Trump Sesumbar Kuasai Minyak Iran, Dunia Bersiap Hadapi Harga Melonjak

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 07:00 WIB
Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.
Trump membuka opsi AS tetap di Iran dan menguasai minyaknya seperti Venezuela, saat harga minyak dunia menembus USD 100 per barel. (Ilustrasi AI)

RADAR BANYUWANGI - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka opsi agar Washington tetap terlibat di Iran dan menguasai minyak negara tersebut jika konflik berkepanjangan. Pernyataan itu muncul ketika gejolak Timur Tengah kembali mengerek harga minyak hingga menembus USD 100 per barel.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut saat berada di Irlandia, Minggu (13/9/2026) waktu setempat. Ia datang untuk bertemu pejabat setempat sekaligus menghadiri turnamen golf Irish Open.

Menurut Trump, dirinya hanya akan menerima kesepakatan dengan Iran jika dianggap sebagai "kesepakatan yang tepat". Dia menolak kemungkinan menyetujui perjanjian yang dinilainya buruk bagi AS.

Di tengah konflik yang belum menemukan titik akhir, Trump juga kembali mengklaim bahwa Iran terus menghubungi Washington untuk membuka perundingan damai. Namun, klaim tersebut sebelumnya telah dibantah keras oleh pemerintah Iran.

Trump kemudian mengungkap opsi lain. Jika AS akhirnya tidak segera meninggalkan Iran, Washington disebut bisa mempertahankan keterlibatannya sekaligus menguasai minyak Iran.

"Pada akhirnya kita akan keluar (dari Iran), kecuali jika kita memutuskan untuk tetap bertahan dan menguasai minyaknya seperti di Venezuela," kata Trump.

Dia membandingkan opsi tersebut dengan kebijakan AS terhadap Venezuela. Trump bahkan mengklaim pendapatan yang diperoleh AS dari minyak Venezuela dapat membiayai perang berkali-kali lipat.

Pernyataan Trump muncul saat pasar minyak kembali menghadapi tekanan. Serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi, negara yang menjadi eksportir minyak terbesar dunia, memicu kekhawatiran pasokan global.

Para pedagang minyak memperkirakan harga kembali naik pada Senin (14/9). Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak bahkan telah menembus level USD 100 per barel.

Trump juga kembali menyampaikan target agar perang dengan Iran berakhir tahun ini. Ia memperkirakan konflik tersebut dapat berakhir tidak lama setelah pemilu sela AS pada November mendatang.

Meski demikian, Trump sebelumnya juga pernah menyebut perang dapat berakhir sesaat setelah pemilu sela. Belakangan, dia mengubah pernyataannya dengan mengatakan konflik bisa berakhir lebih cepat, bahkan sebelum pemilu November.

Jika perang berakhir, Trump memperkirakan harga bensin di AS akan turun tajam. "Anjlok drastis" menjadi gambaran yang digunakannya untuk menggambarkan potensi penurunan harga bahan bakar.

Berkaca dari Venezuela

Opsi penguasaan minyak Iran yang disampaikan Trump merujuk pada kesepakatan AS dengan Venezuela yang diumumkan pada Agustus lalu.

Pemerintahan Trump disebut telah mencapai kesepakatan dengan Caracas agar Washington membeli 20 persen minyak dari North American Blue Energy Partners, perusahaan swasta yang disebut sebagai produsen minyak terbesar kedua di Venezuela.

Minyak tersebut dibeli dengan harga sebesar biaya produksinya. Pasokan itu selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mengisi Cadangan Minyak Strategis AS.

Cadangan tersebut sebelumnya juga telah digunakan pemerintahan Trump maupun mantan Presiden AS Joe Biden untuk meredam lonjakan harga bahan bakar, termasuk ketika pasar energi terguncang akibat perang Iran dan invasi Rusia ke Ukraina.

Dengan pernyataan terbaru Trump, minyak kini kembali menjadi bagian penting dari kalkulasi Washington dalam menghadapi konflik Iran. Bagi pasar global, ancaman terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah berpotensi membuat harga energi semakin sulit diprediksi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Trump Iran Minyak Iran minyak Venezuela harga minyak perang iran