Kisah Daisy, PRT Filipina yang Mewarisi Rp14 Miliar Setelah Rawat Majikan 11 Tahun

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:02 WIB
Daisy Bucad-Eng, mantan PRT Filipina, mewarisi aset Rp14 miliar dari majikan asal Portugal setelah 11 tahun merawatnya. (Foto: Youtube @KMJS, GMA Public Affairs)
Daisy Bucad-Eng, mantan PRT Filipina, mewarisi aset Rp14 miliar dari majikan asal Portugal setelah 11 tahun merawatnya. (Foto: Youtube @KMJS, GMA Public Affairs)

RADAR BANYUWANGI - Bukan harta dari keluarga sendiri yang mengubah hidup Daisy Bucad-Eng. Mantan pekerja rumah tangga (PRT) asal Filipina itu justru mewarisi aset sedikitnya Rp14 miliar dari Marie, mantan majikannya asal Portugal, setelah merawat perempuan lanjut usia tersebut selama 11 tahun hingga akhir hayatnya.

Kisah Daisy menjadi perhatian setelah laporan iTacloban pada 26 Januari 2023 mengungkap warisan yang diterimanya. Aset tersebut antara lain sebuah apartemen senilai 26 juta peso Filipina, uang tunai sekitar 25 juta peso, serta saham di sejumlah perusahaan.

Jika hanya menghitung apartemen dan uang tunai, nilainya sudah mencapai 51 juta peso. Angka tersebut setara sekitar Rp14 miliar berdasarkan kurs pada Januari 2023.

Namun, di balik angka fantastis itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan yang sejak muda harus bekerja keras demi keluarganya.

Daisy menikah ketika berusia 16 tahun. Ia kemudian berjualan garam di Mountain Province, Filipina. Penghasilan dari usaha tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pilihan akhirnya jatuh pada pekerjaan sebagai PRT di luar negeri. Hong Kong menjadi tempat Daisy mencari penghidupan baru.

Perjalanan pertamanya sebagai pekerja migran tidak berjalan mulus. Daisy mengaku pernah mendapat perlakuan buruk dari majikan sebelumnya. Waktu istirahatnya bahkan hanya sekitar dua hingga tiga jam dalam sehari.

Situasi berubah ketika Daisy bekerja untuk Marie.

Alih-alih memperlakukannya sekadar sebagai pekerja, Marie justru menganggap Daisy seperti bagian dari keluarga. Kedekatan keduanya semakin kuat seiring waktu.

Marie kemudian memilih ikut Daisy pulang ke Filipina. Perempuan lanjut usia itu tidak ingin menghabiskan masa tuanya di panti jompo dan memilih tinggal bersama Daisy.

Selama 11 tahun, Daisy merawat Marie hingga perempuan tersebut meninggal dunia akibat penyakit serius pada 2002.

Setelah Marie meninggal, Daisy tidak langsung mengetahui bahwa kehidupannya akan berubah drastis. Beberapa waktu kemudian, ia menerima surat pemberitahuan yang menyebut namanya tercantum dalam surat wasiat.

Daisy sempat tidak percaya.

Namun, isi surat wasiat tersebut benar adanya. Marie meninggalkan sejumlah aset berharga untuk perempuan yang selama bertahun-tahun merawatnya.

Warisan itu kemudian tidak hanya dinikmati untuk kepentingan pribadi. Daisy menggunakan sebagian hartanya untuk membangun gedung lima lantai di Mountain Province.

Bangunan tersebut dilengkapi ruang usaha, penginapan, pusat kebugaran, serta sejumlah fasilitas lainnya. Daisy juga menyediakan ruang khusus untuk mengenang Marie.

Bagi Daisy, warisan tersebut bukan sekadar angka miliaran rupiah.

"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Marie. Warisan ini tidak hanya mengubah hidup saya, tetapi juga membantu keluarga saya," ujar Daisy.

Kisah tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana hubungan antara pekerja migran dan majikan dapat berkembang jauh melampaui hubungan kerja.

Kepada pekerja migran Filipina lainnya, Daisy berpesan agar tetap bekerja dengan baik, menghormati majikan, serta memegang teguh kesabaran, kerja keras, dan kejujuran.

Warisan Rp14 miliar memang mengubah kehidupan Daisy. Tetapi, sebelum menerima harta tersebut, ia lebih dulu mewarisi sesuatu yang tidak kalah penting: kepercayaan dari seseorang yang pernah dirawatnya dengan penuh ketulusan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Daisy Bucad-Eng warisan Rp14 miliar PRT Filipina majikan Hong Kong pekerja migran