terhadap tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi keluarga yang mengungsi. Badan PBB itu memperkirakan membutuhkan sekitar USD 14 juta untuk memenuhi kebutuhan awal para pengungsi di dalam Yaman, di luar kebutuhan mereka yang telah tiba di Djibouti.

Iran Tempuh Jalur Diplomasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menuju China untuk bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Beijing berupaya memainkan peran diplomatik untuk mendorong berakhirnya perang. Pertemuan tersebut menjadi salah satu jalur diplomasi yang berlangsung ketika konflik semakin melebar dan melibatkan kepentingan Iran, Saudi, Houthi, Amerika Serikat, serta negara-negara di sekitar Laut Merah.

Dengan kondisi yang berkembang cepat, perhatian internasional kini tertuju pada tiga persoalan sekaligus: apakah eskalasi Saudi-Houthi akan meluas, seberapa lama gangguan jalur minyak Saudi berlangsung, dan bagaimana nasib puluhan ribu keluarga Yaman yang terus meninggalkan rumah mereka. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : UNHCR, Al Jazeera, Reuters
Perang Yaman Bab el-Mandeb drone Mekkah konflik Saudi Houthi minyak Saudi