RADAR BANYUWANGI – Perang di Yaman kembali memasuki fase genting. Sekitar 125 ribu orang dilaporkan meninggalkan wilayah terdampak pertempuran, sementara pasukan Houthi menghadapi bombardir yang semakin intensif dan tekanan politik yang terus membesar. Di tengah situasi itu, serangan udara masih menggempur posisi Houthi di sekitar Taiz.
Perkembangan tersebut menunjukkan konflik Yaman belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan, eskalasi di lapangan mulai menyeret kepentingan regional yang lebih luas, terutama setelah Houthi meningkatkan ancaman terhadap Arab Saudi.
Dalam laporan perkembangan konflik pada Selasa (15/9/2026), Houthi mengeklaim Arab Saudi melancarkan puluhan serangan udara terhadap posisi mereka.
Di sisi lain, perdana menteri pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional menuduh milisi Houthi melakukan pembunuhan dan menyebabkan warga sipil terusir dari rumah mereka dalam ofensif yang berlangsung cepat.
Serangan Udara Berlanjut di Taiz
Pertempuran terbaru berpusat di sekitar Taiz. Operasi udara pasukan pemerintah Yaman dilaporkan masih berlangsung terhadap posisi Houthi.
Pasukan pemerintah mengklaim pesawat tempur mereka menargetkan sebuah platform peluncuran rudal balistik milik Houthi di Bandara Taiz, sebelah timur kota.
Lokasi tersebut disebut sebelumnya digunakan Houthi untuk meluncurkan rudal ke arah Pelabuhan Mocha menjelang ofensif yang dimulai 3 September.
Serangan juga dilaporkan menyasar posisi dan pasukan tambahan Houthi di Distrik Khadir, selatan Taiz.
Di sejumlah titik, Houthi disebut terus mengumpulkan personel dan peralatan tempur. Kelompok bersenjata, kendaraan, hingga senjata berat dikerahkan menuju front al-Shaqab yang menjadi salah satu pintu masuk dari arah timur menuju Taiz.
Sebelumnya, juru bicara pemerintah Yaman menyatakan serangan udara juga menyasar bala bantuan dan posisi Houthi di Dhubab, Mocha, serta wilayah pedesaan bagian barat Taiz.
Di darat, pertempuran belum berhenti. Pasukan Houthi dilaporkan menembakkan lebih dari empat peluru artileri ke arah posisi pemerintah di front al-Kadeha pada Selasa pagi.
Houthi Ancam Tekan Ekonomi Saudi
Eskalasi tidak hanya terjadi di medan perang Yaman. Houthi juga meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi dengan ancaman untuk "mencekik" perekonomian negara tersebut.
Analis Luciano Zaccara dari Georgetown University Qatar menilai ancaman itu merupakan pesan yang sengaja diarahkan kepada Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Menurut dia, Houthi ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan sekaligus kemauan politik untuk menyerang lokasi-lokasi strategis.
Ancaman tersebut juga memperlihatkan perubahan kalkulasi Houthi. Kelompok tersebut dinilai tidak hanya mengejar kemenangan militer, tetapi juga berupaya menyerang titik yang memiliki arti strategis bagi perekonomian lawan.
Jika ancaman terhadap infrastruktur dan kepentingan ekonomi Saudi benar-benar direalisasikan, dampaknya berpotensi meluas jauh melampaui wilayah Yaman.
125 Ribu Warga Mengungsi
Di tengah eskalasi tersebut, masyarakat sipil menjadi pihak yang paling rentan.
Sekitar 125 ribu orang dilaporkan melarikan diri dari wilayah yang terdampak pertempuran. Perpindahan besar-besaran itu menjadi gambaran langsung mengenai dampak ofensif dan bombardir terhadap kehidupan warga.
Situasi kemanusiaan tersebut berlangsung ketika pertempuran terus bergerak di sejumlah front dan pasukan pemerintah berusaha menghadang laju Houthi.
Perkembangan di Yaman juga tidak bisa dilepaskan dari perang yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Turki memperingatkan bahwa aksi saling serang di kawasan Teluk turut mengganggu upaya diplomatik untuk mengakhiri perang tersebut.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyerukan penghentian segera serangan dan meminta kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dipulihkan.
Selat Hormuz Ikut Jadi Sorotan
Ketegangan kawasan semakin kompleks setelah Angkatan Laut Oman menyelamatkan 23 pelaut dari sebuah kapal tanker minyak yang mengalami masalah setelah serangan di Selat Hormuz.
Operasi pencarian masih dilakukan terhadap dua awak kapal yang dilaporkan hilang.
Peristiwa tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Bagi Yaman, perkembangan itu menciptakan situasi yang semakin rumit. Konflik lokal antara Houthi dan pemerintahan yang diakui secara internasional kini berlangsung dalam bayang-bayang rivalitas dan perang regional.
Pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar seberapa jauh Houthi mampu memperluas pengaruhnya di Yaman. Tekanan terhadap warga sipil, ancaman terhadap ekonomi Saudi, dan meluasnya ketegangan di kawasan membuat konflik Yaman berpotensi menjadi salah satu titik api paling berbahaya di Timur Tengah. (*)
Editor : Ali Sodiqin