RADAR BANYUWANGI – Houthi bukan sekadar kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran. Gerakan yang tumbuh dari konflik internal Yaman itu kini telah berkembang menjadi kekuatan militer yang mampu menyerang Arab Saudi dan mengganggu jalur pelayaran strategis di Laut Merah—membuat konflik yang berawal di Yaman berpotensi berdampak hingga perdagangan dan energi dunia.
Perkembangan terbaru kembali menempatkan Houthi di pusat perhatian. Pada September 2026, kelompok tersebut meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap sasaran di Arab Saudi, sementara pertempuran di Yaman kembali mendorong perpindahan penduduk dalam jumlah besar.
Reuters melaporkan Houthi juga bergerak ke selatan di sepanjang pesisir Laut Merah. Pergerakan itu mendekatkan kelompok tersebut ke Bab el-Mandeb, selat sempit yang menjadi pintu masuk selatan menuju Laut Merah dan salah satu jalur penting perdagangan global.
Pertanyaan kemudian muncul: siapa sebenarnya Houthi, mengapa mereka memerangi Arab Saudi, dan bagaimana kelompok dari Yaman mampu bertahan menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar?
Jawabannya tidak cukup dengan menyebut Houthi sebagai “proksi Iran”.
Berawal dari Yaman Utara
Nama resmi Houthi adalah Ansar Allah. Gerakan tersebut berakar di Yaman utara dan tumbuh dari komunitas Zaidi, salah satu cabang Syiah yang memiliki sejarah panjang di Yaman.
Gerakan kebangkitan identitas Zaidi berkembang pada dekade 1990-an, di tengah ketidakpuasan terhadap pemerintahan Yaman serta meningkatnya kekhawatiran terhadap pengaruh Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Salah satu tokoh penting dalam fase awal gerakan itu adalah Hussein Badreddin al-Houthi.
Pada 2004, Hussein memimpin pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh. Hussein tewas pada tahun yang sama.
Namun kematiannya tidak mengakhiri gerakan tersebut.
Kepemimpinan kemudian beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini menjadi pemimpin utama Ansar Allah.
Fakta tersebut penting untuk memahami sejarah Houthi: gerakan ini telah menjadi aktor bersenjata dalam konflik internal Yaman jauh sebelum Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015.
Titik Balik: Merebut Sana'a
Perubahan besar terjadi setelah gelombang Arab Spring mengguncang Yaman pada 2011.
Presiden Ali Abdullah Saleh turun dari kekuasaan dan digantikan Abdrabbuh Mansur Hadi. Namun pemerintahan baru menghadapi persoalan ekonomi, politik, keamanan, dan fragmentasi kekuasaan.
Houthi memanfaatkan situasi tersebut.
Pada September 2014, pasukan Houthi merebut Sana'a, ibu kota Yaman. Pengambilalihan tersebut menjadi salah satu titik balik utama yang kemudian membawa Yaman menuju perang terbuka.
Pada awal 2015, Hadi meninggalkan Sana'a dan kemudian berada di Aden setelah Houthi mengambil alih sejumlah institusi pemerintahan.
Konflik yang awalnya berakar pada perebutan kekuasaan domestik itu kemudian berubah menjadi konflik regional.
Mengapa Arab Saudi Memerangi Houthi?
Ada dua persoalan strategis yang membuat perkembangan Houthi menjadi perhatian Riyadh.
Pertama, Houthi berhasil menjadi kekuatan bersenjata yang menguasai ibu kota negara tetangga Arab Saudi.
Kedua, hubungan Houthi dengan Iran semakin erat.
Bagi Saudi, munculnya kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan rival regionalnya di negara yang berbatasan langsung dengan wilayah Saudi menciptakan persoalan keamanan strategis.
Presiden Hadi kemudian meminta bantuan negara-negara Teluk dan negara Arab lainnya.
Pada 26 Maret 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi memulai operasi militer di Yaman.
Tujuannya antara lain menghentikan kemajuan Houthi dan mendukung pemerintahan Hadi.
Namun perang yang semula diperkirakan dapat diselesaikan melalui operasi militer berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Mengapa Houthi Sulit Dikalahkan?
Salah satu jawabannya adalah perang asimetris.
Arab Saudi memiliki angkatan udara dan sistem persenjataan modern. Houthi tidak perlu menandingi kekuatan tersebut dalam perang konvensional.
Mereka dapat memanfaatkan medan pegunungan Yaman, jaringan lokal, pasukan bergerak, rudal, dan drone.
Strateginya berbeda.
Houthi dapat membuat lawan mengeluarkan biaya besar untuk menghadapi serangan yang relatif murah.
Satu drone atau rudal yang diluncurkan ke sasaran strategis dapat memaksa lawan mengerahkan sistem pertahanan udara dan sumber daya militer yang jauh lebih mahal.
Kemampuan militer Houthi juga berkembang sepanjang perang.
Iran Memegang Peran Penting
Iran merupakan salah satu pendukung eksternal utama Houthi.
Dukungan Iran terhadap Houthi telah lama menjadi bagian dari analisis mengenai konflik Yaman. Hubungan tersebut mencakup dukungan terhadap kemampuan rudal, drone, dan teknologi militer.
Namun, hubungan Houthi-Iran tidak otomatis berarti Houthi sepenuhnya dikendalikan Teheran.
Houthi memiliki basis sosial dan politik sendiri di Yaman, menguasai wilayah, mempunyai struktur pemerintahan de facto, serta memiliki agenda domestik.
Karena itu, hubungan keduanya lebih tepat dilihat sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan, sementara tingkat dan bentuk dukungan Iran menjadi bagian dari perdebatan dan analisis internasional.
Dengan kata lain, Houthi memiliki kepentingannya sendiri, tetapi dukungan Iran telah membantu meningkatkan kemampuan militernya.
Dari Pemberontak Lokal Menjadi Kekuatan Rudal dan Drone
Perang dengan Saudi mengubah kemampuan Houthi secara drastis.
Kelompok yang pada awalnya lebih dikenal sebagai gerakan pemberontak lokal kemudian mampu melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sasaran yang berjarak jauh.
Target yang pernah disasar mencakup fasilitas militer, bandara, infrastruktur energi, dan sasaran ekonomi.
Perubahan ini mengubah kalkulasi perang.
Houthi tidak harus menghancurkan Arab Saudi secara militer.
Mereka dapat menggunakan serangan terbatas untuk memaksa Saudi terus mengalokasikan sumber daya bagi pertahanan.
Model perang seperti inilah yang membuat kelompok dengan sumber daya lebih kecil tetap mampu memberikan tekanan kepada negara dengan kemampuan militer jauh lebih besar.
Gencatan Senjata Tak Menghapus Konflik
Pada 2022, gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa secara signifikan menurunkan intensitas pertempuran.
Namun gencatan senjata tersebut bukan perjanjian damai permanen.
Persoalan politik Yaman tetap belum terselesaikan. Houthi tetap menjadi kekuatan dominan di sebagian besar wilayah utara dan barat negara itu.
Ketika ketegangan regional kembali meningkat pada 2026, konflik lama tersebut kembali mendapatkan momentum.
Reuters melaporkan eskalasi terbaru telah menyebabkan lebih dari 100 ribu orang mengungsi secara internal, sementara sebagian warga lainnya melarikan diri melalui laut menuju Djibouti.
Dari Perang Yaman ke Laut Merah
Dampak Houthi kemudian melampaui medan perang Yaman.
Setelah perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina.
Serangan tersebut mengubah kelompok yang sebelumnya terutama dipandang sebagai aktor dalam perang Yaman menjadi persoalan keamanan maritim internasional.
Alasannya sederhana: Laut Merah terhubung langsung dengan Terusan Suez, jalur penting perdagangan antara Asia dan Eropa.
Ketika pelayaran di kawasan tersebut dianggap berisiko, perusahaan pelayaran dapat mengalihkan kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika.
Konsekuensinya adalah perjalanan lebih panjang, konsumsi bahan bakar lebih besar, serta kenaikan biaya pengiriman.
Bab el-Mandeb, Titik yang Membuat Dunia Waspada
Di sinilah letak arti strategis Bab el-Mandeb.
Selat tersebut berada di antara Yaman dan pesisir Afrika, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Pada bagian tersempit, lebarnya sekitar 18 mil atau 29 kilometer.
Bab el-Mandeb merupakan pintu selatan menuju Terusan Suez.
Reuters mencatat jalur tersebut membawa berbagai komoditas global, termasuk minyak, dari Asia menuju Eropa. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan volume petroleum yang melewati Bab el-Mandeb mencapai sekitar 7 persen produksi minyak dunia pada Juni 2026.
Karena itu, gangguan terhadap selat tersebut bukan hanya masalah bagi Arab Saudi atau Yaman.
Dampaknya dapat menjalar ke perusahaan pelayaran, biaya logistik, pasokan energi, hingga harga komoditas.
Pada September 2026, Houthi bergerak semakin dekat ke kawasan strategis tersebut. Reuters melaporkan kelompok itu telah menguasai Mocha dan bergerak menuju kawasan Kepulauan Hanish.
Saudi Kembali Diserang
Eskalasi terbaru memperlihatkan bagaimana konflik Yaman dan keamanan Saudi kembali saling terkait.
Pada September 2026, serangan rudal dan drone Houthi menghantam sasaran di Saudi. Salah satu serangan menyasar kawasan Khamis Mushait dan menimbulkan kerusakan infrastruktur.
Serangan tersebut terjadi di tengah operasi militer Saudi dan sekutunya terhadap sasaran Houthi di Yaman.
Pada saat yang sama, otoritas Saudi sempat mengeluarkan peringatan darurat di sejumlah kota. Pertahanan Sipil Saudi kemudian menyatakan bahaya telah berlalu di enam kota, termasuk Jeddah, Abha, Jazan, AlUla, Taif, dan Yanbu.
Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman Houthi kini tidak lagi hanya berbentuk pertempuran darat di Yaman.
Ia telah berkembang menjadi persoalan rudal, drone, infrastruktur energi, dan keamanan pelayaran internasional.
Mengapa Bab el-Mandeb Sangat Penting?
Secara geografis, Bab el-Mandeb adalah salah satu chokepoint maritim dunia.
Kapal yang bergerak dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez harus melewati jalur tersebut dari arah selatan.
Jika pelayaran terganggu, kapal dapat memilih rute memutari Afrika.
Namun pilihan tersebut membutuhkan tambahan waktu dan biaya.
Itulah sebabnya setiap peningkatan ancaman di Bab el-Mandeb langsung menjadi perhatian pasar energi dan industri pelayaran global.
Kekhawatiran itu semakin besar karena kawasan Timur Tengah pada September 2026 juga menghadapi gangguan di Selat Hormuz.
Dua jalur strategis tersebut berada di sisi berbeda Semenanjung Arab.
Gangguan simultan pada keduanya berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perdagangan dan pasokan energi global.
Reuters melaporkan harga minyak pada 15 September 2026 ikut terdorong naik setelah gangguan terhadap terminal ekspor Yanbu dan meningkatnya kekhawatiran mengenai pasokan minyak.
Di Balik Rudal, Ada Krisis Kemanusiaan
Namun, di balik perhitungan geopolitik Saudi, Iran, dan kekuatan internasional, masyarakat Yaman tetap menjadi pihak yang menghadapi dampak langsung konflik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan 22,3 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2026.
Sebanyak 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, sementara sekitar 5,2 juta orang merupakan pengungsi internal.
Artinya, perang yang berlangsung lebih dari satu dekade tidak hanya menghasilkan perubahan peta kekuasaan.
Konflik juga menghancurkan ekonomi, memperlemah layanan publik, memperbesar pengungsian, dan memperburuk ketahanan pangan.
Jadi, Siapa Sebenarnya Houthi?
Houthi adalah gerakan politik, keagamaan, dan bersenjata yang lahir dari dinamika internal Yaman.
Mereka berakar dari komunitas Zaidi, berkembang menjadi gerakan pemberontak, merebut Sana'a pada 2014, lalu menjadi kekuatan politik dan militer yang menguasai sebagian besar wilayah barat dan utara Yaman.
Iran merupakan pendukung penting Houthi dan berperan dalam peningkatan kemampuan militernya.
Namun Houthi juga memiliki kepentingan, basis sosial, struktur politik, dan agenda sendiri.
Karena itu, memahami Houthi hanya sebagai “pasukan Iran” tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa kelompok tersebut bisa bertahan begitu lama.
Ada setidaknya tiga lapisan konflik yang saling bertemu.
Pertama, konflik internal Yaman.
Kedua, persaingan regional antara Arab Saudi dan Iran.
Ketiga, persoalan geopolitik yang lebih luas setelah Houthi menjadikan Laut Merah dan Bab el-Mandeb sebagai bagian dari medan tekanannya.
Itulah yang membuat Houthi jauh lebih penting daripada ukuran wilayah yang mereka kuasai.
Kelompok yang lahir dari konflik internal Yaman kini berada di persimpangan kepentingan Timur Tengah, perdagangan global, dan keamanan energi dunia.
Profil Singkat Houthi
-
Nama resmi: Ansar Allah
-
Nama populer: Houthi
-
Negara: Yaman
-
Akar gerakan: Komunitas Zaidi di Yaman utara
-
Tokoh awal: Hussein Badreddin al-Houthi
-
Pemimpin: Abdul-Malik al-Houthi
-
Basis historis: Saada dan Yaman utara
-
Basis kekuasaan: Sebagian besar wilayah barat dan utara Yaman
-
Pendukung eksternal utama: Iran
-
Kemampuan militer: Rudal, drone, pasukan darat dan kemampuan serangan maritim
-
Titik strategis: Laut Merah dan kawasan Bab el-Mandeb
-
Konflik utama: Perang Yaman dan persaingan regional Arab Saudi-Iran
Sumber : The United Nations in Yemen, Reuters